Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 44


__ADS_3

"Jangan percaya sama apa yang dia katakan, Ma, Pa. Dia berbohong," ucap Nina.


Gadis itu melangkahkan kakinya mendekati Angkasa dan Merry. Jelas saja perkataan Nina membuat Hadi dan Indira tersinggung, begitu juga dengan Bulan.


Bulan menggertakkan gigi, diam-diam tangannya mengepal. Sejak awal Bulan sangat membenci adik dari lelaki yang dia cintai dan hari ini dia semakin membenci Nina karena sudah mempersulit jalannya.


"Kalau bukan anaknya Kak Venus, terus kalian pikir aku bisa hamil dengan sendirinya, begitu?" ujar Bulan sembari menatap Nina tajam.


Nina memutar bola matanya, malas.


"Nina, bersikaplah yang sopan. Papa gak pernah ngajarin kamu kaya gini," tegur Angkasa sembari menatap putrinya itu penuh peringatan.


Nina menghela napas panjang. Dia duduk di sofa tepat di samping orang tuanya dengan kedua tangan dia lipat di depan dad4.


"Maaf kalau aku bersikap tidak sopan. Tapi perlu kalian tau, Kak Venus gak mungkin melakukan hal kotor seperti yang Kak Bulan tuduhkan," ucap Nina dengan sangat yakin.


"Apa maksudmu? Jadi kalian pikir Bulan berbohong, begitu? Padahal jelas-jelas di sini Bulan adalah korban dari perbuatan anak kalian," ujar Indira berapi-api.


Dia sangat emosi karena merasa telah dihina oleh keluarga Angkasa.


"Sabar dulu, Jeng. Kita bisa bicarakan ini baik-baik dan cari solusi terbaik," ucap Merry menenangkan.


"Dek, coba kamu hubungi kakakmu. Suruh dia pulang secepatnya," titah Angkasa kepada Nina.


Nina langsung menuruti perintah papanya untuk menghubungi Venus, meminta kakaknya itu untuk segera pulang ke rumah.


"Aku sudah hubungi Kak Venus. Dia sedang dalam perjalanan ke sini," ucap Nina beberapa saat setelah dia selesai melakukan 0anggilan telepon dengan kakaknya.


Nina kembali duduk di tempatnya semula. Pandangannya kini terfokus pada satu objek yaitu Bulan.


Suasana di ruang keluarga kediaman Angkasa pun hening dalam beberapa saat. Mereka semua sibuk dengan pikiran dan kegelisahan masing-masing.


Tak berselang lama Venus pulang. Dia berjalan tergesa memasuki rumah. Pandangannya langsung tertuju pada Bulan dan orang tuanya yang sudah menunggunya.


Melihat kedatangan Venus, Angkasa pun beranjak dari duduknya. Ditatapnya putra sulunya itu dengan sorot tajam dan penuh kekecewaan.


PLAK!

__ADS_1


Satu tamparan sangat keras berhasil mendarat dengan mulus di pipi Venus hingga membuat pemuda itu meringis kesakitan sekaligus terkejut.


"Pa?" Venus menggumam sembari menatap papanya. "Kenapa Papa menamparku? Apa salahku?" tanya Venus.


"Kamu tanya apa salahmu?" Angkasa begitu murka.


Merry yang melihat semua itu hanya meringis tetapi tak berani untuk menahan Angkasa untuk menampar putranya.


"Kamu lihat, mereka datang untuk meminta pertanggungjawaban kamu, Venus. Kamu sudah menghamili putri mereka!" ujar Angkasa berapi-api.


Venus melihat ke arah yang ditunjuk oleh papanya. Pandangannya langsung terkunci pada satu objek yaitu Bulan yang juga sedang menatapnya dengan mata yang sembab. Gadis itu langsung menunduk bersikap seakan-akan menjadi korban.


"Kak Venus, maafin aku. Aku terpaksa mengatakan semuanya kepada orang tuaku karena aku gak mau menanggung anak ini sendirian," ucap Bulan lirih.


"Kamu telah menodai putri kami yang begitu polos dan lugu, Nak Venus. Kamu harus bertanggungjawab," ucap Indira.


"Papa percaya?" tanya Venus kepada Angkasa. "Kalian percaya aku menghamili Bulan?" tanyanya sekali lagi kepada semua orang yang ada di sana.


Melihat situasi yang mulai tegang, Mery pun segera menghampiri suaminya. Dia berusaha menenangkan Angkasa yang terlihat sudah sangat emosi kepada Venus.


"Pa, sudah. Biarkan Venus duduk dulu," ucap Mery kepada Angkasa lalu dia melihat Venus. "Venus, ayo duduk dulu. Kamu jelasin semua ini kepada kami."


"Venus, Papa gak pernah mengajarkan kamu berbohong. Coba tolong jelaskan kepada kami semua apa benar kamu melakukannya? Apa benar kamu menghamili Bulan?" tanya Angkasa.


