Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 53


__ADS_3

"Dokter, tolong ...." Indira berteriak memanggil dokter ketika dia mendapati keadaan Hadi kembali memburuk.


Dokter dan perawat yang mendengar Indira langsung terburu-buru datang ke ruang rawat Hadi. Mereka langsung memeriksa kondisi Hadi yang tiba-tiba kolaps padahal sebelumnya sudah membaik.


"Dokter, tolong suami saya," ucap Indira.


"Ada apa ini, Bu?" tanya sang dokter.


"Saya juga tidak tau, Dok. Saya baru saja sampai di sini dan sudah mendapati suami saya kejang-kejang," jelas Indira.


Setelah memeriksa, dokter meminta suster untuk memindahkan Hadi ke UGD untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.


Indira yang melihat suaminya kembali dipindahkan ke UGD tak berhenti menangis cemas dan takut terjadi hal buruk kepada Hadi.


"Papa," gumam Bulan ketika dia berpapasan dengan dokter dan suster yang membawa Hadi. Gadis itu melihat mamanya sudah menangis lantas segera menghampirinya.


"Ma, ada apa? Papa mau dibawa ke mana lagi?" tanya Bulan cemas.


Indira tak mampu menjawab, dia memeluk Bulan sembari menangis. Tak berselang lama dokter menghampiri mereka untuk mengatakan hal penting.


"Dokter, gimana papa saya?" tanya Bulan.


"Apa yang terjadi kepada suami saya, Dok? Kenapa suami saya bisa kejang-kejang seperti tadi?" tanya Indira.


"Kami masih mencari tau penyebabnya, Bu, sebab sebelumnya kondisi pasien sudah membaik. Dan karena hal ini pasien harus melakukan transplantasi jantung secepatnya. Saya khawatir kondisi Pak Hadi akan semakin memburuk," jelas Dokter.


"Ya Tuhan," lirih Indira. "Dokter, saya mohon tolong suami saya. Selamatkan suami saya," mohonnya kepada sang dokter.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin." Setelah berbicara dengan Indira, dokter pun pergi.


Bulan memeluk mamanya. Sama halnya dengan Indira, Bulan pun sangat mencemaskan keadaan Hadi. Dia takut kehilangan cinta pertamanya.


Mereka tidak tahu satu jam sebelumnya ada seorang lelaki yang masuk ke ruangan Hadi. Lelaki itu diam-diam menyuntikkan sesuatu ke dalam botol infus Hadi, setelahnya dia menyeringai sembari menatap lelaki paruh baya yang tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.


"Ma, gimana ini? Gimana kalau kita nggak bisa menemukan donor jantung buat papa? Aku takut kehilangan Papa, Ma," ucap Bulan.


"Diam kamu. Jangan ngomong sembarangan. Papa kamu pasti akan baik-baik saja," ujar Indira. "Papa kamu jadi seperti ini juga gara-gara kamu, Bulan."


"Mama kok gitu sih ngomongnya. Aku minta maaf, aku nggak tau kalo akan seperti ini," lirih Bulan.


"Kemarin-kemarin pas kamu melakukan itu di mana otakmu di simpan, hah?" Indira menoyor kepala Bulan. Dia masih merasa kesal kepada putrinya itu atas kehamilannya.

__ADS_1


"Setelah ini siap-siap, kamu harus menggugurkan anak itu sebelum banyak orang tahu kamu hamil," ujar Indira.


Bulan memundurkan kakinya sembari memeluk perutnya yang masih rata. Kepalanya menggeleng sembari menatap Indira dengan sorot berkaca-kaca.


"Nggak. Aku nggak mau, Ma. Aku ... aku sayang sama anak ini," lirih Bulan.


"Dasar bodoh!" Indira kembali menggeplak kepala Bulan. "Kamu pikir semudah itu mengurus anak," geramnya.


Indira menghela napas kasar. Andai dia sedang tidak di rumah sakit saat ini, ingin rasanya Indira memaki anak gadisnya itu.


Amarah serta emosinya terpaksa dia tahan supaya tidak meledak saat itu juga. Dipandanginya wajah melas Bulan dengan sorot penuh kekecewaan membuat gadis itu langsung menunduk takut.


Suara dering ponsel milik Indira menyelamatkan Bulan. Indira mengambil ponselnya lalu berjalan menjauh dari Bulan untuk menjawab teleponnya.


