Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 57


__ADS_3

"Maaf, Om, aku gak bisa tandatangani ini sekarang. Aku mau baca semuanya dulu, boleh kan, Om?"


Gio tertegun dengan keputusan Matahari. "Kenapa? Apa kamu tidak percaya sama saya?" tanyanya.


"Eh? Bukan gitu, Om—"


"Tidak apa-apa. Om paham kok," ucap Gio sembari terkekeh pelan lantas lelaki itu membenarkan posisi duduknya bersandar pada penyangga kursi. "Kamu boleh membawanya pulang dan membacanya," ucapnya kemudian.


Matahari mengangguk. "Makasih, Om," ucapnya.


"Om harap kamu tidak ragu untuk menandatanganinya setelah kamu mengerti isi di dalam surat itu," ucap Gio.


Matahari hanya mengangguk saja. Pandangan gadis itu tertuju pada kertas yang masih ada di tangannya.


Jujur saja, selain tidak mengerti, Matahari juga merasa ragu untuk membubuhkan tanda tangannya. Entah kenapa? Namun hati kecilnya seperti tidak mengizinkan.


"Om, ada hal lain yang mau dibicarakan lagi? Kalau nggak ada, aku mau pamit balik lagi ke rumah sakit," ucap Matahari.


"Kamu gak mau pesan sesuatu dulu?" tanya Gio.


Matahari menggelengkan kepalanya. "Nggak, Om. Aku mau langsung pulang aja sekarang. Om gak mau bicarain hal lainnya kan?"


"Sudah, Om hanya ingin memberi tahu itu saja sama kamu," ucap Gio.


"Kalau gitu aku pamit mau balik lagi ke rumah sakit." Matahari beranjak dari duduknya.


"Biar saya antar kamu." Gio ikut beranjak dari duduknya ingin mengantarkan Matahari pergi.


"Eh? Nggak usah, Om. Aku bisa sendiri kok. Lagian habis ini aku mau mampir-mampir dulu sebentar," ucap Matahari. Dia menolak ajakan Gio dengan sopan.


Gio menatap kepergian Matahari hingga gadis itu menghilang dari pandangannya. Setelah itu dia merogoh ponsel di dalam saku jasnya untuk menghubungi seseorang.


Matahari menghela napas panjang. Dia terdiam sembari menatap amplop berwarna cokelat yang diberikan Gio kepadanya. Baru saja dia berniat untuk mencari taksi, tiba-tiba saja sebuah mobil yang sudah familiar di matanya berhenti tepat di hadapannya.


"Ayo naik!"


"Loh? Lo ngapain di sini, Kak?" tanya Matahari.


Tak menjawab, Venus lebih memilih untuk membukakan pintu mobilnya untuk Matahari.


"Ayo naik," titahnya lagi.


Matahari menurut. Dia masuk ke mobil Venus.


"Kok lo bisa kebetulan ada di sini kak? Bukannya tadi lo udah balik ya?" tanya Matahari.


"Bisa nggak, jangan lo-gue kalo lagi ngomong sama aku? Pake aku-kamu aja sih kaya biasanya aja," ujar Venus.


Matahari hanya menghela napas panjang menanggapinya.


"Aku nggak jadi pulang. Aku khawatir terjadi sesuatu sama kamu, makanya aku nungguin kamu," jelas Venus.


"Ck, apaan sih. Lo gak—"


"Aku," ralat Venus penuh penekanan.

__ADS_1


Matahari tak jadi meneruskan perkataannya. Bibir gadis itu mengerucut karena kesal.


Seulas senyum tipis terukir di bibir Venus. Ekspresi seperti itu biasanya selalu dia lihat ketika dia masih bersama Matahari. Lalu pandangannya beralih pada amplop berwarna cokelat di tangan Matahari.


"Itu apa?" tanya Venus.


Matahari mengikuti arah pandangan Venus lalu menghela napas panjang. "Om Gio ngasih ini ke gu ... aku. Katanya ini harus aku tandatangani agar Om Gio leluasa mengurus perusahaan sementara sampai Papa sembuh," jelasnya.


"Aku ragu makanya aku bawa pulang dulu. Mau aku baca ulang nanti di rumah," ucap Matahari lagi.


Venus mengernyitkan alisnya. Namun dia tak mengatakan apa pun untuk menanggapi penjelasan Matahari mengenai surat yang diberikan oleh Gio.


"Ini sekarang kamu mau ke mana?" tanya Gio.


"Rumah sakit."


Gio mengangguk saja. Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah sakit.


"Sunny," panggil Venus.


"Hm?"


"Berikan amplop itu," pinta Venus.


"Ngapain?"


