
Langit merasakan sesuatu bergetar cukup lama berasal dari saku jaketnya. Dia terpaksa menepikan motornya sejenak untuk melihat siapa yang menghubunginya.
Namun, begitu dia mengambil ponsel di dalam saku jaketnya, Langit menyadari itu bukan miliknya.
“Ini kan hp nya Matahari,” gumam Langit.
Dia terdiam sembari menatap layar ponsel Matahari. Di sana tertulis nama Venus dengan embel-embel hati sedang berusaha menghubungi pemilik ponsel.
Jari jempol Langit ingin menggeser icon berwarna hijau untuk terhubung dengan Venus. Namun dia urungkan niatnya itu. Langit membiarkan ponselnya mati dengan sendirinya.
Setelah memasukkan benda pipih itu ke dalam saku jaketnya, Langit memutar laju motornya untuk kembali ke rumah Matahari. Dia ingin mengembalikan ponsel tersebut kepada pemiliknya.
Seorang wanita tua menghampiri Langit begitu dia tiba di depan rumah Matahari dan langsung menanyainya.
“Maaf, mau ketemu sama siapa?” tanya Mbok Darmi— asisten rumah tangga yang selama ini bekerja di rumah Matahari.
“Matahari-nya ada, Mbok? Saya temennya. Mau kasih hp nya Matahari yang ketinggalan di saku jaket saya,” jelas Langit.
Mbok Darmi diam sejenak kemudian dia melihat ke sekitar rumah mewah tersebut.
“Non Matahari ada di dalam, Den. Tapi itu loh, Den, sekarang situasinya lagi panas di dalam,” ucap Simbok.
Langit mengernyitkan alisnya. “Panas gimana maksudnya?”
“Anu, Den. Non Matahari lagi bertengkar sama mama tirinya,” ucap Simbok dengan ragu-ragu.
Langit diam sembari menatap ke arah pintu dan jendela rumah mewah Matahari. Kemudian dia kembali menatap wanita tua di hadapannya.
“Oh, ya sudah kalo gitu saya titip HP-nya Matahari ya, Mbok. Tolong kasihkan ke dia,” ucap Langit sembari merogoh ponsel di dalam saku jaketnya lalu memberikan benda pipih itu kepada Simbok.
Simbok mengambil ponsel Matahari dari Langit.
“Makasih ya, Mbok. Kalo gitu saya permisi dulu,” pamit Langit.
Baru saja Langit akan memakai helmnya, namun niatnya harus tertahan karena tiba-tiba Mbok Darmi kembali memanggilnya.
“Den, Mbok mau minta tolong, boleh?”
“Minta tolong apa, Mbok?” tanya Langit.
Sedari awal datang sebenarnya Langit menyadari kegelisahan Mbok Darmi. Namun Langit mengabaikannya karena tidak mau ikut campur urusan orang lain.
“Bisa tolong lihat Non Matahari di dalam? Mbok khawatir terjadi sesuatu sama Non Matahari. Mbok mau bantuin tapi gak berani, takut dipecat, Den,” ucap Simbok.
Awalnya Langit ingin menolak, biar bagaimanapun dirinya hanya orang luar yang tak seharusnya ikut campur urusan orang-orang yang ada di dalam rumah tersebut. Namun, entah kenapa hatinya tergerak untuk masuk memastikan tak ada hal buruk yang terjadi kepada Matahari.
Sayangnya penglihatan Langit langsung disuguhi pemandangan tak mengenakkan.
Dia melihat Bulan sedang menyerang Matahari yang sudah terkulai lemas di atas lantai.
“Apa yang kalian lakukan?” teriak Langit.
Seketika itu Indira dan Bulan langsung melihat ke arah keberadaan Langit. Mereka sangat terkejut dengan kedatangan Langit yang sangat tak terduga.
“Siapa kamu? Berani-beraninya masuk ke rumah orang lain tanpa izin pemiliknya,” ujar Indira sinis.
Langit tak menghiraukan perkataan Indira. Dia berjalan dengan langkah lebar menuju ke arah Matahari yang sudah tak sadarkan diri.
“Matahari bangun,” ucap Langit sembari menepuk pipinya.
Langit panik dan cemas karena tak ada pergerakan dari Matahari. Dia segera memangku tubuh ramping gadis itu ingin membawanya ke rumah sakit.
“Kak Langit, ini gak seperti yang Kakak lihat.” Bulan hendak menjelaskan semuanya namun Langit tak menghiraukannya.
“Minggir, sialan!” bentak Langit yang sudah dipenuhi kecemasan akan keadaan Matahari.
“Mbok, cepat panggil ambulan ke sini sekarang juga!” teriak Langit kepada Simbok yang tadi masuk ke rumah mengikuti Langit.
“I-iya, Den. Mbok sudah telepon ambulan. Sebentar lagi ke sini,” ucap Simbok.
Sembari menggendong tubuh Matahari, Langit menatap tajam Indira dan Bulan secara bergantian.