***


Matahari meringis sembari memegangi kepalanya yang terasa nyeri. Ketika dia membuka matanya sesuatu yang pertama dia lihat adalah langit-langit UKS sekolahnya. Tentu saja Matahari sudah tidak asing lagi dengan suasana di sana karena dia sering kali menjadi salah satu penghuninya.


"Sayang, kamu udah bangun? Bagian mana yang sakit? Bilang sama aku," ucap Langit sembari menangkupkan tangannya di pipi Matahari.


Mengejapkan mata, baru saja sadar sudah diberondong pertanyaan oleh Langit. Seketika pusing dan sakit di kepalanya menghilang saat melihat ekspresi Langit ketika sedang cemas.


Langit menempelkan punggung tangannya di dahi Matahari juga dahinya untuk menyamakan suhu tubuh mereka. Dia benar-benar khawatir ketika mengetahui Matahari tiba-tiba pingsan tadi.


Dipandangi wajah Matahari yang nampak sedikit pucat dengan netra teduhnya. Langit menghela napas lega. Dia akan sangat merasa bersalah andai terjadi hal buruk kepada Matahari.


"Aku takut kamu kenapa-kenapa," ucap Langit.


Matahari terkekeh pelan mendengarnya.


"Kok kamu malah ketawa? Nggak ada yang lucu tau," gerutu Langit.


"Kamu lucu sih," jawab Matahari.


Sebelah alis Langit menaik menatap Matahari dengan bibir cemberut.


Matahari mengulas senyum tipis. "Sikap kamu tuh udah kaya ibu-ibu yang khawatir sama anaknya, tau nggak."


Lagi-lagi Matahari terkekeh pelan.


"Aku tuh khawatir sama kamu tau," jawab Langit.

__ADS_1


Tak disangka, seorang Langit yang selama ini dikenal sebagai cowok kalem dan cool, ternyata bisa memperlihatkan sisi lain dari dirinya di hadapan Matahari.


"Makasih ya, Langit," ucap Matahari sembari mengulas senyum manis. "Aku nggak papa, jadi kamu jangan khawatir sama aku," sambungnya lagi.


Langit mengangguk, diusapnya rambut hitam panjang Matahari dengan lembut dan penuh sayang.


"Lain kali kalo ada apa-apa bilang sama aku. Jangan sungkan membuat aku repot karena aku menyukainya," ucap Langit.


"Sunny."


Tiba-tiba saja Venus membuka pintu UKS membuat Langit dan Matahari terkejut. Mata Venus menyipit tajam ketika mendapati Langit sedang berduaan dengan Matahari.


Venus berjalan mendekati Matahari. Dia mendorong Langit agar menjauh dan memberikannya ruang untuk berbicara dengan Matahari.


"Aku denger dari temen-temen katanya kamu pingsan, jadi aku buru-buru ke sini," ucap Venus.


Matahari bisa melihat kecemasan di dalam sorot mata Venus sekarang.


"Kamu kenapa? Bagian mana yang sakit, hm?" tanya Venus sembari memegangi kepala belakang Matahari dengan lembut.


Langit melihat semuanya. Dadanya mendadak terasa panas apa lagi ketika menyadari tatapan Matahari terhadap Venus.


Refleks tangannya mengepal. Sekuat tenaga dia berusaha untuk menetralkan perasaannya.


"Aku cuma sedikit pusing. Sekarang udah nggak papa," ucap Matahari.


"Syukurlah," gumam Venus. Dia menarik Matahari lalu memeluknya.


Tentu saja Matahari terkejut dengan perlakuan Venus secara tiba-tiba itu. Dan Langit, dia semakin merasakan kepanasan.


Langit tak bisa menahannya lagi, dia menarik Venus agar menjauh dari Matahari.


"Menjauh dari Matahari!" tegas Langit.


"Lo apa-apaan sih," kesal Venus.


Dua lelaki itu saling beradu tatapan sinis dan tajam.


"Gue gak rela cewek gue disentuh cowok lain apa lagi sama lo!" Langit menegaskan statusnya dengan Matahari.


Venus melirik Matahari. "Maksud dia apa?" tanyanya kepada gadis itu.

__ADS_1


Matahari diam sesaat. Dia menatap Venus dan Langit secara bergantian lalu gadis itu menganggukkan kepalanya.


"Seperti yang Kakak dengar, aku sama Langit udah jadian," ucap Matahari.


__ADS_2