Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 22


__ADS_3

“Mas, lihat tuh anak kamu makin ke sini sikapnya semakin kurang ajar,” ucap Indira kepada Hadi begitu Matahari sudah pergi dari rumah.


“Ini pasti karena didikan mamanya yang gak tahu diri itu. Untungnya Melati sudah meninggal. Coba kalau dia masih hidup, aku yakin sikap Matahari akan jauh lebih kurang ajar dari pada sekarang,” ucap Indira lagi.


Hadi menghela napas panjang. “Jaga bicaramu, Dira. Melati gak seperti yang kamu pikirkan,” ucapnya.


“Gak seperti yang aku pikirkan gimana, Mas? Jelas-jelas buktinya sudah ada. Sifat keras kepala, gak sopan, kurang ajar yang ada pada Matahari itu semuanya dari Melati, Mas. Kamu masih mau terus menyangkal?” ujar Indira.


“Aku gak tahu mamanya Kak Matahari itu gimana orangnya, tapi menurutku yang dibilang Mama itu bener, Pa. Papa gak tahu sih kelakuan Kak Matahari selama ini kaya gimana. Bahkan baru-baru ini dia suka bully aku di sekolah.”


Bulan yang sejak awal tahu bahwa Matahari adalah putri kandung Hadi dari istri pertamanya merasa tidak suka terhadap kakak tirinya itu. Bulan iri atas segala sesuatu yang dimiliki oleh Matahari, mulai dari warisan, teman, dan Venus.


Itu sebabnya Bulan sengaja mendekati Venus dan bertekad untuk mendapatkan hati lelaki yang merupakan kekasih dari Matahari. Bahkan, sebuah cara licik pun dia sanggup melakukannya untuk merebut satu per satu milik Matahari.


“Apa, jadi selama ini kamu selalu dibully sama Matahari?” Indira bereaksi terkejut saat mengetahui putri semata wayangnya itu di bully oleh Matahari.


Bulan mengangguk mengiakan.


“Kenapa kamu diam saja? Kenapa gak bilang sama Mama?” tanya Indira lagi.


Bulan melihat Hadi sekilas sebelum dia menjawab, “karena aku gak mau Mama sama Papa marahin Kak Matahari.”


Bola mata Bulan berkaca-kaca, terlihat tulus padahal modus. Dia menatap Hadi yang sedari tadi masih diam saja. Bulan berharap papanya akan percaya kemudian menghukum Matahari.


“Dengar itu, Mas. Bahkan dia tega membully Bulan,” ucap Indira sembari menatap Hadi. “Mas Hadi harus menghukum Matahari atas perbuatannya, atau kalau Mas gak mau melakukannya, biar aku saja yang menghukum Matahari.”


Hadi menghela napas panjang. “Aku akan menegurnya nanti,” ucapnya.


Setelah itu Hadi berjalan melewati Indira hendak pergi ke kamarnya untuk beristirahat karena kepalanya mendadak terasa sakit. Namun baru saja beberapa langkah dia berjalan, niatnya tertahan oleh Bulan.


“Pa, gimana kamarku? Aku boleh kan menempati kamar Kak Matahari?” tanya Bulan.


Hadi berbalik lalu kembali menghela napas panjang. Dia menatap Bulan sesaat sebelum berkata, “Tempati ruangan mana pun yang ada di rumah ini, tapi jangan mengusik milik Matahari.”


“Pa ... Maksud Papa apa? Bukannya kemarin Papa bilang aku boleh—“

__ADS_1


“Papa bilang kamu boleh menempati kamar mana pun, tapi bukan berarti Papa izinin kamu tidur di kamar Matahari.”


Bulan langsung tercekat. Matanya berkaca-kaca menatap Hadi, setelah itu dia beralih melihat Indira seolah meminta dukungan agar mamanya itu mau membujuk papanya.


“Tapi, Pa ....”


Hadi tak menghiraukan perkataan Bulan. Baginya apa yang baru saja dia katakan semuanya sudah jelas, seharusnya putri keduanya itu bisa mengerti.


“Mas, kamu ini gimana sih? Bulan juga anak kamu, sekarang dia cuma mau kamar yang ditempati Matahari. Kenapa Mas gak ngebolehin Bulan tinggal di sana dan meminta Matahari mengalah?” ujar Indira kepada suaminya.


Jujur saja kepala Hadi saat ini semakin berdenyut sakit. Istri dan anaknya itu selalu saja membesar-besarkan masalah sepele terutama yang ada kaitannya dengan Matahari.


