Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 28


__ADS_3

Matahari mengejapkan matanya. Secara perlahan kesadarannya pun mulai terkumpul semuanya.


Hal pertama yang dia lihat setelah membuka matanya adalah langit-langit UKS. Sesuatu yang sudah tak asing lagi karena ini bukan pertama kalinya dia menjadi penghuni ruang kesehatan sekolahnya itu.


Untuk sesaat Matahari tak ingin bangun. Dia masih ingin tetap berbaring untuk mengistirahatkan diri sebentar.


Gadis itu menghela napas panjang dengan pandangan terus tertuju pada langit-langit UKS.


“Kamu udah bangun?” tanya Venus.


Matahari menoleh ke arah sumber suara. Dia terkejut mendapati Venus ada di UKS karena Matahari pikir dia hanya sendirian saja di sana.


“Kak Venus,” gumam Matahari. Dia langsung beranjak bangun lalu duduk di atas ranjang sembari melihat Venus.


Venus tersenyum manis lalu melangkah mendekati Matahari. Setelah itu dia duduk di kursi yang sudah tersedia di sana.


“Aku baru aja dari kantin beli roti buat kamu. Di makan ya,” ucap Venus sembari memberikan kantung kresek berwarna hitam kepada Matahari.


“Kak Venus ngapain di sini?”


“Nemenin kamu.”


Venus tersenyum manis, satu tangannya terangkat mengusap anak rambut di dahi Matahari dan merapikannya.


“Masih sakit? Apa perlu ke rumah sakit aja biar ditangani dengan benar?” tanya Venus kemudian.


Matahari membisu sembari menatap Venus dengan binar teduhnya.


Perlakuan manis dan lembut ini dulunya selalu Matahari dapatkan dari Venus. Rasa aman dan nyaman yang membuat Matahari terlena hingga merasa tak ingin kehilangan semuanya. Venus dan cintanya.


Namun sekarang semua sudah berlalu sejak Venus memutuskan untuk putus dengannya. Bahkan Venus tak segan menjalin hubungan baru dengan gadis lain di saat dia masih terikat dengannya.


Matahari menghela napas panjang. Dia juga memalingkan wajahnya ke samping untuk menghindari tatapan Venus.


“Sekarang jam berapa?” tanya Matahari, mengalihkan pembicaraan.


“Bentar lagi istirahat,” jawab Venus.


Dan baru saja Venus selesai berbicara bertepatan dengan bel istirahat berdentang.


Matahari beranjak turun dari ranjang. Dia ingin pergi dari UKS dan kembali ke kelasnya.


“Mau ke mana?”


“Kelas.”


Venus menghela napas panjang. Dia menahan pergelangan tangan Matahari lalu menariknya hingga gadis itu masuk ke dalam dekapan Venus.


Perlakuan secara tiba-tiba itu membuat Matahari terkejut. Dia meronta berusaha melepaskan diri, namun Venus malah semakin mengeratkan pelukannya.


“Kak lepasin. Nanti ada orang liat kita jadi salah paham,” ucap Matahari.


“Aku gak mau.”


“Kak, plis,” mohon Matahari.


Venus tak menghiraukannya. Dia tetap memeluk Matahari hingga membuat gadis itu mau tidak mau membiarkan Venus melakukannya.


“Aku kangen kamu, Sunny,” ucap Venus sembari mengeratkan pelukannya.


Matahari membisu, satu tangannya refleks mengepal singkat.


“Aku mau kita seperti dulu. Aku mau kita kembali kaya dulu,” ucap Venus.

__ADS_1


Matahari mendorong tubuh Venus hingga pelukannya terlepas. Dia menatap Venus dalam-dalam selama beberapa detik sembari mencoba mencari tahu isi pikirannya.


Tubuh Matahari masih sangat lemas untuk berdebat. Yang dia inginkan sekarang hanyalah ketenangan. Namun, sikap Venus sekarang justru malah mengganggunya.


