Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 58


__ADS_3

"Jas, sorry." Langit menghela napas panjang, menatap Jasmin serius. "Gue tau lo kecewa, tapi gue suka sama Matahari jauh lebih lama dari rasa suka lo ke gue," ucapnya kemudian.


Jasmin mencengkeram ujung roknya seiring rasa sakit yang mengiris tepat di hatinya. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca menahan tangisnya.


"Apa sih hebatnya Matahari? Apa yang lebih dia punya sedang gue nggak hingga lo lebih tertarik sama Matahari dibanding gue?" tanya Jasmin serius.


Langit menggelengkan kepalanya. "Lo gak kurang apa pun, Jasmin. Gue aja yang terlanjur mengukir nama Matahari di dalam hati gue," jelasnya.


Ada jeda selama beberapa detik hingga Langit kembali berbicara kepada Jasmin. "Gue suka sama dia dan karena itu juga yang buat gue gak bisa buka hati untuk siapapun, termasuk lo. Gue cuma mau Matahari karena hanya dia yang gue cinta."


Langit menatap Jasmin hingga mata mereka terkunci selama beberapa detik.


"Bener-bener nggak ada tempat di hati lo walau sedikitpun buat gue, Lang?" tanya Jasmin sekali lagi.


Langit menggelengkan kepala tanda kalau di hatinya benar-benar sudah tidak ada tempat untuk gadis mana pun selain Matahari. "Sorry," ucapnya serius.


"Udah jelas kan? Gue ke lapang dulu. Dimas udah nunggu gue," ucap Langit.


Tepat setelah selesai berbicara Langit melenggang hendak keluar kelas meninggalkan Jasmin yang masih bergeming di tempatnya semula.


"Lo yakin Matahari juga cinta sama lo? Apa cintanya dia ke lo sama besarnya seperti cinta gue ke lo?" ujar Jasmin yang berhasil menghentikan langkah Langit.


"Sadar, Lang. Matahari belum bisa move on dari Kak Venus. Dan lo, Matahari cuma jadiin lo pelariannya aja," ujar Jasmin lagi.


Langit menghela napas panjang. Dia berbalik dan menatap Jasmin dengan tatapan datar.


"Gue tau dan gue nggak peduli. Terlepas dari perasaan Matahari tulus atau nggak ke gue itu urusan dia, yang terpenting dia tau kalo gue tulus cinta dan sayang banget sama dia," tegas Langit.


"Lo gila, Langit. Lo mengabaikan orang yang tulis cinta sama lo demi cewek yang bahkan di hatinya jelas-jelas bukan lo!" teriak Jasmin kesal.


Langit sakit hati mendengarnya, namun dia mencoba mengabaikan perkataan Jasmin. Langit terus melangkah pergi tanpa menghiraukan teriakan Jasmin yang memanggilnya.


***

__ADS_1


Sepulang sekolah Langit bersemangat ingin menemui Matahari di rumah sakit. Saking bersemangat dia bahkan mengabaikan ajakan teman-temannya latihan basket.


"Gak asik lo, Lang. Sejak pacaran sama Matahari lo jadi jarang ngumpul sama kita," ucap Gavi.


"Tau tuh. Bucin banget sekarang lo, Lang." Aska ikut menimpali.


"Makanya cepetan punya cewek lo pada biar nggak jomlo lagi," sahut Langit tak acuh.


"Sialan lo, Lang, malah ngeledek kita," ujar Aska.


"Biar jomblo asal bahagia. Ya nggak, Dim," ucap Gavi.


Dimas mengendikkan kedua bahunya tak acuh. "Gue nggak jomblo lagi btw," ucapnya yang membuat Gavi dan Aska terkejut sekaligus tak percaya.


"Sejak kapan lo punya cewek, Dim?" tanya Gavi.


"Wah, nggak asik lo, Dim. Lo jadian sama siapa anjir? Kok bisa-bisanya tuh cewek demen sama lo?" ujar Aska.


"Sorry nih, gue harus cabut duluan. Kalian latihan aja dulu tanpa gue," pamit Langit.


Tanpa menunggu sahutan dari ketiga sahabatnya, Langit langsung bergegas pergi dari sana. Dia menaiki motor kesayangannya lalu melesat menuju ke rumah sakit.


Sebelumnya, Langit mampir dulu untuk membeli makanan. Dia pikir Matahari pasti belum makan karena hanya fokus memikirkan papanya yang sedang sakit.


Begitu sampai di rumah sakit, senyum dan semangat Langit seketika pudar. Dia bergeming melihat Matahari dan Venus keluar dari gedung rumah sakit bersama-sama. Mereka pergi dengan menaiki mobil milik Venus.


Langit menunduk melihat kantong kresek yang dia bawa. Beberapa saat kemudian dia menghela napas panjang lalu merogoh ponsel di dalam saku celananya.


Langit:


[Ay, aku otw rumah sakit sekarang. Aku juga bawa makanan buat kamu. Kamu pasti belum makan kan?]


Pesan yang dikirim Langit kepada Matahari tak langsung mendapat balasan. Langit masih bergeming di tempat semula, setia menunggu notifikasi ponselnya berbunyi.

__ADS_1


Tiba-tiba saja perkataan Jasmin di sekolah tadi terngiang di dalam otaknya. Seketika itu hatinya merasa panas. Tanpa sadar Langit mengepalkan tangannya.


"Kenapa lo? Cemburu liat Kak Matahari sama Kak Venus pergi barengan?" tanya Bulan yang entah sejak kapan gadis itu berada di belakang Langit.


"Kayanya mereka balikan deh. Ups, sorry," ucap Bulan lagi. Dengan sengaja memanas-manasi Langit.


Langit menoleh ke arah sumber suara, menatap gadis yang tiba-tiba muncul itu dengan ekspresi datar.


Menyadari sedang diperhatikan Bulan pun membalas tatapan Langit. Seulas senyum miring terukir di bibirnya mengejek Langit.


"Gimana? Masih yakin Kak Matahari sebaik itu?" tanya Bulan.


"Jaga mulut lo, ya. Lo nggak pantes jelekin Matahari!" tegas Langit.


Tak ingin berlama-lama di dekat Bulan, Langit pun segera pergi dari sana. Dia kembali ke parkiran tempat motornya berada.


Tepat bersamaan dengan itu ponsel Langit bergetar. Sebuah notifikasi pesan dari Matahari masuk. Dia segera membuka untuk membacanya.


My Sunshine:


[Maaf, Langit. Aku nggak di rumah sakit sekarang. Aku pergi sama Kak Venus karena ada urusan penting.]


Langit:


[Oh, ya udah kamu hati-hati.]


Sebenarnya Langit ingin mengirimkan pesan "Urusan apa? Pergi ke mana?" namun Langit menghapusnya, tak jadi mengirimkan pesan itu kepada Matahari. Dia takut Matahari merasa tidak nyaman karena sikapnya yang terlalu posesif.


My Sunshine:


[Kamu ke sini aja, Lang. Aku di kafe rengganis, lokasinya gak jauh dari rumah sakit.]


Seulas senyum pun tiba-tiba terukir di bibir Langit setelah membaca pesan dari Matahari. Setidaknya hatinya merasa lega, pikiran buruk seketika buyar dari otaknya. Langit semakin percaya kepada Matahari bahwa gadis itu tidak akan mengkhianatinya.

__ADS_1


__ADS_2