Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 21


__ADS_3

“Kak Matahari, aku—“


Suara Bulan tercekat, langkah yang semula ingin mengejar Matahari pun terhenti. Dia terpaku melihat semua barang-barangnya ada di luar kamar. Gadis itu menatap Matahari yang baru saja akan memasuki kamarnya.


“Kak, ini kenapa barang-barang aku ada di luar?” tanya Bulan, terheran. Dia menunjuk barang-barangnya lalu berjalan mendekati Matahari.


Sebelah alis Matahari terangkat sembari menatap Bulan datar. Kemudian dia melihat ke arah tas dan juga koper milik Bulan yang sudah dia keluarkan dari kamarnya. Sengaja, Matahari tidak suka orang lain memasuki kamarnya tanpa izin.


“Oh, jadi ini punya lo?” tanya Matahari.


Bulan mengangguk. “Iya, Kak. Kata Papa aku boleh nempatin kamar ini bareng Kak Matahari,” jawab Bulan. “Tapi kenapa barang-barang aku ada di sini?” tanyanya kemudian.


“Gue yang keluarin.”


Bulan terkejut lantas refleks menatap Matahari. “Kenapa, Kak?”


“Gue pikir semua ini sampah, gak layak ada di kamar gue. Tadinya mau gue buang, tapi ternyata punya lo,” jawab Matahari santai.


Bulan langsung memeriksa barang-barang miliknya takut ada yang rusak. Namun, Matahari sama sekali tak memedulikannya. Matahari berbalik, hendak memasuki kamarnya, tetapi niat tersebut tertahan oleh Bulan.


“Kenapa Kak Matahari tega ngelakuin ini sama aku?” lirih Bulan. Gadis itu menegakkan tubuhnya agar sejajar dengan Matahari.


Pandangan keduanya beradu dan terkunci selama beberapa detik.


“Gue? Tega sama lo?” ulang Matahari. Dia menghela napas kasar. “Harusnya lo sadar diri sih,” ucapnya sarkas.


“Apa semua ini ada hubungannya sama Kak Venus? Kak Matahari marah sama aku karena Kak Venus lebih milih aku dari pada Kakak?”


Matahari tersenyum miring, sebelah alisnya menaik menatap Bulan datar.


“Lo bangga?” tanyanya datar. “Lo pikir Kak Venus beneran suka sama lo? Kayaknya nggak tuh.”


Matahari tersenyum mengejek, setelah itu Matahari pergi memasuki kamarnya tanpa menghiraukan Bulan lalu menutup pintunya rapat-rapat.


“Iiiishhh ....”


Bulan menggeram kesal sembari menghentak-hentakkan kakinya. Teringin sekali gadis itu menjambak Matahari saat ini juga. Namun, Bulan harus menahannya demi mendapatkan simpati dan perhatian dari papanya.


Bulan menghela napas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan untuk menetralkan emosinya.


“Sabar, Bulan, sabar. Sebentar lagi semua yang dimiliki Kak Matahari pasti akan berpindah menjadi milikku,” ucap Bulan.


Bulan turun meninggalkan barang-barangnya di depan kamar Matahari. Dia berjalan menuju ke ruang keluarga tempat orang tuanya berada saat ini. Gadis itu menghampiri mereka dengan ekspresi kesal bercampur sedih.


“Loh, kamu kenapa, Bulan? Kok cemberut gitu?” tanya Indira.

__ADS_1


Hadi yang sedang melihat acara TV pun langsung menoleh ke arah Bulan yang baru saja duduk di sofa tepat di samping Indira.


“Barang-barang aku dikeluarin sama Kak Matahari. Dia gak ngijinin aku tidur dikamarnya, Ma,” adu Bulan kepada Indira.


“Loh, kenapa dikeluarin?” tanya Indira.


“Nggak tahu, Ma. Ma, Pa, aku maunya tidur di kamar itu.” Bulan merengek sembari menggoyang-goyangkan lengan Indira.


