
“Kak Venus jadi jemput aku kan?” tanya Bulan.
Suara gadis itu terdengar lembut menyapa telinga Venus melalui sambungan telepon. Venus sedang mengeluarkan motor dari garasi rumahnya untuk dipanasi terlebih dulu sebelum dia pakai untuk pergi ke sekolah.
“Jadi,” jawab Venus singkat.
“Oke. Kalau gitu aku siap-siap dulu. Aku tutup dulu teleponnya ya, Kak,” ucap Bulan.
“Hm.”
Tak lama setelah itu sambungan telepon pun terputus. Venus menatap layar ponselnya sekilas, dia seperti sedang menunggu kabar dari seseorang. Namun beberapa detik kemudian lelaki itu menghela napas panjang dengan ekspresi kecewa.
Venus memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, setelah itu dia naik ke motornya. Tak menunggu lama lagi dia langsung melesat meninggalkan area rumahnya, membelah jalan raya dengan kecepatan sedang.
Sekilas bayangan kejadian malam kemarin berputar kembali di otak Venus mengiringi perjalanannya. Dia masih belum sepenuhnya percaya bahwa Bulan adik tiri Matahari. Sebagian hati kecil Venus tiba-tiba saja merasa bersalah kepada Matahari.
Venus menghela napas kasar. Dia mencoba untuk menetralkan perasaannya dan menjaga fokusnya mengendarai motor supaya tidak celaka. Saat Venus sudah berada di dekat lokasi tujuan, Venus melewati penjual bubur ayam langganannya dan Matahari.
Refleks Venus menghentikan motornya. Dia terdiam dengan tatapan lurus ke depan. Otaknya seolah ditarik kembali pada kenangan dulu ketika dirinya masih berpacaran dengan Matahari. Hampir setiap pagi ketika Venus menjemput Matahari, mereka akan mampir di sini untuk membeli sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Sekarang semua hanya tinggal kenangan.
“Eh, Nak Venus. Ke mana saja sudah lama gak mampir ke sini? Si Neng Matahari juga sudah lama gak beli bubur di sini?”
Tiba-tiba saja suara seseorang yang bertanya kepada Venus membuyarkan lamunannya. Dia melihat ke arah sumber suara mendapati seorang pria paruh baya sedang melihatnya sembari tersenyum menyapanya.
Venus tersenyum simpul. Entahlah, Venus kesulitan menjawab pertanyaan sederhana tersebut.
“Eh, iya, Mang. Sekarang saya sarapan dulu di rumah sebelum berangkat, makanya gak pernah mampir ke sini lagi,” jawab Venus.
“Oh, gitu.” Si Mamang penjual bubur pun menganggukkan kepalanya. Sedetik kemudian pria paruh baya itu kembali melihat Venus lalu bertanya, “Mau jemput Neng Matahari, ya?”
Seketika itu Venus langsung menggaruk tengkuknya yang tak gatal, tetapi di detik berikutnya dia menganggukkan kepala. “Iya, Mang. Saya permisi dulu, mau jemput takut kesiangan,” ucapnya diiringi senyum ramah.
“Iya iya, silakan, Nak Venus. Hati-hati, salam buat Neng Matahari-nya.”
__ADS_1
Venus tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Dia kembali menyalakan mesin motor lalu melaju meninggalkan tempat itu.
Begitu sudah agak jauh dari pedagang bubur tadi, Venus langsung menghela napas panjang. Dia menarik gas hingga motornya melaju lebih cepat dari sebelumnya.
Seulas senyum manis menyambut kedatangan Venus yang baru saja sampai di depan rumah Matahari. Bulan yang sudah menunggu sejak tadi langsung berjalan menghampiri Venus.
“Kok lama banget? Aku udah nunggu dari tadi tau, Kak,” ucap Bulan manja.
“Maaf, tadi ada sedikit masalah,” jawab Venus.
“Ya udah, yuk berangkat sekarang. Takutnya kita telat ke sekolah,” ajak Bulan.
Venus melihat ke sekitar rumah seperti mencari sesuatu. Detik selanjutnya pandangan Venus beralih melihat Bulan yang masih berdiri di samping motornya.
“Mama sama Papa kamu mana?” tanya Venus.
“Papa udah berangkat ke kantor. Kalau Mama lagi di dapur kayaknya, tapi aku tadi udah pamitan kok. Jadi kita bisa langsung pergi,” jawab Bulan diiringi senyum manis. Kedua tangan gadis itu mencekal tali tas gendongnya, menatap Venus dengan tatapan polosnya.