“Mau Kak Venus apa? Kakak sengaja mau nyakitin aku sama Bulan?”


Matahari menatap Venus, merasa tak habis pikir dengan sikap mantan kekasihnya itu. Dia meminta kembali di saat sedang menjalin hubungan dengan gadis lain.


Brengsek!


“Aku akan putusin Bulan sekarang. Lagi pula aku gak cinta sama dia. Aku hanya cinta sama kamu, Sunny,” ungkap Venus.


Matahari memalingkan wajahnya ke samping lantas tersenyum miring.


“Gak cinta tapi sampe selingkuh dari aku?” Perkataan Matahari dijeda selama beberapa detik untuk menghela napas. “Jangan lupa, Kakak sendiri yang mau putus dari aku walau aku udah coba buat pertahanan hubungan kita.”


“Kak, aku lelah. Bisa biarin aku pergi sekarang?” Matahari menatap Venus dengan binar sendu.


Venus menggelengkan kepalanya. Dia tak ingin Matahari pergi. Andaipun harus pergi, itu harus dilakukan bersama-sama.


Venus menyesal. Ternyata Matahari satu-satunya gadis yang dia cintai dan inginkan selama ini, bukan gadis lain atau pun Bulan. Venus ingin Mataharinya kembali lagi kepadanya.


“Aku belum terlambat kan, Sunny? Aku masih punya kesempatan buat memperbaiki semuanya kan?” tanya Venus.


Dia melangkah maju lalu kembali memeluk Matahari.


“Kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi,” ucap Venus.


“Aku gak bisa tanpa kamu, Sunny. Ternyata hanya kamu satu-satunya yang ada di hati aku,” aku Venus dengan suara lirih benar-benar menyuarakan isi hatinya.


BRAK!


Seseorang membuka pintu UKS dengan kasar hingga membuat Matahari dan Venus terkejut. Lebih terkejut lagi ketika mereka tahu siapa pelakunya.


PLAK!


Satu tamparan keras mendarat mulus di pipi kiri Matahari hingga gadis itu memaling ke kanan.


“Itu hukuman buat cewek yang suka deketin pacar orang,” ucap Bulan kepada Matahari.


“Bulan!” bentak Venus.


Dia langsung mendekati Matahari, memastikan gadis itu tidak terluka parah.


“Sunny, kamu gak papa?”


Setelah bertanya demikian Venus langsung menatap Bulan tajam.


“Apa? Kak Venus mau belain dia?” Bulan menatap Venus dengan matanya yang memerah, sebentar lagi air matanya akan meleleh.


“Kalian udah putus, sekarang yang pacar Kak Venus itu aku bukan Kak Matahari. Gak seharusnya kalian pelukan kaya tadi,” teriak Bulan.


Satu per satu murid yang sedang beristirahat mulai berkerumun di UKS ingin menyaksikan keributan yang terjadi antara Bulan dan Matahari. Bahkan beberapa dari mereka mengabadikan momen tersebut menggunakan kamera ponselnya.


Bulan melihat Matahari yang masih menangkupkan tangan di pipi kirinya.


“Aku peringatin Kakak, jangan pernah godain Kak Venus lagi karena sekarang dia pacar aku! Jangan jadi cewek murahan. Kecuali kalau Kakak mau disamain sama kelakuan mendiang mamanya Kak Matahari yang sama murahannya sama Kak Matahari.”


PLAK!


PLAK!


Dua tamparan sangat keras kini mendarat dengan mulus di pipi kiri dan kanan Bulan hingga menyisakan bekas merah.

__ADS_1


“Jaga ucapan lo!” tegas Matahari sembari menatap Bulan dengan tajam.


“Harusnya lo ngaca dulu sebelum bicara! Jelas-jelas lo dan nyokap lo yang murahan,” ucap Matahari sinis.


“Satunya perebut suami orang, satunya lagi perebut pacar orang. Bener-bener, ibu dan anak sama-sama suka ngerebut milik orang lain!” sindir Matahari, sarkas.