__ADS_1
“Kalau sampai terjadi hal buruk kepada Matahari, kalian siap-siap aja mendekam di penjara!” ancam Langit serius.
Setelahnya dia bergegas membawa Matahari ke luar. Tak lama kemudian ambulan pun datang. Langit langsung membawa gadis itu ke rumah sakit.
Tak berselang lama Hadi baru saja sampai rumah saat ambulan itu pergi mengangkut Matahari menuju rumah sakit.
Kening Hadi mengernyit dalam begitu menyadari ambulan tersebut baru saja keluar dari area rumahnya. Dia langsung bergegas turun lantas menghampiri Mbok Darmi yang masih berdiri di halaman rumah.
“Apa yang terjadi, Mbok? Kenapa saya melihat baru saja ada ambulan dari sini?” tanya Hadi.
Simbok dengan keadaan yang sudah menangisi Matahari pun terlihat lega melihat Hadi pulang. Namun saat Simbok ingin menjelaskan semuanya, niatnya digagalkan oleh Indira dan juga Bulan.
“Non Matahari, Tuan. Ambulan tadi membawa Non Matahari ke rumah sakit,” ucap Simbok dengan suara bergetar serta sorot kecemasan tersirat di matanya.
“Matahari? Matahari kenapa, Mbok?” tanya Hadi lagi.
“Nyonya Indira dan Non Bulan—“
“Mas, kamu sudah pulang.”
Indira berjalan tergesa mendekati Hadi diikuti Bulan sehingga perkataan Simbok terpotong sebelum berhasil mengatakan semuanya.
“Indira, Bulan, kalian? Kenapa penampilan acak-acakan seperti ini?” tanya Hadi.
Indira melirik Mbok Darmi lantas memelototinya membuat wanita tua itu takut dan langsung menundukkan kepalanya.
“Ini semua perbuatan Kak Matahari, Pa,” adu Bulan.
Kening Hadi mengernyit dalam. Dia melihat Bulan dan Indira secara bergantian dengan seksama.
“Iya, Pa. Matahari tiba-tiba saja menyerang kami sampai seperti ini. Lalu karena kami ingin melindungi diri, aku gak sengaja dorong Matahari sampai dia jatuh terus pingsan,” jelas Indira disertai kebohongan.
Simbok yang mendengar istri majikannya sudah berbohong pun langsung mendongak melihat Indira dan Bulan. Dia ingin mengatakan sesuatu kepada Hadi, tetapi lagi-lagi urung karena kode ancaman dari Bulan dan Indira.
“Apa?”
Hadi menghela napas kasar. Dia langsung memijit pangkal hidungnya yang mendadak terasa sakit.
“Tuan, sebaiknya sekarang Tuan ke rumah sakit. Mbok khawatir terjadi sesuatu kepada Non Matahari,” ucap Simbok kepada Hadi.
Tanpa banyak berbicara lagi, Hadi kembali menekan tombol pembuka pintu mobil yang terkunci lalu segera masuk bersiap akan pergi.
“Mas, kamu mau ke mana?” tanya Indira.
“Rumah sakit,” jawab Hadi.
“Aku ikut, Mas.”
“Bulan juga ikut, Pa.”
Tanpa menunggu sahutan dari Hadi, Indira dan Bulan ikut masuk ke mobil ingin pergi bersama Hadi ke rumah sakit.
Sepanjang jalan Indira dan Bulan mengatakan hal buruk tentang Matahari kepada Hadi. Bahkan mereka memutar balikkan fakta sehingga semua kesalahan ada di Matahari.
Di sisi lain Langit terlihat sangat cemas menunggu dokter selesai memeriksa keadaan Matahari. Dia benar-benar takut terjadi hal buruk kepada gadis itu.
“Gimana keadaan Matahari, Dokter?” tanya Langit begitu melihat Dokter Kevin keluar.
“Dia baik-baik saja dan sedang istirahat sekarang,” ucap Dokter Kevin. “Tapi apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa banyak memar di tubuh Matahari?” tanyanya kemudian.
Dokter Kevin langsung menangani Matahari begitu dia tahu gadis itu dibawa ke rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri. Dia meminta izin kepada dokter yang akan memeriksanya dengan beralasan bahwa dirinya adalah dokter yang menangani Matahari selama ini.
Langit menghela napas kasar. “Saya tidak tahu apa yang terjadi, begitu saya sampai di rumahnya Matahari sudah dalam keadaan seperti tadi,” jelasnya kepada Dokter Kevin.
“Beruntung kamu membawanya tepat waktu, andai terlambat sedikit saja nyawanya bisa terancam.”
“Seserius itu?” tanya Langit.
Dokter Kevin mengangguk mengiakan.
Mendengar hal itu Langit mengepalkan kedua tangannya serta mengeraskan rahangnya.
__ADS_1
Tak lama setelah itu Hadi sampai di rumah sakit. Dia langsung bergegas menuju ke ruang rawat Matahari begitu dia sudah mengetahuinya dari petugas resepsionis.