“Masih banyak kamar kosong di rumah ini, kamu bisa tempati salah satunya,” ucap Hadi tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi. Hadi sudah menduganya bahwa Matahari pasti akan keberatan kamarnya ditempati oleh Bulan.


Bulan mengerlingkan matanya. “Aku maunya kamar Kak Matahari, Pa. Kenapa gak dia aja yang tidur di kamar lain? Dia kan udah lama nempatin kamar itu, gantian dong sekarang aku yang di sana.”


Bulan beranjak dari duduknya berpindah ke samping Hadi. “Pa, tolong bujuk Kak Matahari supaya dia mau pindah ke kamar lain, ya.”


Hadi yang semula sedang melihat televisi pun langsung melihat Bulan, menatap gadis itu lalu mengusap puncak kepalanya dengan lembut. Seulas senyum manis pun terukir di bibirnya.


“Nanti Papa bicara sama Matahari ya,” ucap Hadi.


“Makasih, Papa.” Tanpa sungkan Bulan memeluk Hadi.


Tanpa sepengetahuan mereka semua Matahari berdiri tak jauh dari sana menyaksikan perlakuan Hadi yang begitu lembut terhadap Bulan. Gadis itu mengepalkan tangan seiring denyut nyeri di dadanya seperti sesuatu *******-***** hatinya sangat kuat.


Satu pemandangan yang tidak pernah Matahari dapatkan seumur hidupnya. Setetes cairan bening lolos begitu saja dari matanya. Matahari memalingkan wajah sembari mengusap air matanya dengan kasar, dia tersenyum miring menertawakan dirinya sendiri.


Menghela napas panjang, Matahari berusaha menetralkan perasaannya supaya terlihat baik-baik saja. Setelah itu dia berjalan mendekati Hadi.


Sontak saja semua yang sedang berkumpul di ruang keluarga itu menoleh ke arah Matahari termasuk Hadi.


“Ah, Matahari, kebetulan sekali,” ucap Hadi. “Begini, Bulan bilang dia cuma mau tidur di kamar kamu. Papa bilang kalian boleh tidur sekamar, tapi kata Bulan kamu—“


“Aku ngeluarin barang-barangnya dari kamarku,” ucap Matahari, memotong perkataan Hadi.


Matahari menatap papanya lalu beralih melihat Bulan dan Indira secara bergantian.


“Papa mau nyuruh aku pindah ke kamar lain dan Bulan menempati kamar aku? Gitu?” tanya Matahari.


“Kamu kan sudah lama menempati kamar itu, sepertinya kamu butuh suasana kamar baru. Jadi, biarin Bulan menempatinya sekarang,” ucap Indira.


“Iya, Kak. Kakak pindah kamar aja, ya.” Bulan ikut menimpali perkataan mamanya.


Matahari tersenyum miring. “Papa mau minta aku pindah juga?” tanyanya kepada Hadi.


“Mengalah sama adik sendiri gak masalah kan, Matahari,” sahut Hadi.


Lagi-lagi Matahari tersenyum miring. Gadis itu menghela napas kasar. “Ngalah? Sama adik?” tanyanya bernada sinis sembari menatap tiga orang di hadapannya. “Siapa yang adik kakak? Aku sama dia?” sambungnya lagi. “Jangan mimpi!” tegasnya kemudian.

__ADS_1


Bulan dan Indira melotot, mereka menahan diri agar tidak emosi. Sementara Hadi, pria itu menatap Matahari dengan sorot yang sulit diartikan.


“Papa gak lupa kan? Ini rumah aku. Rumah peninggalan mamaku!” tegasnya. Matahari menghela napas kasar, menjeda perkataannya. “Kalian sebagai orang luar gak berhak memerintah tuan rumah sesuka hati kalian,” ucapnya kemudian.


“Matahari,” panggil Hadi.


