
Sebelah sudut bibir Matahari tertarik ke atas dengan tatapan datar masih menatap lelaki paruh baya di hadapannya. Lalu tiba-tiba saja Indira keluar dari ruang rawat Hadi dan langsung menghampirinya. Pandangan Matahari beralih ke arah Indira masih dengan tatapan datarnya.
"Wah, kalian pasangan yang hebat," ucap Matahari. "Sudah berapa lama kalian bersekongkol menipu papaku?" tanyanya kemudian.
Awalnya Indira terkejut mendengar perkataan Matahari. Namun detik berikutnya dia bisa menekan keterkejutan itu dengan kembali memperlihatkan sikap yang tenang.
"Apa kalian nggak takut karma?"
Indira terkekeh pelan mendengar perkataan Matahari. Sedetik kemudian dia membalas tatapan Matahari dengan sorot liciknya.
"Jangan bercanda. Kamu hanya anak kecil, kamu tidak tahu apa-apa tentang kami," ucap Indira.
"Ck! Kalian pikir aku tidak tau apapun tentang kebusukan kalian selama ini?" ujar Matahari dengan suara tenangnya. "Aku sudah mengumpulkan bukti kecurangan kalian. Jadi, bersiaplah."
"Kamu—" Gio menarik lengan Indira, menginterupsi wanita itu untuk tetap tenang.
Melihat interaksi pasangan tersebut membuat Matahari kembali menyunggingkan senyum miringnya.
"Wah, baru digertak sedikit saja udah sepanik ini," ucap Matahari.
Gadis itu menatap Gio dan Indira secara bergantian dengan tatapan datarnya. "Aku jadi ngebayangin gimana nanti ya, kalo aku sampai mempublikasikan kejahatan ke media. Sepertinya ini akan sangat menarik."
"Coba saja!" Gio menantang Matahari.
Dia menatap gadis itu dengan sorot tajam. "Lakukan apa saja yang ingin kamu lakukan. Tapi, jangan salahkan kami kalau nantinya tindakanmu itu akan merugikan dirimu sendiri."
Gio mengulas senyum setelah mengatakan semua itu kepada Matahari.
Kedua tangan gadis itu mengepal erat dengan tatapan tak beralih dari satu titik fokus yang memuakkan di hadapannya. Bibirnya bergetar, rasanya Matahari sangat ingin memaki Gio dan Indira saat ini juga.
Namun, keinginan tersebut terpaksa harus dia tahan, mengingat situasi saat ini sedang berada di rumah sakit. Dan selain itu, Matahari tidak boleh gegabah menghadapi dua manusia licik itu.
"Semoga kamu beruntung, Gadis Kecil." Gio menepuk pundak Matahari seraya mengulas senyum. Setelah itu dia bergegas pergi dari sana.
Pandangan Matahari kini tertuju pada Indira yang masih berdiri di sana tepat di hadapannya. Mata mereka beradu dan terkunci dengan sama-sama menyalakan api kebencian.
"Jangan coba main-main denganku, Matahari. Kamu harus ingat, keselamatan papamu ada ditanganku," ucap Indira penuh penekanan.
__ADS_1
Bola mata Matahari membulat sempurna. Kedua tangannya terkepal bersamaan dengan rahangnya mengeras menahan amarah.
"Apa yang ingin kalian lakukan? Kenapa Tante tega mengkhianati Papa padahal selama ini Papa selalu memprioritaskan Tante dalam hidupnya," lirih Matahari.
"Ini semua gara-gara kamu!” Matahari mengernyitkan alisnya, mencoba mencerna maksud perkataan Indira. "Andai papamu itu tidak mewariskan seluruh hartanya ke kamu. Mungkin saya tidak akan bertindak sejauh ini."
"Wanita gila!" umpat Matahari secara refleks.
Indira tertawa mendengarnya. "Terserah kamu mau mengatakan apa. Saya tidak peduli!" Wanita itu melenggang pergi meninggalkan Matahari begitu saja.
Matahari terdiam, mencerna setiap kalimat yang dikatakan oleh Gio dan Indira. Begitu mereka sudah lenyap dari pandangannya, Matahari merogoh ponsel di dalam saku roknya.
