Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 33


__ADS_3

Setelah percakapan singkat dengan Langit di rumah sakit, Hadi memutuskan pulang ke rumahnya bersama Indira dan Bulan.


Sepanjang perjalanan Hadi tak mengatakan apa pun kepada Indira. Dia hanya fokus mengemudi dengan berbagai macam pikiran memenuhi otaknya.


“Mas, kamu ngomong dong. Kamu dari tadi diemin aku terus loh,” ucap Indira. “Mas gak terpengaruh sama omongan anak itu kan?” tanyanya kemudian.


Masih tak menjawab, Hadi tetap fokus mengemudi mobilnya. Hal tersebut membuat Indira bingung sekaligus cemas. Dia melirik Bulan yang duduk di kursi penumpang belakang, mengkode agar gadis itu membujuk papanya.


“Pa, semua yang diomongin Kak Langit itu gak bener. Aku sama Mama gak pernah nyiksa Kak Matahari,” ucap Bulan.


“Kejadian hari ini tuh semuanya karena Kak Matahari yang mulai duluan. Dia hina aku dan membully aku di sekolah, Pa. Kak Matahari juga mau ngerebut Kak Venus dari aku,” sambung Bulan lagi.


“Denger itu, Mas. Kejadiannya tuh Matahari yang mulai duluan. Kami hanya berusaha melindungi diri dari serangan Matahari dan gak sengaja dorong dia sampai jatuh terus dia pingsan sendiri,” jelas Indira. “Jadi semuanya murni bukan kesalahan aku sama Bulan.”


Begitu keadaan di jalan sudah lengang Hadi menoleh ke arah Indira. Menatap istrinya itu dengan sorot yang sulit ditebak.


“Kamu itu seorang ibu, Indira. Seharusnya kamu berusaha mendamaikan Bulan dengan Matahari, bukan malah ikut menganiaya Matahari,” ucap Hadi dengan nada penuh penekanan.


Sejak dari tadi Hadi mati-matian berusaha mengendalikan emosinya supaya tidak sampai murka kepada Indira dan Bulan karena telah menyakiti Matahari.


“Jadi kamu nyalahin aku, Mas? Kamu lebih ngebela anakmu itu dari pada aku?”


Hadi menghela napas kasar. Dia kembali menatap Indira masih dengan sorot yang sulit diartikan.


“Kamu lihat sendiri tadi keadaan Matahari seperti apa? Dibandingkan luka yang kalian terima, jelas luka Matahari paling parah,” ucap Hadi. Dia menjeda sejenak perkataannya.


“Semua orang melihatnya dan ini pasti akan masuk berita. Ibu dan adik tiri menganiaya putri kandung Hadi Wijaya. Apa kamu gak mikir sampai ke sana sebelum bertindak menyakiti Matahari?” ucap Hadi sangat serius.


Setelah ini pasti akan beredar berita tentang penganiayaan terhadap Matahari yang dilakukan Indira dan Bulan. Dan hal tersebut akan memengaruhi terhadap bisnis dan perusahaannya.


“Pa, maaf. Ini semua gara-gara Bulan. Mama melakukan itu karena Mama mau melindungi Bulan. Papa jangan marah sama Mama, ya,” bujuk Bulan.


Hadi melihat Bulan melalui kaca spion depan lalu menghela napas panjang. Semarah apa pun seorang Hadi terhadap Indira dan Bulan, tetap saja ujung-ujungnya akan memaklumi perbuatan mereka dan memaafkannya.


Lain hal jika posisinya terbalik, Matahari yang melakukan kesalahan, sudah pasti Hadi akan marah besar dan sulit mengendalikan emosinya.


Bukan tanpa sebab, selama ini selain Hadi ingin Matahari terlahir sebagai anak laki-lakinya, Hadi juga sudah terpengaruh oleh racun yang disebarkan oleh Indira sehingga Hadi meragukan Matahari sebagai anak kandungnya.


