
"Jadi, dia pemenangnya?"
Langit yang semula sedang melihat Matahari bermain bersama anak-anak panti langsung menoleh ke samping, menatap sang bunda. Beberapa detik kemudian Langit kembali menatap Matahari lalu mengulas senyum tipis nan manis.
"Gimana menurut Bunda?" tanya Langit sembari menatap wajah sang bunda.
"Sepertinya dia gadis yang baik," ucap Bunda Risma kepada Langit.
"Apa Bunda masih ingat sama ceritaku dulu? Seorang gadis memelukku ketika dia melihat seluruh tubuhku penuh dengan luka karena dipukuli ayah, dia juga memberiku gantungan kunci matahari kepadaku. Gadis itu adalah Matahari, Bunda."
Ingatan Langit seperti ditarik pada kejadian sepuluh tahun yang lalu. Saat itu Langit sedang menangis ketakutan, dia baru saja melarikan diri dari amukan ayah tirinya yang memukuli Langit sebagai pelampiasan dari kekalahan bermain judi.
Seorang gadis kecil menghampirinya. Dia memeluk dan menenangkan Langit hingga Langit merasakan sebuah kehangatan yang nyaman. Gadis itu juga memberikan gantungan kunci berbentuk matahari kepada Langit.
'Gantungan kunci ini pemberian dari nenekku. Ini sangat berarti bagiku. Sekarang aku memberikan ini untukmu supaya kamu tidak merasa kesepian lagi.'
Langit masih mengingat semuanya. Bahkan kalimat yang dikatakan oleh Matahari waktu itu masih selalu terngiang di dalam otaknya. Langit tidak akan pernah melupakan kebaikan gadis itu.
"Maksudmu gadis itu Matahari?" tanya Bunda Risma.
Langit mengangguk. "Iya, Bunda," ucapnya lalu melihat Matahari yang masih asyik bermain dengan anak-anak.
"Semesta telah mempertemukan aku dengannya di versi dewasa meskipun dia tidak mengingatku," ucap Langit.
"Tidak apa, lambat laun dia pasti akan mengingatmu," ucap Bunda Risma.
__ADS_1
"Kak Langit, ayo ikut main bareng kita."
Albiru berlari menghampiri Langit lalu menarik tangan Langit untuk ikut bermain bersamanya. Hal tersebut membuat percakapan di antara Langit dan Bunda Risma berakhir.
"Bunda, aku mau ke sana dulu," pamit Langit yang langsung dibalas anggukkan oleh Bunda Risma.
Tangan Langit masih ditarik oleh Albiru. Dua lelaki berbeda generasi itu berjalan menuju ke arah taman.
Langit dan Matahari bermain bola bersama anak-anak dengan suka cita dan penuh keceriaan. Bahkan Matahari merasakan beban yang selalu menyesakkan dadanya seketika menghilang tergantikan dengan tawa bahagia.
Matahari mengamati Langit dengan penuh kasih sayang. Dia terpesona oleh kemampuan Langit untuk mencairkan hati setiap anak panti asuhan yang ada di sekitarnya. Terlihat jelas betapa mereka menyukai Langit dan betapa Langit juga mengasihi mereka.
Ketika permainan berakhir, anak-anak mengelilingi Langit dan Matahari, mengulurkan tangan mereka untuk memberikan hadiah permainan. Tatapannya penuh cinta dan binar yang terpancar dengan kehangatan saat dia merasakan sentuhan kebahagiaan sungguh menyentuh hatinya.
Langit dan Matahari dipeluk oleh beberapa anak, dan satu anak kecil dengan mata berbinar-binar berlari mendekati mereka berdua. "Terima kasih, Kak Langit dan Kak Matahari, atas permainan yang menyenangkan! Kami senang sekali bisa bermain bersama Kakak."
"Sama-sama, Sayang. Kakak juga senang bisa bermain bersama kalian," ucap Matahari sembari memperlihatkan senyum termanisnya.
"Anak-anak sudah dulu mainnya. Sekarang sudah waktunya kalian mandi." Bunda Risma memanggil anak-anak untuk segera mandi karena hari sudah mulai sore.
Anak-anak pun berlarian menghampiri bundanya meninggalkan Langit dan Matahari berdua di taman.
Langit menghela napas panjang lalu duduk di atas hamparan rumput yang hijau. Melihat hal itu Matahari pun ikut duduk di samping Langit.
"Makasih ya, kamu udah mau main sama anak-anak panti," ucap Langit.
__ADS_1
Matahari menoleh menatap Langit hingga pandangan mereka terkunci.
"Aku senang bermain bersama mereka," ucap Matahari. "Kamu sering datang ke sini ya, Lang?" tanyanya kemudian.
Langit mengangguk. Dia mengalihkan pandangannya ke arah depan dengan tatapan kosong menerawang kenangan masa lalu.
"Aku pernah tinggal di sini," ucap Langit dengan nada berat. Dia menghela napas panjang merasakan sesak di dadanya. Betapa masa lalunya tak semenyenangkan anak-anak lainnya.
Matahari terdiam dengan tatapan sendu melihat wajah Langit dari samping. Dia menyadari bahwa dirinya tidak tahu banyak tentang kehidupan kekasihnya itu.
"Orang tua kamu?"
"Awalnya aku tinggal bersama mama. Tapi sejak mama menikah lagi, suaminya nggak mau menerimaku." Langit menatap Matahari, menjeda sesaat ceritanya.
"Mama menikah dengan pria brengsek. Dia pemabuk dan suka bermain judi. Setiap hari aku akan menjadi sasaran kekesalannya ketika dia kalah bermain. Untuk itu mama menitipkan aku di panti asuhan ini," ucap Langit lagi.
Matahari terdiam, tatapan mereka terkunci selama beberapa detik. Hati Matahari terenyuh merasakan kesedihan yang Langit coba tutupi dari semua orang. Lalu tanpa mengatakan apa pun, gadis itu menarik Langit ke dalam pelukannya.
Pelukan yang hangat dan menenangkan. Rasanya masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu dirasakan oleh Langit.
"Aku nggak tau sebanyak apa luka yang coba kamu tutupi, tapi mulai sekarang kamu boleh membaginya denganku. Kamu bisa bercerita apa pun dan aku akan menjadi pendengar yang baik untuk kamu," ucap Matahari sembari mengusap punggung Langit.
Refleks Langit membalas pelukan Matahari dan menenggelamkan wajahnya pada bahu gadis itu.
"Janji, kamu nggak bakal ninggalin aku?" gumam Langit.
__ADS_1
Matahari merenggangkan pelukannya. Ditatapnya mata Langit dalam-dalam seperti sedang berusaha menyelami pikiran Langit.
"Aku gak bisa janji, tapi aku pasti akan selalu ada buat kamu," ucap Matahari.