Setelah mengucapkan semua itu Matahari langsung menatap Venus.


“Urus cewek lo, Kak. Jangan sampe bikin gue lebih emosi dari ini. Lo tau kan, gue bisa ngelakuin apa aja kalo gue udah emosi dan benci sama seseorang,” ucap Matahari kepada Venus.


Dia menatap Bulan yang sedang menangis mencari pembenaran dan pembelaan dari orang-orang. Namun Matahari tak peduli.


Orang yang gak buta pasti bisa melihat dengan benar. Mereka pasti bisa membedakan antara sampah dengan bunga.


Andaipun mereka tak bisa membedakannya, Matahari tak peduli dan tak mau ambil pusing.


Tatapan aneh kini tertuju pada Venus selepas Matahari pergi, namun dia tak memedulikannya.


“Apa-apaain ini? Kenapa kalian berkerumun di sini, heh?! Bubar!” teriak Jasmin yang baru saja datang bersama Langit.


Murid-murid yang berkerumun pun satu per satu membubarkan diri dengan komentar yang berbeda-beda.


Sebelum permasalahannya melebar ke mana-mana, Venus segera menarik Bulan pergi dari sana. Dia bahkan tak menghiraukan teriakan Jasmin yang memanggilnya.


Sementara Langit, dia langsung mencari Matahari begitu mengetahui apa yang telah terjadi kepadanya.


***


“Sakit, Kak. Lepasin tangan aku,” ucap Bulan sembari mencoba melepaskan diri dari Venus.


Begitu sampai di taman belakang sekolah Venus langsung menghempaskan tangan Bulan dengan kasar.


“Puas lo udah nyakitin Matahari, hah?!”


Bulan yang sedang memegangi pergelangan tangannya yang memerah karena Venus terlalu kuat mencengkeramnya langsung mendongak menatap Venus dengan sorot berkaca-kaca.


“Apaan sih, Kak? Kenapa Kakak lebih belain Kak Marahari dari pada aku? Jelas-jelas di sini aku yang tersakiti. Kak Matahari bukan hanya nampar aku, dia juga udah hina aku sama mamaku,” ujar Bulan.


“Diam!” bentak Venus.


Bulan terperanjat kaget mendengar suara bentakan Venus. Dia tidak menyangka akan diperlakukan seperti ini oleh kekasihnya sendiri.


Setetes cairan bening lolos dari matanya. “Kakak bentak aku?”


“Jangan bilang Kak Venus nyesel pacaran sama aku. Jangan bilang Kak Venus mau balikan sama Kak Matahari,” ucap Bulan dengan suara bergetar.


Diamnya Venus membuat hati Bulan terluka karena itu menandakan semua tebakannya benar.


“Kakak udah janji sama aku kalo kakak gak bakal tinggalin aku. Tapi kenapa sikap kakak sekarang berubah? Ini pasti karena Kak Matahari godain Kakak supaya dia bisa balikan sama Kakak,” ucap Bulan masih bernada bergetar.


“Stop jelekin Matahari di depan aku, Bulan,” sahut Venus sembari menatap Bulan serius.


“Ya, aku memang pernah janji gak akan ninggalin kamu. Tapi itu kemarin, sebelum aku tau semua kebohongan kamu,” ucap Venus lagi.


“Aku gak ngerti maksud Kak Venus apa. Aku bohong apa sama Kakak?” tanya Bulan.


Venus menghela napas kasar. “Beneran kamu gak ngerti yang aku maksud?”


Bulan mengangguk polos. “Aku beneran gak ngerti, aku bohong apa sama Kakak?” ucapnya dengan yakin.


Venus tersenyum miring. Binar matanya menyiratkan rasa kekecewaan terhadap Bulan.


“Sedari awal kamu gak jujur kalo kamu sodaraan sama Matahari, meskipun hanya sodara tiri. Tapi hal yang paling nggak bisa aku maafin adalah kebohongan kamu malam itu, Bulan.”

__ADS_1


 


__ADS_2