Seketika itu atensi perhatian Langit dan Dokter Kevin teralihkan kepada Hadi yang datang bersama istri dan anaknya yang lain.
Emosi Langit menggebu. Andai bukan seorang wanita yang akan dia hadapi, Langit ingin menghajar Indira dan Bulan untuk membalaskan atas perbuatannya kepada Matahari.
“Dokter, bagaimana keadaan putri saya?” tanya Hadi.
Dokter Kevin terdiam beberapa detik sembari menatap Hadi dengan pandangan yang sulit diartikan. Selama ini dia baru tahu sekarang sosok seorang Hadi Wijaya.
“Matahari sedang istirahat sekarang,” ucap Dokter Kevin.
“Apa dia baik-baik saja?” tanya Indira cemas.
Pandangan Kevin beralih kepada Indira. Dia menatap wanita paruh baya yang usianya tak jauh berbeda dengan mamanya.
“Andai terlambat ditangani, mungkin nyawanya tak tertolong,” ucap Dokter Kevin. “Syukurlah dia baik-baik saja sekarang,” sambungnya lagi.
Indira dan Bulan menghela napas lega mendengar Matahari baik-baik saja. Karena kalau tidak, mereka terancam dilaporkan ke polisi.
“Boleh kami menjenguk Matahari sekarang?” tanya Hadi.
Dokter Kevin mengangguk. “Silakan,” katanya.
Hadi beserta Indira dan Bulan pun pergi untuk melihat keadaan Matahari di ruang rawatnya.
Sementara itu Langit masih di luar bersama Dokter Kevin.
“Bisa kamu ceritakan kepada saya lebih jelas apa yang terjadi kepada Matahari? Saya melihat dua wanita tadi juga memiliki memar di wajah mereka,” ucap Dokter Kevin kepada Langit.
Lagi- lagi Langit menghela napas kasar. “ Saat saya datang untuk mengantarkan ponsel Matahari yang tertinggal di saku jaket saya, saya melihat mereka sedang menyiksa Matahari yang sudah tak sadarkan diri.”
Mendengar hal tersebut Dokter Kevin langsung mengepalkan kedua tangannya dengan rahang mengeras.
“Andai ponsel Matahari gak tertinggal dan saya gak datang untuk mengembalikannya, entah apa yang akan terjadi pada gadis itu,” lirih Langit.
Jelas saja dia merasakan sesak di dadanya. Langit tak rela melihat Mataharinya terluka.
Dokter Kevin menepuk pundak Langit sembari menatapnya serius.
“Sepertinya kamu sangat peduli kepada Matahari,” ucapnya. “Selama ini saya hanya bisa menjaganya dari kejauhan. Banyak hal yang terjadi kepada Matahari yang tidak saya ketahui,” ucap Dokter Kevin lagi.
“Saya titip Matahari ke kamu, Langit. Tolong jaga dia dari orang-orang yang ingin menyakitinya,” ucap Dokter Kevin lagi.
Jelas saja Langit tak mengerti mengapa Dokter Kevin bicara seperti itu kepadanya. Dia ingin bertanya namun niatnya tertahan karena dokter itu berpamitan untuk menangani pasien lain.
Tak lama kemudian Hadi keluar dari ruangan Matahari. Dia melihat Langit sedang duduk di kursi besi yang ada di koridor rumah sakit.
Langit mendongak saat matanya tak sengaja melihat sepatu seseorang di hadapannya. Seulas senyum ramah dia dapatkan dari Hadi sebelum lelaki paruh baya itu duduk di sebelahnya.
“Kamu temannya Matahari?” tanya Hadi yang langsung dibalas anggukkan oleh Langit.
“Siapa nama kamu?” tanya Hadi.
“Saya Langit, Om.”
Hadi mengangguk pelan. “Terima kasih sudah membawa Matahari ke rumah sakit, Nak Langit,” ucapnya kemudian.
“Sama-sama,” sahut Langit.
Langit diam sejenak sembari menatap lelaki paruh baya di sebelahnya dengan sorot yang sulit diartikan.
“Maaf, Om. Saya boleh bertanya sesuatu sama Om?” tanya Langit kemudian.
Meski bingung Hadi tetap menganggukkan kepalanya mengiakan bersamaan dengan itu Indira dan Bulan ikut keluar menyusul Hadi.
Langit melirik sekilas kepada dua wanita itu lalu kembali menatap Hadi.
“Apa selama ini Matahari sering mendapatkan kekerasan seperti tadi?” tanyanya serius.
Hadi langsung menoleh ke arah istri dan anak keduanya dengan sorot yang sulit dijelaskan.
__ADS_1
“Saya gak mau ikut campur urusan keluarga kalian, tapi jika sampai terjadi hal seperti ini lagi ke depannya, saya akan pastikan untuk mengambil langkah jalur hukum!” tegas Langit.