Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 61


__ADS_3

Bukk!


Bukk!


Bukk!


"Anak sial4n! Berani-beraninya lo kabur dari gue!"


Seorang pemuda meringkuk dengan banyak luka di sekujur tubuhnya di sebuah bangunan kosong dan kumuh. Dia tidak bisa melawan ketika orang-orang jahat itu terus memukulinya dengan membabi buta karena mereka mengikat tubuhnya.


"Katakan di mana lo simpan sertifikat tanah perkebunan milik ibumu itu! Di mana lo menyembunyikannya?!" teriak seorang lelaki berbadan besar sembari mencengkeram dagu Langit sangat kuat.


Tak jauh dari tempatnya beberapa orang lainnya menonton kekerasan tersebut terjadi di depan mata mereka dengan seringai penuh kepuasan.


Langit merasakan dad4nya sangat sesak, seluruh tubuhnya sangat sakit. Dia terbatuk seiring cairan kental berwarna merah segar keluar dari mulutnya ketika orang itu menendang tepat di perut dan d4danya.


Namun meskipun begitu, Langit masih berusaha memperlihatkan senyum miring. Tatapan matanya menampakkan keangkuhan yang menandakan bahwa dirinya tidak akan mengalah meskipun nyawanya terancam.


"Jawab, si4lan atau lo gue bunuh sekarang juga!" teriak Bayu, ayah tiri Langit.


"Lo nggak berhak atas semua itu, bangs4t! Sampai mati pun gue nggak akan kasih tau lo di mana sertifikat itu berada!" tegas Langit.


Bayu mengeraskan rahangnya lalu mengempaskan Langit dengan kasar. Dia yang semula berjongkok di hadapan Langit pun mulai beranjak berdiri. Kobaran api di dalam sorot matanya menandakan amarah yang tak bisa dia bendung lagi.


Langit kembali terbatuk-batuk seiring rasa sakit dan sesak di dad4nya. Dia mendongak, membalas tatapan tajam Bayu tanpa rasa takut sedikit pun.


"Udah cukup lo rusak semua peninggalan mama dan nenek, gue nggak akan biarin satu-satunya harta peninggalan keluarga gue habis karena keserakahan lo!" tegas Langit.


"Kurang4jar! Sial4n lo, dasar anak haram!" Bayu murka, dia menendang perut dan kepala Langit bagaikan sebuah bola.


Langit tak berdaya. Dia terkapar di atas tanah dengan cairan kental berwarna merah berceceran di sekitarnya. Perlahan-lahan penglihatan Langit mulai buram, dia tak bisa lagi menahan kesadarannya.

__ADS_1


"Bay sudah, Bay. Berhenti menghanjar anak lo! Kalo seperti ini dia bisa mati dan kita semua malah masuk penjara." Salah satu teman Bayu menahan Bayu yang saat ini sedang dikuasai emosi.


Lelaki pemabuk ini tak bisa menahan diri untuk tidak menghajar Langit. Bahkan dia tidak segan ingin membunuhnya karena Langit sangat keras kepala.


Bayu membutuhkan sertifikat tanah perkebunan milik mamanya Langit untuk membayar utang-utangnya, tetapi Langit malah menyembunyikan sertifikat itu. Bayu sudah mencoba mencarinya ke mana-mana, namun hasilnya nihil.


"Dia bukan anak gue, bangsat! Dia hanya anak haram yang nggak jelas asal usulnya!" ujar Bayu masih merasa murka walau keadaan Langit sudah diambang kematian.


"Oke, oke dia bukan anak lo. Tapi lo harus kendaliin amarah lo sekarang. Kalo sampai dia mati selamanya lo nggak bakal bisa nemuin sertifikat tanah itu dan lo akan terus dikejar rentenir," ujar Iwan kepada Bayu.


Deru napas Bayu menaik turun tak beraturan. Dia masih menatap Langit dengan penuh kebencian, rasa tidak puas masih menguasai otak dan hatinya.


"Ayo pergi dari sini sebelum ada orang yang melihat kita." Iwan menarik Bayu untuk segera meninggalkan tempat kumuh itu.


Bayu dan yang lainnya meninggalkan Langit terkapar tak sadarkan diri sendirian.


