Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 38


__ADS_3

“Lo yakin nolak Kak Venus? Bukannya lo masih ada rasa ke dia?” tanya Jasmin.


Matahari diam sejenak lalu dia menghela napas panjang.


“Setelah tau alasan Kak Venus ninggalin gue, gue ngerasa di antara kita memang perlu waktu untuk nenangin diri dan hati buat introspeksi diri. Lagian kalo kita ditakdirkan berjodoh gue yakin suatu saat kita pasti bakal bersatu lagi dengan versi yang jauh lebih baik dari pada sekarang,” jelas Matahari.


“Lo mau gue doain supaya lo sama Kak Venus berjodoh atau nggak nih?” tanya Jasmin sembari menaik turunkan alisnya.


Matahari terkekeh pelan lantas menggelengkan kepalanya.


“Doakan yang terbaik aja,” jawabnya diiringi senyum manis.


Matahari berjalan lebih dulu hendak meninggalkan kelas kemudian disusul oleh Jasmin. Mereka berjalan beriringan sembari mengobrol banyak hal. Sesekali tawa kecil terdengar mengiringi cerita mereka berdua sepanjang melewati koridor sekolah.


“Matahari,” panggil Langit.


Yang dipanggil namanya pun melihat ke arah sumber suara. Dari arah parkiran motor Langit berjalan mendekati Matahari.


“Loh, lo belum balik, Lang?” tanya Matahari.


“Gue nungguin lo,” sahut Langit.


“Hah? Ngapain?”


Matahari menoleh ke arah Jasmin sekilas. Dia merasa tidak enak hati dengan sahabatnya itu setelah mengetahui langsung Jasmin menyimpan rasa untuk Langit.


“Pulang bareng gue!” ajak Langit yang terkesan memaksa.

__ADS_1


Lagi-lagi Matahari melirik Jasmin. Dia semakin merasa tidak enak hati kepada sahabatnya itu.


“Langit, gue ....” Matahari memutar otak mencari alasan supaya Langit mau mengantar Jasmin dari pada dirinya. “Bentar lagi sopir gue jemput. Mending lo anterin Jasmin aja deh. Kasian dia gak ada yang jemput hari ini,” ucapnya kemudian.


Matahari kembali menatap Jasmin sembari mengedipkan matanya memberi kode yang langsung bisa dimengerti oleh Jasmin.


“I-iya, Langit. Gue nebeng sama lo ya, plis. Sekali ini aja kok,” mohon Jasmin sembari mengulas senyum termanisnya.


“Tapi gue—“


“Udah ya, gue balik duluan. Sopir gue udah nunggu di depan. Bye!”


Matahari segera pergi tanpa menunggu perkataan Langit terlebih dulu. Dia berjalan cepat meninggalkan Jasmin dan Langit berdua.


Sementara itu Langit masih bergeming menatap kepergian Matahari yang semakin menjauh lalu hilang dari pandangannya dengan tatapan kecewa.


“Yah, kok malah ujan sih?”


Padahal cuaca hari ini sangat cerah. Tak disangka langit mendadak mendung lalu tak berselang lama rintik air pun turun langsung deras.


Bukan hanya Matahari, bahkan hampir semua penghuni bumi ibu kota pasti tidak menduga akan turun hujan hari ini. Sehingga banyak di antara mereka ketar-ketir karena tak memiliki persiapan membawa jas hujan atau pun payung.


“Sial, mana gue gak bawa jas hujan lagi,” gerutu Matahari. Dia kembali mendongak untuk melihat langit. “Ujannya bakal lama gak ya?” gumamnya lagi.


“Tau gini tadi gue minta Mang Ujang jemput. Kayaknya ini gara-gara gue bohong sama Langit tadi,” gumam Matahari.


Matahari mengambil ponsel di dalam tasnya berniat untuk menghubungi sopirnya. Namun sialnya, ponsel Matahari sudah dalam keadaan mati.

__ADS_1


“Haisss, bisa-bisanya gue lupa ngecas hp semalam,” gerutu gadis itu merutuki kecerobohan dirinya sendiri.


Dia menghela napas panjang. Sekarang dia pasrah pada semesta yang menjebaknya di tengah hujan sendirian.


“Semoga ujannya nggak lama,” ucap Matahari.


Semakin deras hujan turun ke bumi semakin sepi di sekitar halte bus. Tak ada lalu lalang orang yang melakukan aktivitas, bahkan kendaraan yang melintas pun dapat dihitung jari.


Mungkin mereka memilih berteduh, menunggu hingga langit kembali cerah dan tetesan airnya surut.


Matahari merasakan angin yang sangat dingin menerpa tubuhnya. Dia menggosok telapak tangannya lalu meniupnya untuk meredakan rasa dingin.


Gadis itu menghela napas panjang. Dia kembali mendongak menatap langit yang masih berselimut awan hitam. Bahkan meskipun hari masih sore tetapi terlihat sangat gelap.


Tak berselang lama seorang laki-laki menutupi kepalanya dengan jaket berlari menuju ke arahnya. Seseorang dengan pakaian yang sama dengan seragam yang Matahari pakai, sepertinya dia juga terjebak hujan saat akan pulang dari sekolah.


“Langit,”


“Matahari.”


Sepasang remaja itu memanggil satu sama lain secara bersamaan. Setelah itu mereka pun sama-sama diam sembari saling menatap selama beberapa detik.


Beberapa detik kemudian keduanya saling memalingkan wajah lalu sama-sama tersenyum.


“Lo kok di sini? Bukannya lo nganterin Jasmin?”


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2