
Terdiam, Langit menatap dalam-dalam manik teduh gadis di hadapannya. Tak ingin berpaling, dia ingin terus menatapnya sepanjang hari.
"Boleh gak aku minta sesuatu sama kamu?" tanya Matahari.
"Apa itu?" sahut Langit.
Matahari menggigit bibir bawahnya merasa ragu untuk berbicara kepada Langit.
"Ini tentang Jasmin." Perkataan Matahari terjeda sesaat untuk menghela napas panjang. "Bisa nggak kamu sama Jasmin—"
"Nggak."
Belum sempat Matahari melanjutkan perkataannya tetapi Langit langsung menolak seolah-olah dia tahu apa yang akan dikatakan oleh gadis itu selanjutnya.
"Lang?"
"Aku bilang nggak ya nggak," tolak Langit tanpa bertele-tele.
Langit menghela napas panjang. "Aku mau ngelakuin apa pun buat kamu, tapi nggak mau sampai harus mengorbankan hubungan kita," katanya.
"Tapi Jasmin sahabat aku, Lang. Aku gak tega sama dia kalo sampai dia tau aku sama kamu sekarang. Aku nggak mau bikin dia sedih," ucap Matahari.
"Terus kamu tega ngeliat sedih? Kamu tega bohongin Jasmin?" tanya Langit serius. Matahari menggelengkan kepalanya. Tentu saja dia tidak mau itu semua terjadi.
Langit kembali menghela napas panjang. Dia mendekati Matahari lalu mencengkeram kedua bahunya tanpa menyakitinya. Ditatapnya manik Matahari dalam-dalam.
"Aku ngerti maksud kamu baik. Tapi coba kamu pikir lagi kalo sampai Jasmin tau aku deketin dia cuma karena disuruh sama kamu dan dia tau aku sama sekali gak ada rasa ke dia, apa dia gak akan kecewa?" ujar Langit.
__ADS_1
Matahari diam. Dia menyadari semua yang dikatakan oleh Langit benar adanya. Tak ada kebohongan demi kebaikan. Kebohongan tetaplah kebohongan dan itu tidak benar dilakukan kepada siapapun.
Langit menatap Matahari dengan sorot sendu. "Lagi pula aku hanya minta waktu 3 bulan aja jadi pacar kamu. Aku mau manfaatin waktu yang ada bersama gadis yang benar-benar aku cintai," ucapnya serius.
Langit menarik Matahari ke dalam pelukannya. "Plis, jangan aneh-aneh ya. Jangan minta aku buat pura-pura suka sama orang lain. Aku nggak mau," lirihnya.
Tak tahu harus bagaimana kedepannya hubungannya dengan Jasmin, tetapi Matahari tak bisa memaksa Langit. Selain itu jujur saja separuh dari hatinya merasakan kenyamanan berada di dalam dekapan Langit. Meskipun Matahari belum bisa memastikan perasaan tersebut cinta atau bukan.
Tiba-tiba saja ponsel Matahari berdering cukup lama. Hal tersebut membuyarkan mereka dari lamunan masing-masing dan Langit pun melepaskan pelukannya.
Matahari mengambil ponsel dari tasnya lalu melangkah sedikit menjauh dari Langit ketika sudah mengetahui orang yang menghubunginya.
"Ada apa, Mbok?" tanya Matahari pada Simbok yang meneleponnya.
"Anu, itu, Neng. Maaf Mbok mengganggu. Itu, Neng, Mbok mau ngasih tau kalo Tuan dibawa ke rumah sakit."
"Penyakit jantungnya kambuh, Neng. Tuan baru saja dibawa ke rumah sakit, Mbok nggak tau keadaan Tuan sekarang. Neng cepetan pulang ya."
"Iya, Mbok, Matahari pulang sekarang."
Matahari langsung memutus sambungan teleponnya lalu mengembalikan ponsel miliknya itu ke dalam tas tanpa memeriksa notifikasi pesan yang masuk. Dengan perasaan cemas Matahari meminta Langit untuk mengantarkannya pulang.
"Ada apa?" tanya Langit yang menyadari Mataharinya sedang tidak baik-baik saja.
"Papa masuk rumah sakit, Lang. Aku harus pulang sekarang," jawab Matahari.
"Kamu tenang dulu ya. Kita pulang sama-sama. Aku akan mengantar kamu ke rumah sakit sekarang," ucap Langit.
__ADS_1
Pasangan remaja itu meninggalkan bukit tepat di saat senja sudah menghilang dari langit. Keduanya berpamitan kepada Bunda Risma dan anak-anak panti terlebih dulu sebelum akhirnya Langit mengantarkan Matahari menuju rumah sakit.
Satu jam kemudian Matahari dan Langit sampai di rumah sakit. Mereka langsung menemui petugas resepsionis untuk menanyakan ruang rawat Hadi. Setelah mendapatkan informasi mereka langsung bergegas pergi.
Dokter Kevin melihat keberadaan Matahari di rumah sakit. Dia pikir sesuatu terjadi kepada gadis itu, jadi dia langsung memanggilnya.
"Matahari," panggil Dokter Kevin.
Langkah Matahari dan Langit terhenti. Mereka secara bersamaan melihat Dokter Kevin yang kini sedang berjalan ke arah mereka.
"Kalian sedang apa di sini? Siapa yang sakit?" tanyanya sembari menatap Matahari.
"Papa yang sakit, Dok. Papa di ruang UGD sekarang," jawab Matahari.
Tak mau banyak basa basi, Matahari segera berpamitan kepada Dokter Kevin untuk menemui papanya.
Matahari mempercepat langkahnya ketika dia melihat Indira dan Bulan sedang menunggu di depan UGD. Jelas terlihat kecemasan tersirat di wajah ibu dan anak itu.
"Tante, gimana keadaan Papa sekarang?" tanya Matahari tepat saat itu dokter yang memeriksa Hadi keluar.
Matahari tak lagi menunggu jawaban dari Indira. Dia langsung menghampiri dokter untuk menanyakan keadaan papanya.
"Keluarga pasien?" panggil Sang Dokter.
"Saya, Dok. Saya putrinya. Gimana keadaan papa saya sekarang?" tanya Matahari tak sabar.
Tak ingin tertinggal Indira dan Bulan pun menghampiri sang dokter, ingin tahu keadaan Hadi saat ini.
__ADS_1