Venus hanya mengangguk. Dia kembali terdiam, di otaknya ingin bertanya tentang Matahari, tetapi mulutnya terasa kelu.
“Eh, ya.”
“Ngelamunin apaan sih?” Bulan cemberut menyadari kekasihnya malah melamun.
“Gak ada kok,” kilah Venus. “Berangkat sekarang? Pake dulu helm-nya.” Dia memberikan helmnya kepada Bulan.
Tepat saat Venus dan Bulan akan berangkat, bertepatan dengan kedatangan Matahari yang baru saja pulang ke rumahnya.
Langkah Matahari terhenti. Dia menatap Bulan dan Venus secara bergantian dengan sorot yang sulit ditebak. Refleks kedua tangannya mengepal erat, ingin mengatakan sesuatu kepada Mereka tetapi hanya tertahan di dalam hatinya.
Matahari memalingkan wajahnya lalu menghela napas panjang.
“Kak Matahari dari mana aja? Kenapa semalam nggak pulang, Kak? Mama sama Papa khawatir sama Kak Matahari,” ucap Bulan. Dia kembali turun dari motor Venus dan berjalan mendekati Matahari.
__ADS_1
Satu alis Matahari naik ke atas. Pandangannya tajam melihat Bulan yang kini sedang mendekat ke arahnya.
“Gue dari mana, itu bukan urusan lo!” sahut Matahari sinis.
“Tapi Kak, aku—“ Bulan mengulurkan tangannya ingin menyentuh tangan Matahari tetapi Matahari menepisnya hingga gadis itu terhuyung beberapa langkah ke belakang.
“Jangan sentuh gue!” tegas Matahari.
“Bulan ....”
Venus turun dari motornya dan langsung menghampiri Bulan, menahan tubuh gadis itu supaya tak terjatuh ke tanah. Seketika itu pandangan Venus tertuju pada Matahari yang masih bergeming di tempatnya semula sembari melihat ke arahnya dan Bulan. Venus menatap Matahari tajam.
Tatapan itu baru kali ini Matahari melihatnya. Matahari tersenyum simpul ketika otaknya mulai menyadari bahwa lelaki di hadapannya benar-benar telah berubah. Venus berani menatapnya seperti sedang melihat musuh demi untuk melindungi Bulan.
Jujur saja Matahari pun merasa kaget karena Bulan hampir saja terjatuh. Matahari merasa tidak mendorong Bulan dengan kuat. Jadi, tak seharusnya gadis itu terhuyung seperti yang dilakukannya sekarang.
“Bisa gak lo gak kasar kaya gini?” tanya Venus kepada Matahari bernada dingin.
Matahari memutar bola matanya malas. “Gue gak kasar, emang dasar cewek baru lo nya aja yang lemah!”
Matahari membalas tatapan dingin Venus. Pandangan mereka terkunci selama beberapa detik, lalu Matahari memalingkan wajahnya ke arah lain dan menghela napas panjang.
Matahari kembali meluruskan pandangannya, menatap Bulan dengan tatapan dingin.
“Bagus juga akting lo. Ini pasti berkat didikan nyokap lo itu,” ucap Matahari menyindir Bulan.
“Kenapa Kak Matahari ngomong gitu?” lirih Bulan. “Aku ngerti perasaan Kak Matahari sekarang. Kakak pasti kecewa karena aku dan mama tiba-tiba masuk ke dalam kehidupan Kak Matahari. Aku minta maaf. Tapi gak seharusnya Kakak bersikap kayak gini ke aku sama mama.”
Matahari tersenyum sarkas mendengar perkataan Bulan baru saja. Gadis itu seperti benar-benar sudah terlatih dalam ber-akting, sehingga jika seseorang yang tak tahu permasalahannya tentu akan merasa simpatik kepada Bulan dan membenci sikap Matahari.
“Udah akting sedihnya?” Matahari berucap dengan nada sinis sembari menatap Bulan dengan tatapan tajam.
“Cukup, Sunny!” bentak Venus. “Bulan sudah bersikap baik sama kamu, gak seharusnya kamu bersikap buruk seperti ini sama dia,” ucap Venus.
__ADS_1
Matahari tercekat sembari menatap Venus dengan sorot penuh kekecewaan. Kedua tangannya mengepal erat. Tak lama kemudian dia tersenyum miring kepada Venus.
“Gue kecewa sama lo, Kak.”