Itu sebabnya sikap Hadi semakin bertambah dingin dan kaku terhadap Matahari, sekuat apa pun dia berusaha bersikap baik dan adil serta menepis pikiran buruknya. Tetap saja pada akhirnya Hadi merasa benci kepada Melati yang dianggap berkhianat lalu melampiaskan semuanya kepada Matahari.


***


“Tuan putri udah bangun?” ucap Venus kepada Matahari.

__ADS_1


Gadis itu baru saja bangun beberapa menit yang lalu dan sudah diperiksa oleh Dokter Kevin.


“Kak Venus ngapain di sini?” tanya Matahari.


Dia menatap Venus yang baru saja datang dengan membawa buah-buahan lalu disimpannya di atas nakas. Venus menarik kursi untuk duduk di samping ranjang Matahari.


“Jadi, Kak Venus yang bawa aku ke rumah sakit?” tanya Matahari lagi.


Sebelumnya Dokter Kevin menceritakan bahwa teman Matahari yang membawanya ke rumah sakit, tetapi dokter itu lupa menyebutkan namanya. Jadi, Matahari pikir Venus lah orang yang dimaksud Dokter Kevin karena secara kebetulan Venus juga orang pertama yang menemuinya sekarang.


Venus tersenyum. Dari pada menjawab pertanyaan Matahari, dia lebih memilih mengalihkan pembicaraan.


“Aku abis beli buah buat kamu. Aku kupasin ya,” ucap Venus.


Matahari mengangguk mengiakan. Dia melihat Venus mengupas apel lalu memotongnya menjadi potongan kecil.


“Kakak tau dari mana aku—“


“Nih, dimakan dulu buahnya,” ucap Venus memotong perkataan Matahari. “Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang gak penting. Kamu harus fokus pada diri kamu sendiri supaya cepat sehat,” sambungnya kemudian.


Matahari tersenyum lalu mengangguk patuh. Setelah itu dia memakan satu per satu potongan apel yang diberikan Venus kepadanya.


“Lain kali kalo ada apa-apa kamu harus kabari aku supaya hal seperti ini gak terjadi lagi ke depannya,” ucap Venus.


Matahari menghentikan aktivitasnya lalu menghela napas panjang. Dalam diam dia menatap Venus dengan sorot yang berca-kaca.


Dia memalingkan wajah ke arah lain dan kembali menghela napas panjang guna untuk menetralkan perasaannya. Supaya dia tidak menangis di hadapan Venus.


Matahari merindukan Venusnya. Venus yang selalu ada kapan pun saat dia membutuhkannya. Venus yang akan selalu menguatkan hatinya di kala mulai lelah dan ingin menyerah.


Venus meraih tangan Matahari lalu mengusapnya dengan lembut. Dia menatap gadis itu dalam-dalam.


Demi apa pun, Venus sangat menyesali keputusan dan kebodohannya yang sudah meninggalkan gadis seperti Matahari demi seorang Bulan.


Ya, Venus sedang dirundung rasa bosan ketika Bulan hadir. Namun, dia tidak menyangka gadis itu akan memanfaatkannya.


Bulan menjebak Venus. Gadis itu mencampurkan sesuatu ke dalam minuman Venus ketika mereka sedang menghadiri acara pesta ulang tahun teman Bulan yang juga merupakan anak dari rekan kerja Angkasa. Venus linglung dan tahu-tahu terbangun dalam keadaan tak berbusana bersama Bulan.


“Maafin aku, Sunny. Aku benar-benar menyesal putus sama kamu,” aku Venus.


“Aku terpaksa melakukannya karena aku dijebak sama Bulan,” ucap Venus lagi.


Kening Matahari mengernyit dalam mencerna maksud perkataan Venus yang tak dia mengerti. “ Maksudnya?”