“Apa? Papa mau menyangkal kenyataan kalau aku pemilik sah rumah ini dan mereka adalah orang luar yang menumpang di rumahku?”


Hadi beranjak berdiri lalu mendekati Matahari. Entah apa yang ada di dalam pikiran lelaki tua itu sekarang. Matahari pikir mungkin Hadi akan memukulnya atau memarahinya lagi seperti kemarin-kemarin.


“Papa tau Papa salah. Papa juga paham kamu masih belum bisa menerima kenyataan kalau kamu sudah memiliki keluarga baru.” Hadi menjeda perkataannya.


Ayah dan anak itu saling menatap satu sama lain dengan sorot yang sulit diartikan.


“Papa minta maaf kalau selama ini Papa bersalah sama kamu. Tapi semuanya sudah berlalu. Mama kamu sudah meninggal dan kita harus melanjutkan hidup kita dengan baik,” ucap Hadi.


Matahari diam sembari menatap Hadi dalam-dalam. Pelupuk matanya mulai menahan genangan cairan bening yang berlomba-lomba ingin keluar dari tempatnya.


“Dan mama meninggal karena Papa. Mama sakit sebab Mama tahu Papa selingkuh dengan dia.” Matahari berucap dengan suara bergetar. Dia menunjuk Indira sebagai biang dari permasalahan di dalam keluarganya dan juga penyebab kematian mamanya.


Matahari tersenyum miring seiring jatuhnya cairan bening dari matanya. “Dengan membawa mereka ke sini sama aja Papa nyiksa batin aku secara perlahan-lahan,” ucapnya bergetar.


Matahari menghapus air matanya dengan kasar. Dia melihat Indira lalu beralih melihat ke arah Bulan, setelah itu dia kembali menatap Hadi.


“Papa yakin dia adik aku? Papa benar-benar yakin kalau Bulan anak kandung Papa?” tanya Matahari sembai menunjuk ke arah Bulan.


Sontak saja Indira menggeram marah. Dia merasa terhina oleh perkataan Matahari baru saja, begitu pula dengan Bulan yang sakit hati karena dicurigai bukan anak kandung Hadi.


“Dengan kata lain kamu menuduh saya berzina dengan lelaki lain?” tanya Indira sembari menatap tajam Matahari. “Jangan sembarangan menuduh, apa lagi selama ini kamu tidak tahu apa pun tentang saya dan Bulan.”


“Kak Matahari jangan sembarangan bicara. Kakak boleh membenci kami tapi jangan fitnah kami seperti itu,” ucap Bulan. “Kakak tau kan kalau fitnah itu lebih kejam dari pada membunuh.”


Matahari menghela napas kasar. “Aku gak nuduh siapa pun. Aku hanya sedang bertanya sama papa apakah papa benar-benar yakin kalau kalian gak menyembunyikan rahasia apa pun dari papa. Itu aja kok,” ucapnya santai.


“Kamu—“


“Cukup!” tegas Hadi. Kepalanya mendadak terasa berdenyut nyeri mendengar pertengkaran antara anak dan istrinya.


“Ya udah, sih. Lagian aku juga males berdebat sama kalian,” ucap Matahari. Dia berbalik hendak pergi.


“Mau ke mana lagi kamu, Matahari? Kamu baru pulang tapi sudah mau keluar lagi,” tegur Hadi.


“Mau keluar, cari angin. Di sini sumpek,” ucap Matahari sembari terus melangkah, tak menghiraukan Hadi.


Matahari berhenti, dia berbalik ke belakang. “Oh iya, Bulan, tadi gue nyuruh Bi Marni buang sampah di kamar gue. Mending lo cek deh, mana tahu barang-barang lo ikut kebuang.”

__ADS_1


Kedua bola mata Bulan membulat sempurna, dia benar-benar geram kepada Matahari. Gadis itu menatap mama dan papanya lalu segera berlari ke lantai atas untuk melihat barang-barangnya.


__ADS_2