***


"Apa yang terjadi?" Matahari merasa bingung akan sikap Hadi yang tiba-tiba saja meminta maaf kepadanya.


Lelaki paruh baya itu terbatuk-batuk, napasnya begitu sangat sesak sehingga membuat Matahari merasa tidak tega telah mengganggu istirahatnya.


"Papa jangan banyak bicara dulu ya. Papa baru aja siuman, harus banyak istirahat dulu," ucap Matahari.


Hadi masih menatap Matahari sendu, otaknya berputar membawanya ke kejadian beberapa waktu yang lalu di mana dia sudah siuman tetapi keadaannya belum diketahui siapa pun.


Lalu tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka dan terdengar suara dua orang yang tak asing di pendengarannya sedang berbincang dan mendekat ke arahnya. Mereka tidak tahu kalau kesadaran Hadi sudah kembali.


"Aku sudah meminta anak itu untuk menandatanganinya, tapi sepertinya dia ragu dan meminta sedikit waktu untuk berpikir," ucap Gio kepada Indira.


"Tapi dia nggak curiga sama kamu kan?" tanya Indira.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, nanti aku akan berusaha meyakinkannya lagi. Anak itu tidak mengerti tentang perusahaan, tentunya dia tidak ingin membuat perusahaan yang sudah susah payah orang tuanya bangun harus bangkrut begitu saja," jelas Gio.


Lelaki paruh baya itu kemudian menatap Hadi yang masih tertidur di ranjangnya.


"Kamu juga jangan lalai menjaga Hadi. Jangan sampai dia bangun lebih cepat. Bila perlu kamu harus mencari cara untuk segera menyingkirkannya dari dunia ini," ucap Gio kepada Indira.


"Kamu pikir selama ini aku hanya duduk diam saja gitu? Aku juga sudah berusaha untuk melenyapkannya dari dulu," sahut Indira.


"Tapi selalu gagal kan?" Gio berucap dengan nada mengejek. "Itu artinya kamu tidak becus!" sambungnya lagi.


"Tutup mulutmu, Gio! Bukannya kamu juga mencoba meracuni Hadi kemarin, tapi kamu juga gagal kan. Jadi, berhenti menyalahkan aku saja!" sahut Indira.


Hadi mengepalkan tangannya, mencengkeram kain sprei yang membungkus kasurnya. Tanpa sepengetahuan Indira dan Gio, Hadi mendengar semuanya.


Andai dia memiliki kekuatan, Hadi ingin menghajar Gio saat ini juga. Bagaimana tidak, Gio adalah orang yang dia percayai selama ini. Hadi selalu mendengarkan nasihat Gio dalam menyelesaikan masalah, baik itu mengenai perusahaan atau pun masalah pribadinya.


Lalu Indira, bagaimana mungkin istrinya itu juga mengkhianatinya?


Niat Hadi ingin memberi tahu Indira bahwa dirinya sudah bangun pun urung. Dia memilih untuk berpura-pura belum sadar untuk bisa mendengar informasi lebih banyak lagi kejahatan yang Indira dan Gio lakukan dari mulut mereka sendiri.


Hingga satu kenyataan telak memukul tepat di hati Hadi. Kematian Melati, istri pertamanya ternyata ada campur tangan dari Indira dan Gio. Juga tes DNA Matahari, mereka dengan sengaja memalsukannya.


Entah berapa banyak lagi kebohongan dan rahasia yang Indira dan Gio sembunyikan darinya. Hadi benar-benar sudah tertipu. Mereka membodohinya bertahun-tahun lamanya.


"Papa kenapa nangis?" tanya Matahari yang tiba-tiba saja melihat Hadi mengeluarkan air matanya.


Lelaki paruh baya itu menggelengkan kepalanya dengan lemah, lalu segera menghapus jejak air matanya.


"Papa menyesal sudah menyia-nyiakan putri Papa," ucap Hadi dengan suara bergetar.


Matahari menggenggam tangan Hadi yang tidak dipasang infus dengan sangat lembut.

__ADS_1


"Terlalu banyak kesalahan Papa sama kamu, Matahari. Kamu memang pantas membenci Papa," ujar Hadi lagi.


"Matahari nggak pernah benci sama Papa. Matahari sayang sama Papa," ucap Matahari.


__ADS_2