__ADS_1


“Waktu itu aku dan Bulan menghadiri pesta ulang tahu anak dari rekan bisnis papa. Tapi tau-tau aku sudah ada di kamar Bulan dalam keadaan yang—“ Venus tak sanggup melanjutkan perkataannya.


Hati Matahari berdenyut sakit. Matanya mulai berkaca-kaca. Kedua tangan gadis itu mengepal erat mencengkeram kain selimut.


Matahari benar-benar terkejut dengan kenyataan ini. Dia tak menyangka Bulan akan bertindak sampai sejauh itu untuk mencapai tujuannya.


Dan jujur saja Matahari kecewa, sangat kecewa kepada Venus.


“Aku bersumpah, Sunny, aku gak melakukan itu dengan Bulan,” jelas Venus.


“Gimana bisa Kakak seyakin itu sedangkan saat itu Kakak dalam pengaruh obat,” lirih Matahari.


Venus menggelengkan kepalanya. “Nggak, Sunny. Aku sangat yakin aku gak melakukan itu. Bulan, anak itu sangat licik. Dia memanfaatkan aku untuk menyakiti kamu,” jelasnya.


“Dan dia berhasil melakukannya,” sahut Matahari dengan suara bergetar.


Venus kembali meraih tangan Matahari dan menggenggamnya lembut.


“Plis, percaya sama aku, Sunny. Tolong maafkan aku dan kasih aku kesempatan sekali lagi,” mohon Venus.


Dia menatap Matahari dalam-dalam. Berharap Matahari mau memaafkannya dan memberikan satu kali lagi kesempatan untuknya memperbaiki kesalahan.


“Semua udah berlalu, Kak. Lagian kalo benar Kakak merasa dijebak, Kakak bisa cerita sama aku waktu itu. Kita bisa bicarakan semua dan cari solusinya sama-sama.” Matahari menjeda sesaat perkataannya dengan menghela napas panjang.


“Tapi Kakak gak cerita sama aku. Kakak malah ngehindarin aku gitu aja,” ucap Matahari.


Dia membalas tatapan Venus. Binar matanya masih terlihat sama, begitu tenang dan meneduhkan. Meskipun di balik semua itu tersimpan rasa sakit yang tak banyak orang ketahui, termasuk Venus.


“Aku minta maaf, aku menyesal,” lirih Venus.


Matahari tersenyum miring. “ Sebenarnya apa yang terjadi kepada kita itu bukan murni kesalahan Bulan. Hubungan kita berakhir karena pilihan kakak sendiri,” ucap Matahari.


“Kakak merasa bosan sama aku dan hubungan kita. Kakak lebih memilih melampiaskan dengan menghadirkan orang baru dalam hubungan kita dari pada membicarakan semuanya sama aku dan mencari solusinya sama-sama.”


“Ya, aku akui aku merasa bosan dan jenuh. Tapi aku gak bermaksud untuk putus sama kamu, Sunny, karena aku cinta dan sayang sama kamu,” ucap Venus serius.


“Rasa bosan dalam setiap hubungan itu akan selalu ada. Tergantung dari kita mau memilih memperbaiki atau mengakhiri.” Matahari menghela napas panjang menjeda perkataannya. “Tapi di sini itu Kakak lebih memilih mengakhiri dengan cara menghadirkan orang baru dari pada memperbaiki.”


“So, semua udah jelas, cinta dan sayang aku ke kakak itu gak cukup buat kakak tetap bertahan sama aku.”


Venus menarik Matahari ke dalam pelukannya. Dia mendekap gadis itu erat dan tak mau melepaskannya.


“Aku mohon kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku gak mau kita bena-benar putus,” ucap Venus.

__ADS_1


Tanpa Matahari sadari, Langit terpaku di balik pintu melihatnya berpelukan dengan Venus. Niatnya untuk masuk dia urungkan. Langit memilih memutar arah dan pergi dari sana dengan perasaan kecewa dan sakit hati.


 


__ADS_2