
Katanya, salah satu kesedihan paling mendalam adalah kehilangan seseorang. Dan itu sedang dirasakan oleh Venus sekarang.
Venus baru menyadari bahwa dirinya telah kehilangan Matahari akibat kesalahannya sendiri.
Tak ada lagi cinta dan kepercayaan, tak ada lagi perhatian yang selalu biasanya gadis itu berikan kepadanya. Yang ada hanya tinggal kenangan beserta sakit atas penyesalan.
Venus menyesal atas keputusan bodohnya yang lebih memilih melampiaskan rasa bosan atas hubungannya dengan Matahari dengan cara menghadirkan gadis lain di hidupnya. Venus menyesal karena dengan mudahnya tergoda oleh gadis yang ternyata tak jauh lebih baik dari Matahari.
Venus menghela napas kasar. Dia turun dari motornya lalu berjalan memasuki rumah dengan langkah gontai.
“Gimana keadaan Kak Matahari sekarang, Kak?” tanya Nina.
Adik kesayangannya itu langsung menodongnya, tak sabar ingin mengetahui kabar Matahari.
Venus mendongak, menatap Nina datar. “Dia sudah lebih baik. Besok sudah boleh pulang,” jawabnya.
“Syukurlah.” Nina menghela napas lega. “Terus gimana? Kakak udah minta maaf sama Kak Matahari? Dia maafin Kakak gak?”
Nina mengikuti Venus yang terus berjalan menuju ke arah dapur. Venus mengambil gelas lalu membuka lemari pendingin untuk mengambil air minum.
“Udah,” ucap Venus selepas meneguk air minumnya.
Dia bersandar pada meja makan sembari menatap kosong ke depan. Setelah itu Venus menghela napas kasar.
“Dia maafin kakak—“
“Jadi sekarang kalian balikan?” Nina tak sabar lantas memotong perkataan kakaknya. Dia sangat berharap Venus dan Matahari kembali bersama seperti dulu.
Namun, harapan itu sepertinya harus pupus ketika dia melihat Venus menggelengkan kepala menyangkal tebakannya.
“Dia nolak,” jawab Venus lemas. Dia menghela napas panjang.
“Wajar sih Kak Matahari nolak. Kalo keadaannya dibalik, aku juga pasti sakit hati banget jadi Kak Matahari dikhianatin sama cowok yang paling dia sayangi dan percayai dalam hidupnya,” ujar Nina sembari menatap Venus dalam-dalam.
__ADS_1
“Lagian Kak Venus juga sih, kok bisa-bisanya percaya gitu aja sama si Bulan. Dia kan emang aslinya uler, Kak. Makanya aku gak setuju Kak Venus hubungan sama dia pas waktu itu Kakak kasih tau kita,” ucap Nina.
Sejujurnya Nina merasa kasihan kepada kakaknya itu. Nina tahu seberapa besar cinta Venus kepada Matahari. Namun mau bagaimana lagi, toh semua ini juga karena kesalahan kakaknya sendiri.
“Gimana kakak gak percaya, bangun-bangun kakak tidur seranjang sama dia. Kakak pikir harus bertanggungjawab meskipun itu bukan keinginan kakak,” ucap Venus.
“Bodoh banget gue. Gara-gara itu hubungan gue sama Matahari hancur.”
“Sabar ya, Kak. Jadikan ini pelajaran buat ke depannya supaya gak terulang lagi,” ucap Nina lagi sembari mengusap pundak Venus.
Venus tak mengatakan apa pun. Dia menghela napas panjang lalu menyimpan gelas di tangannya di atas meja.
“Kakak ke kamar dulu, Dek,” ucap Venus yang dibalas anggukkan ringan oleh Nina.
Venus berjalan gontai meninggalkan Nina sendirian menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
“Kasian juga ngeliat Kak Venus sedih, tapi mau gimana lagi. Semuanya kan karena Kak Venus juga yang salah.” Nina menghela napas panjang selepas mengalihkan pandangannya dari Venus.
“Kak, lepasin. Kak Venus nyakitin aku, Kak,” keluh Bulan.
Venus menarik pergelangan tangan Bulan, membawa gadis itu menuju ke taman belakang sekolah. Dia tak peduli walaupun Bulan meronta dan menolak, Venus tetap membawanya pergi.
