
“Dia pacar kamu?”
Matahari menoleh, melihat ke arah Langit yang sedang diobati oleh dokter dan dibantu perawat.
“Aduh, sakit. Pelan-pelan, Sus,” ucap Langit.
Matahari tersenyum tipis melihat Langit yang terus mengaduh kesakitan ketika suster mengobati bagian tubuhnya yang terluka.
Tak lama setelah itu Matahari melihat Dokter Kevin yang sedang berdiri di sampingnya tepat di ambang pintu ruang rawat Langit.
“Dia teman sekelas saya, Dok,” jawab Matahari kemudian.
Dokter Kevin tersenyum tipis lantas menganggukkan kepalanya. Entah apa yang dokter tampan itu pikirkan, tetapi dia seperti ingin mengatakan sesuatu kepada Matahari hanya saja tertahan dalam hati.
Setelah itu dia berbalik badan hendak pergi dari sana dan Matahari pun mengikutinya.
“Kalau kamu seperti ini terus saya yakin kondisi kesehatanmu secara perlahan akan membaik,” ucap Dokter Kevin.
Matahari mengernyitkan alisnya sembari mencerna maksud perkataan sang dokter.
“Maksudnya, Dok?”
Dokter Kevin menghentikan langkahnya, lalu melihat Matahari dengan tatapan hangat.
Dia tersenyum lantas kembali berbicara, “Saya sudah memeriksa rekapan kesehatan kamu dan hasilnya jauh lebih baik dari pada sebelumnya.”
Matahari diam sembari menatap Dokter Kevin, menunggunya kembali melanjutkan perkataannya.
“Selama sebulan ini tumor di dalam kepala kamu tidak membesar,” ungkap sang dokter sembari menatap Matahari dengan lembut. “Ini merupakan sebuah keajaiban, Matahari,” sambungnya lagi.
Matahari masih diam mencerna semua perkataan Dokter Kevin.
“Tapi saran saya, kamu harus secepatnya melakukan operasi.”
Dokter Kevin menatap Matahari serius. Dia benar-benar peduli pada pasiennya itu dan ingin agar Matahari segera sembuh dari penyakitnya.
Dokter Kevin mengenal Matahari bukan hanya sebatas dokter dan pasien. Mereka sudah saling mengenal sebelumnya karena Melati dan mamanya Dokter Kevin merupakan sahabat dekat.
Sebelum meninggal, Melati sempat menitipkan Matahari kepada mamanya Dokter Kevin. Itu sebabnya dia sangat peduli kepada Matahari dan selalu ingin menjaganya meskipun gadis itu selalu saja menolak apa pun bentuk bantuan yang dia tawarkan. Salah satunya biaya operasi tumor otak yang diderita Matahari.
“Apa dengan melakukannya aku benar-benar akan sembuh? Sedangkan Dokter tau tumor di kepalaku sudah memasuki stadium akhir,” ucap Matahari.
“Gak ada yang gak mungkin di dunia ini, Matahari. Termasuk kesembuhan kamu,” jawab Dokter Kevin serius.
Matahari menghela napas panjang. Dia ingin mengatakan sesuatu kepada Dokter Kevin, tetapi tidak jadi karena tiba-tiba saja Langit datang menghampirinya. Seketika itu percakapan antara Dokter Kevin dan Matahari pun berakhir.
__ADS_1
“Gue cari lo ke mana-mana, ternyata lo ada di sini,” ucap Langit.
“Udah selesai?” tanya Matahari kepada Langit yang langsung dibalas anggukkan ringan sembari menunjuk pada bagian yang sudah dibalut perban tepat di lengan kirinya.
“Lo sendiri gimana? Udah selesai jenguk sodara lo? Dia di ruangan mana? Gue juga mau jenguk sodara lo,” ucap Langit.
Matahari melirik Dokter Kevin sesaat sebelum dia menjawab pertanyaan Langit.
Pandangan Langit pun mengikuti Matahari. Dia sempat beradu tatap dengan sang dokter selama beberapa detik sebelum akhirnya Langit menyapa dengan menundukkan kepala tanda hormat seraya tersenyum ramah.
“Dia lagi istirahat sekarang. Lain kali aja kalo lo mau jenguk,” ucap Matahari.
Jelas gadis itu berbohong. Tujuannya datang ke rumah sakit bukan karena ingin menjenguk saudara atau siapa pun itu. Dia datang untuk dirinya sendiri.