Hadi berbalik menghadap ke arah Indira. Dia menatap istri dan anaknya itu secara bergantian dengan sorot yang sulit diartikan.


“Selama ini aku selalu memprioritaskan kalian. Apa pun yang kalian inginkan selalu aku usahakan. Tapi Matahari?” Hadi menatap Indira dan Bulan, menjeda perkataannya sesaat. “Aku selalu mengabaikan Matahari. Tak seperti Bulan yang selalu mendapatkan perhatian penuh dariku, Matahari tidak pernah mendapatkannya.”


Hening seketika tercipta di ruangan itu. Sebelum Indira kembali berbicara, Hadi memilih untuk pergi dari sana meninggalkan istri dan anaknya dari pada keributan lebih membesar dari pada ini.


***


Dokter Kevin


Matahari membaca ulang pesan yang dikirimkan Dokter Kevin kepadanya. Refleks, tangannya mencengkeram ponselnya, lalu menghela napas kasar.


“Pak, ke rumah sakit ya.”


“Baik, Non,” jawab sopir taksi yang mengantar perjalanan Matahari.


Matahari terdiam, tatapan kosong mengarah keluar melihat lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang sibuk dengan aktivitas masing-masing.


Mata gadis itu langsung menyipit saat menangkap seseorang yang tak asing baginya sedang ada di gang sempit dan sepi bersama beberapa orang lainnya yang tak dikenali.


“Pak, stop, Pak.”


Matahari langsung memberikan beberapa lembar uang kepada sopir sebelum dia keluar dari taksi.

__ADS_1


“Loh, gak jadi ke rumah sakin, Non?”


“Gak jadi, Pak. Kembaliannya buat Bapak aja,” ucap Matahari sembari pergi dengan terburu-buru.


Sembari berjalan Matahari mengambil ponsel di dalam tasnya lalu mulai mengetikkan sesuatu. Setelah selesai dia kembali menyimpan benda pipih itu pada tasnya lagi.


Langkah Matahari terhenti. Dia terpaku melihat Langit sedang berkelahi dengan tiga lelaki tak dikenalinya. Dia meringis seolah merasakan sakit saat melihat salah satu dari tiga lelaki tak dikenal itu memukul wajah dan perut Langit hingga tersungkur di atas tanah.


Kedua bola mata Matahari membulat sempurna saat melihat Langit akan ditendang tepat di bagian kepalanya.


“BERHENTI!”


Teriakan Matahari berhasil membuat tiga lelaki itu mematung dalam hitungan detik sebelum kaki mereka mengenai tubuh Langit. Refleks ketiganya langsung melihat ke arah Matahari termasuk juga Langit yang terkejut atas kehadiran gadis itu.


“Siapa lo?”


Matahari tak menjawab tanya tersebut. Dia berjalan mendekati Langit lalu membatu lelaki yang terluka itu untuk berdiri.


Setelah itu Matahari menatap satu per satu dari tiga lelaki yang mengeroyok Langit dengan tatapan tajam. Sementara itu Langit masih mengatur napasnya yang sesak karena dadanya terkena tonjokan juga tendangan.


“Kalau beratem itu jangan maen keroyokan dong. Cemen banget kalian. Pengecut!” ujar Matahari.


Kedua bola mata Langit membulat sempurna melihat keberanian Matahari yang seolah sedang menantang musuhnya. Gadis itu menggulung lengan kemejanya seperti siap untuk berkelahi.


“Kalau kalian beneran hebat, sini lawan gue!” Tantangan Matahari membuat tiga lelaki di hadapannya itu mengernyitkan alis mereka dan saling bertatap-tatapan satu sama lainnya.


Bagaimana mungkin mereka akan melawan seorang perempuan? Mungkin itulah yang ada di pikiran mereka saat Matahari menantangnya.


Matahari maju semakin mendekati ketiga lelaki tak dikenalinya itu tanpa rasa takut hingga membuat mereka semakin kebingungan akan hal yang akan dilakukan oleh Matahari.


Tepat ketika mereka lengah, Matahari berbalik badan sembari menarik pergelangan tangan Langit sekuat tenaga membawanya untuk kabur dari sana.


“Lariiiii ....”


“WOY, jangan kabur kalian!”

__ADS_1


Matahari tak menghiraukan teriakan mereka. Dia terus berlari sembari menarik pergelangan tangan Langit yang sedari tadi hanya pasrah saja mengikuti permainan Matahari.


Tanpa sepengetahuan gadis itu, Langit menatapnya dan tersenyum seiring langkahnya berlari menghindari musuhnya.


__ADS_2