Seulas senyum terukir di bibir gadis itu kala dia melihat layar ponselnya yang menyala memperlihatkan hasil sebuah rekaman suara percakapannya tadi dengan Gio dan Indira.
"Lumayan, ini bisa sedikit membantuku membuka kedok mereka," gumam Matahari.
Gadis itu menghela napas panjang. Dia ingin kembali ke ruang rawat Hadi, namun niatnya tertahan ketika dia tidak sengaja melihat wajah seseorang yang sangat familiar baginya.
Matahari bergeming selama beberapa detik, dengan pandangan terus tertuju kepada orang yang sedang terbaring lemah di atas brankar yang didorong oleh beberapa perawat menuju ruang gawat darurat.
"Langit," gumam Matahari.
"Suster apa yang telah terjadi padanya?" tanya Matahari.
"Kamu mengenalnya?"
Matahari mengangguk. "Dia teman saya, Sus. Apa yang terjadi?"
"Pasien diduga menjadi korban pengeroyokan preman. Ada warga yang menemukannya sudah tidak sadarkan diri di dalam bangunan kosong tak jauh dari pemukiman warga," jelas perawat.
Beberapa perawat membawa Langit untuk segera ditangani oleh dokter. Sementara salah satunya menghalangi Matahari yang ingin turut masuk melihat keadaan Langit.
"Maaf, Dek. Sebaiknya kamu tunggu di sini. Biarkan dokter menangani teman adik," ucap perawat.
"Tapi saya mau melihatnya, Sus," ujar Matahari.
"Kamu tenang dulu ya, Dek. Sebaiknya Adik bantu berdoa supaya teman Adik baik-baik saja. Dan tolong segera hubungi keluarga pasien supaya segera menyelesaikan registrasi."
__ADS_1
Matahari terududuk di kursi besi yang ada di sana. Seketika tubuhnya lemas. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi kepada Langit hingga keadaan kekasihnya itu terluka parah.
"Apa lagi ini, Tuhan? Belum selesai satu masalah muncul musibah lainnya," gumam Matahari.
"Keluarga? Bahkan aku nggak tau keluarga Langit. Bodoh!" gerutu Matahari.
"Permisi, Dek." Salah seorang perawat tiba-tiba menghampiri Matahari, membuyarkan lamunan gadis itu.
"Eh, ya, Sus? Ada apa?"
"Ini ponsel milik pasien, tadi orang yang mengantarkan pasien yang memberikannya kepada kami."
"Terima kasih, Sus." Matahari mengambil ponsel milik Langit yang diberikan oleh perawat kepadanya.
Dia menatap layar benda pipih itu selama beberapa detik sebelum dirinya berinisiatif menyalakan benda itu.
"Ponselnya dikunci," gumam Matahari.
Niat hati ingin mencari kontak keluarga Langit yang bisa dihubungi untuk memberi tahu mereka keadaan Langit. Namun niat tersebut tertahan karena Matahari tidak tahu pasword ponsel Langit.
"Matahari, kamu sedang apa di sini? Bukannya papa kamu ada di ruangannya?"
Matahari yang sedang menatap layar ponsel Langit pun mendongak, melihat ke arah sumber suara yang sedang berbicara kepadanya.
"Dokter Kevin," gumamnya. "Langit ada di dalam," ucap Matahari kemudian.
"Langit? Kenapa dia?" tanya Dokter Kevin.
Matahari menggelengkan kepalanya. "Aku nggak tau. Ada warga yang membawa Langit ke sini dalam keadaan terluka parah."
Dokter Kevin terdiam menatap wajah sendu Matahari kemudian pandangannya beralih pada pintu ruangan pasien dengan kondisi gawat darurat.
"Aku takut Langit kenapa-napa," ucap Matahari.
"Kamu tenang dulu, oke. Langit pasti akan baik-baik aja." Dokter Kevin berusaha menenangkan Matahari yang terlihat sangat cemas. "Apa kamu sudah menghubungi keluarganya?"
Matahari kembali menggelengkan kepalanya. "Aku nggak tau harus menghubungi siapa? Aku nggak kenal keluarga Langit," lirihnya.
__ADS_1
"Miris sekali. Gue pacarnya Langit, tapi gue nggak tau apa pun tentang Langit. Gue ini pacar macam apa? Bodoh!" gerutu Matahari di dalam hatinya.