“Dok, kalo gitu saya pamit mau pulang,” ucap Matahari kepada Dokter Kevin.
“Hati-hati,” jawab Dokter Kevin.
Matahari menarik Langit untuk segera pergi dari sana. Dia tidak ingin sampai Langit mengetahui kalau dirinya berbohong.
Matahari menghentikan taksi untuk mengantarkan Langit pulang ke rumahnya.
“Mending sekarang lo pulang, terus istirahat,” ucap Matahari sembari mengkode Langit untuk segera naik ke taksi.
“Lo?”
Langit menghela napas panjang. “Kita pulang barengan aja bisa kan? Sebentar lagi gelap, gue takut lo kenapa-napa.”
“Gue bukan anak SD. Bisa kali pulang sendirian. Lagian sekarang baru maghrib, masih banyak orang lalu lalang di jalanan. Kalo ada apa-apa gue bisa langsung teriak,” jawab Matahari.
“Gak. Gue gak rela,” ucap Langit.
Sebelum Matahari kembali berbicara, Langit mendorong Matahari untuk masuk ke taksi. Tak peduli walau gadis itu awalnya protes dan menolak. Pada akhirnya Matahari pasrah pulang bareng Langit.
***
“Kak Langit!”
Seorang gadis belia berlari kecil menghampiri Langit yang baru saja akan masuk ke apartemennya.
Kedua alis Langit mengernyit menatap gadis itu. “Ngapain lo di sini?” tanyanya.
“Aku nungguin Kak Langit pulang,” ucap Nina.
Dia melihat wajah Langit yang lebam lalu melihat tangan yang memakai perban.
__ADS_1
“Wajah sama tangan Kak Langit kenapa bisa luka?” Gadis itu mulai serius dan terlihat khawatir.
Berbeda dengan sikap Langit yang biasa-biasa saja bahkan terkesan risi dengan kehadiran Nina di apartemennya.
“Kak Langit abis berantem?” tanya Nina.
“Hm.”
Langit membuka pintu lalu masuk ke apartemennya. Dan tanpa dipersilakan Nina pun langsung mengikutinya masuk.
“Kenapa, Kak?” tanya Nina lagi.
Langit tak menjawab. Dia terus berjalan hingga ke ruang tengah lalu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Dan Nina masih terus mengikutinya.
“Lo mau apa ke sini? Gak takut dimarahin lo ke apartemen gue malem-malem gini?” tanya Langit. “Kalau gak ada yang penting mending lo balik sekarang.”
“Aku nunggu Kakak dari tadi siang tau.” Nina cemberut. “Aku juga mau nginep di sini.”
Kedua bola mata Langit membulat sempurna. Refleks dia langsung menegapkan tubuhnya masih dalam posisi duduk.
“Gak. Gak bisa!” Dengan tegas Langit menolak keinginan Nina.
“Kenapa gak boleh? Aku kan kangen sama Kakak. Siapa suruh Kakak gak pernah pulang ke rumah,” ucap Nina.
Langit berdecak lantas memalingkan wajahnya ke arah lain. Sedetik kemudian Langit kembali menatap Nina.
“Gue gak setuju lo nginep di sini. Udah sana mending lo balik sekarang,” ucap Langit. Namun, Nina tidak menghiraukannya.
“Gue bakal telepon orang rumah supaya jemput lo di sini,” ucap Langit lagi sembari menghubungi seseorang.
Dengan cekatan Nina langsung merebut ponsel Langit dan mematikan sambungan telepon sebelum benar-benar ada yang menjawab dari seberang sana.
“Nina! Balikin ponsel gue!” teriak Langit.
“Gak. Gak mau!”
Langit berdecak kesal. Dia mengusap wajahnya dengan kasar.
Entah mimpi apa dia semalam sehingga sore ini dia harus kedatangan tamu tak diundang ke apartemennya.
“Kak Langit pasti belum makan. Tunggu sebentar, aku masak dulu buat kakak.”
Langit beranjak dari duduknya lalu berjalan menyusul Nina ke dapur. Dia menghela napas kasar melihat punggung mungil gadis itu yang sedang sibuk dengan peralatan masaknya.
"Dasar gadis nakal," ucap Langit seraya mengacak-acak puncak kepala Nina dengan gemas.
__ADS_1
***
Ada yang tau siapa Nina?