"Gak mungkin lah, Pa. Kak Venus gak mungkin melakukan semua itu," ucap Nina.


"Diam kamu, Nina. Papa sedang bicara dengan kakakmu!" tegur Angkasa.


Nina menghela napas kasar. Dia langsung membungkam mulutnya menahan kekesalan.


"Nak Venus, kami tidak akan memperpanjang masalah ini asal Nak Venus mau bertanggungjawab kepada Bulan. Kalian harus menikah karena saat ini Bulan sedang mengandung anak Nak Venus," ucap Indira kepada Venus.


"Tapi mereka masih terlalu muda untuk menikah, Jeng," sahut Merry.


"Lalu harus bagaimana? Kamu ingin putriku menanggung semuanya sendirian?" ujar Indira, kesal.


"Nak Venus, jujur saja saya tidak tau harus mengatakan apa. Hati saya hancur ketika mengetahui semua ini. Saya sangat marah dan saya kecewa." Hadi menjeda sesaat perkataannya dengan menghela napas panjang. "Saya merasa tak habis pikir. Apa yang kalian pikirkan hingga berbuat sejauh ini? Apa kalian sadar? Masa depan kalian sedang dipertaruhkan sekarang."

__ADS_1


Sekali lagi Venus menatap Bulan hingga mata mereka saling bertubrukan dan terkunci selama beberapa detik hingga akhirnya Venus memutus kontak mata dengan memalingkan pandangannya ke arah lain.


"Venus, Jawab! Apa benar kamu menghamili Bulan?" tanya Angkasa sekali lagi.


"Pa, Ma, aku gak melakukan itu. Aku gak pernah menyentuh Bulan. Percaya sama aku, Ma, Pa," ucap Venus.


"Kak Venus. Kakak tega gak mau ngakuin anak ini?" Bulan berbicara dengan suara bergetar. Air matanya lolos meleleh membanjiri wajahnya.


"Apa Kakak lupa kejadian malam itu? Kak Venus sudah merenggutnya malam saat pesta ulang tahun anak dari rekan bisnis orang tua kita. Kak Venus gak mungkin lupa itu, kan," ucap Bulan lagi.


"Kamu menjebakku, Bulan. Kamu mencampurkan sesuatu ke dalam minumanku hingga membuat aku tak sadar malam itu," sahut Venus.


Kedua orangtua mereka sama-sama terkejut mendengar perkataan Venus. Sontak saja mereka langsung menatap Bulan, meminta penjelasan dari gadis itu.


"A-aku gak ngerti maksud Kak Venus apa? Gimana mungkin aku akan berbuat seperti itu? Bukankah itu sama saja aku mempermalukan diriku sendiri?" Bulan berusaha menyangkal dan membela diri dari tuduhan Venus.


Dia berusaha meyakinkan semua orang bahwa dirinya benar-benar mengandung anaknya Venus. Bulan ingin agar lelaki itu bertanggungjawab kepadanya.


"Sejujurnya aku sangat malas membahas hal ini. Tadinya aku juga ingin merahasiakan semua ini dari orang tua kita karena aku gak mau kamu menanggung malu atas perbuatanmu sendiri, Bulan. Tapi karena kamu malah seperti ini, aku terpaksa harus jujur," ucap Venus serius sembari menatap Bulan intens.


"Apa maksud kamu, Venus?" tanya Mery.


Venus tak menjawab, dia merogoh ponsel dari dalam saku celananya lalu menyalakan benda pipih itu. Beberapa saat kemudian Venus menyimpan ponselnya di atas meja dalam keadaan menyala dan sedang memutar sebuah Video berdurasi kurang lebih sekita lima menitan.


"Silakan lihat video ini dan kalian bisa simpulkan sendiri apa yang terjadi di sini," ucap Venus.


Mereka semua pun langsung melihat video yang Venus putar di ponselnya. Setalah melihat itu seketika pandangan mereka mengarah kepada Bulan hingga membuat gadis itu sangat gugup.


"Apa ini, Bulan?" tanya Hadi.


"Pa, ini bukan aku. Video ini bohongan, ini fitnah," ucap Bulan.


"Tunggu sebentar, aku punya satu lagi."


Venus mengambil ponselnya lalu memutar sebuah rekaman suara seorang gadis dengan seorang lelaki. Dan suara itu adalah milik Bulan.


'Aku udah tes dan hasilnya positif. Aku hamil, Kak. Aku hamil anak kakak,' ucap Bulan dalam rekaman suara di ponsel Venus.

__ADS_1


'Kak Dion harus tanggungjawab, Kak. Aku gak mau menanggung semua ini sendirian.'


Semuanya sudah jelas. Dari video dan rekaman yang berhasil Venus dapatkan sudah cukup membuktikan bahwa apa yang terjadi kepada Bulan bukan perbuatan Venus.


__ADS_2