"Aku mau kasih ke Papa. Lagian kamu pasti nggak ngerti kan sama semuanya? Kalo sampai salah, bisa bisa perusahaan papamu kena masalah besar," ujar Venus.


Matahari diam sembari menatap amplop di tangannya. Benar yang dikatakan Venus, Matahari memang tidak mengerti apa pun tentang bisnis dan perusahaan. Dia juga bingung harus bertanya kepada siapa untuk memberinya pencerahan supaya dirinya tidak salah ambil keputusan.


"Aku takut ngerepotin," ucap Matahari.


Setelah beberapa detik berpikir akhirnya Matahari memberikan amplopnya kepada Venus. Dia akan memercayakannya kepada mantan kekasihnya itu.


"Makasih sebelumnya karena kakak mau bantu aku," ucap Matahari.


Venus hanya tersenyum. Dia mengulurkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Matahari dengan lembut.


Sesaat pandangan mereka bertemu dan terkunci. Di dalam hati keduanya masih merasakan sebuah kehangatan dan kenyamanan sama seperti saat mereka masih menjadi sepasang kekasih.


"A-aku mau turun," ucap Matahari sembari mengalihkan pandangannya dari Venus, memutuskan kontak mata mereka.


Venus tersenyum lantas menganggukkan kepalanya. "Perlu aku temani?" tanyanya.


"Nggak perlu. Sebaiknya kakak langsung pulang aja. Istirahat, besok sekolah," jawab Matahari.


"Kalo ada apa-apa, jangan sungkan hubungin aku," ucap Venus yang dibalas anggukkan oleh Matahari.


Gadis itu turun dari mobil lalu bergegas memasuki gedung rumah sakit untuk menemani papanya.


***


[Ay, kamu nggak masuk sekolah? Kamu masih nungguin papa kamu di rumah sakit?]


Matahari membaca sebuah pesan masuk dari nomor yang dia namai "Semestaku" di ponselnya. Dengan cepat dia langsung mengetikkan sesuatu untuk membalasnya.

__ADS_1


[Iya, aku masih di rumah sakit.]


Semestaku:


[Pulang sekolah nanti aku ke sana ya, Ay.]


Matahari:


[Boleh.]


Sementara di dalam kelas, Langit tersenyum sendiri membaca pesan yang dikirim Matahari kepadanya.


My Sunshine:


[Udah dulu ya, Langit. Sekarang kamu fokus belajar dulu, jangan chat-an terus sama aku.]


Langit:


[Siap, Ay]


My Sunshine:


[I love you.]


Langit:


[I love you too.]


Tiga kata ajaib terakhir yang diketik Matahari berhasil membuat hati Langit berbunga-bunga. Kalimat itu baru pertama kali dikatakan Matahari sejak mereka resmi menjadi pasangan kekasih. Dan sekarang Langit sangat tidak sabar ingin mendengarnya secara langsung dari mulut Matahari sendiri.


"Ehem."


Langit mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke arah Dimas yang duduk bersebelahan dengannya.


"Apaan?" ujar Langit ketus. Dia kembali menatap layar ponselnya membaca ulang pesan dari Matahari.


"Lo masih waras kan, Lang? Dari tadi gue liat lo senyum-senyum sendiri. Gue jadi takut," ucap Dimas mengejek.


Langit menoleh lalu mengendikkan kedua bahunya tak acuh. Setelah itu dia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


Di sisi lain Jasmin sedari tadi mencuri-curi pandang pada Langit. Dan hal tersebut disadari oleh Dimas. Begitu jam istirahat tiba, Jasmin memberanikan dirinya untuk menemui Langit.


"Lang," panggil Jasmin.


Sebelah alis Langit menaik melihat Jasmin. "Apaan?" tanyanya datar.


"Bisa bicara sebentar gak? Tapi nggak di sini," ucap Jasmin.


Gadis itu melirik Dimas sesaat lalu kembali menatap Langit.


"Gue ke lapang duluan, Lang. Nanti lo nyusul," pamit Dimas. Dia beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan Langit dan Jasmin.


"Gak ada siapa-siapa di sini, lo bisa ngomong sekarang," ucap Langit kepada Jasmin.


"Lang, lo bener-bener gak bisa ngasih gue kesempatan sekali aja buat jadi pacar lo ya?" tanya Jasmin.

__ADS_1


Dia menatap Langit dengan sorot yang berbinar teduh. Helaan napas panjang terdengar keluar dari mulut Langit. Dia memalingkan wajah ke arah lain, seharusnya pembahasan seperti ini tak perlu lagi dibicarakan.


"Gue udah lama suka sama lo, Lang. Lo tau itu kan? Tapi kenapa lo malah suka sama sahabat gue, Lang? Harus banget ya, lo pacaran sama Matahari?" ujar Jasmin lagi.


__ADS_2