“Kak, sakit,” ucap Bulan lagi.
Venus menghempaskan tangan Bulan dengan kasar hingga membuat gadis itu terhuyung kehilangan keseimbangan tubuhnya dan hampir jatuh di atas tanah. Bulan meringis memegangi tangannya yang merah akibat Venus terlalu kencang mencengkeramnya.
“Kak Venus kenapa sih kasar gini sama aku? Salah aku ke Kakak apa?” Bulan menatap Venus dengan sorot berkaca-kaca. Jurus andalan yang selalu dia lakukan untuk menarik belas kasihan dari orang lain termasuk Venus.
“Lo emang gak bikin salah ke gue, tapi lo udah nyakitin Matahari. Itu salah lo!” ujar Venus serius dan penuh penekanan.
Jika kemarin-kemarin dia akan luluh dan merasa kasihan setiap melihat binar mata Bulan, kali ini Venus tidak ingin tertipu lagi dengan penampilan lugunya.
Bulan menggelengkan kepalanya, menyangkal semua yang dituduhkan Venus kepadanya.
__ADS_1
“Bukan aku, tapi Kak Matahari duluan yang mulai. Aku cuma berusaha melindungi diri aku tapi malah gak sengaja bikin Kak Matahari jatoh terus pingsan,” ucap Bulan.
Bulan meraih tangan Venus untuk dia genggam lalu mengusapnya lembut.
“Ini pasti Kak Matahari ngadu yang bukan-bukan ke Kak Venus ya, kan?” tanya Bulan. “Kak Matahari tuh emang sengaja mau hancurin hubungan kita, Kak. Dia masih belum rela kita pacaran makanya dia fitnah aku.”
Venus melepaskan tangannya dari Bulan. Dia memalingkan wajah ke arah lain beberapa detik lalu kembali menatap Bulan dengan sorot tajamnya.
“Stop jelek-jelekin Matahari di depan gue!” tegas Venus. “Makin ke sini makin keliatan wajah asli lo ya, Bulan. Gue pikir lo cewek baik-baik, lugu, polos, tapi ternyata lo uler.”
“Gue nyesel percaya sama lo. Gara-gara lo hubungan gue sama Matahari hancur,” ucap Venus lagi.
Seketika itu ekspresi Bulan berubah. Tampang lugu dan polos yang selalu dia perlihatkan selama ini ke semua orang seketika hilang berganti menjadi tampang yang licik penuh obsesi.
“Bagus deh kalo Kak Venus sadar. Sayangnya semua udah telat. Kak Matahari udah gak akan percaya lagi sama Kak Venus,” ucap Bulan dengan santai.
“Shit!”
“Kenapa? Mau marah? Marah aja silakan. Tapi perlu Kak Venus tau, semua ini belum berakhir,” ucap Bulan serius.
Venus mengernyitkan alisnya, mencerna maksud perkataan Bulan baru saja.
“Hubungan kita belum berakhir. Dan mungkin gak akan pernah berakhir,” ucap Bulan menegaskan.
“Gila lo, ya? Di antara kita gak ada hubungan apa-apa. Jangan pernah berharap walau sedikit pun karena gue gak sudi punya cewek modelan kaya lo!” tegas Venus penuh penekanan.
Venus berjalan melewati Bulan begitu saja. Namun, baru dua langkah dia menggerakkan kakinya, Venus berhenti lalu kembali melihat Bulan.
“Sekali lagi gue ingetin. Dengerin ini baik-baik, jangan pernah berani menyentuh atau bahkan nyakitin Matahari lagi atau lo akan tau akibatnya!” tegas Venus serius. Setelah mengancam dia langsung pergi meninggalkan Bulan sendirian.
Sebelah sudut bibir Bulan tertarik ke atas mengulas senyum miring dengan tatapan dingin terus terfokus pada satu titik yaitu Venus.
“Lo bakal nyesel, Kak, udah nyakitin hati gue. Apa pun yang terjadi lo hanya boleh buat gue seorang. Kalo gue gak bisa dapatin lo, yang lainnya pun juga gak akan bisa dapetin lo.”
__ADS_1