
FLASHBACK
Beberapa hari sebelumnya Venus menemui Matahari. Sekali lagi dia meminta kepada gadis itu untuk memperbaiki hubungan mereka. Namun, bukannya menyambut Matahari malah memberikan Venus sebuah alat tes kehamilan milik seseorang.
"Apa ini?" tanya Venus.
"Alat tes kehamilan."
"Iya, aku tau. Tapi ini punya siapa dan apa hubungannya sama aku?" tanya Venus lagi.
"Ini milik Bulan. Dia positif hamil," ucap Matahari.
Kedua alis Venus saling bertautan dengan pandangan fokus menatap Matahari dalam kebingungan.
"Bulan hamil anak lo, Kak?" tanya Matahari.
"Hah?" Venus terkejut.
"Kak Venus kan yang menghamili Bulan?" tanya Matahari sangat serius. "Tanggungjawab, Kak. Jangan jadi cowok pengecut!"
"Tunggu, Sunny. Kamu dapat ini dari mana dan kenapa kamu bisa ngira aku pelakunya?" tanya Venus.
"Simbok yang menemukannya di kamar Bulan." Perkataan Matahari terjeda selama beberapa detik. Mulutnya mendadak terasa kelu, dia menatap Venus dengan mata berkaca-kaca. "Gue gak habis pikir sama lo, Kak. Bisa-bisanya lo ngejar-ngejar gue, minta balikan sama gue di satu sisi lo udah ngerusak gadis lain," ucap Matahari dengan suara bergetar.
"Kamu salah, Sunny. Bukan aku yang melakukan itu kepada Bulan. Bukan aku pemilik janin yang di kandung Bulan," jelas Venus serius.
Sebelah sudut bibir Matahari tertarik ke atas. Sorot matanya memperlihatkan kekecewaan terhadap Venus. "Kalau bukan kakak lalu siapa? Kakak mau nyalahin orang lain dan lari dari tanggungjawab, gitu?"
Venus menghela napas kasar. Entah harus bagaimana supaya Matahari percaya kepadanya bahwa semua yang terjadi kepada Bulan bukan dari perbuatannya.
"Gue kecewa sama lo, Kak," ucap Matahari lagi.
Gadis itu berbalik lalu beranjak pergi meninggalkan Venus. Namun, langkah gadis itu terpaksa terhenti ketika Venus tiba-tiba mengatakan sesuatu kepadanya.
"Aku sebrengsek itu ya di mata kamu sekarang? Sampai-sampai kamu gak mau percaya sama aku," ucap Venus.
"Aku berkata jujur, Sunny. Sebrengsek apa pun aku, gak pernah ada niat sedikitpun buat ngerusak perempuan karena aku juga punya adik perempuan," ujar Venus.
Venus melihat Matahari masih terdiam di tempatnya. Gadis itu bahkan tak mau berbalik untuk melihatnya. "Aku pasti bakal buktiin kalau semua itu nggak bener. Dan ketika nanti aku berhasil mendapatkan bukti itu, aku harap kamu percaya sama aku dan mau kasih aku kesempatan buat perbaiki hubungan kita."
"Sunny, aku benar-benar sayang dan cinta sama kamu," jelas Venus.
Kedua tangan Matahari refleks mengepal mencengkram ujung roknya. Sesaat kepalanya tertunduk sembari memejamkan mata secara singkat. Matahari menghela napas panjang. Tanpa mengatakan apa pun dia bergegas meninggalkan Venus sendirian.
__ADS_1
Venus merogoh ponsel dari dalam saku celananya lalu mencari nomor seseorang untuk dia hubungi.
"Gimana? Lo udah dapatin yang gue minta? Gue butuh itu secepatnya," ucap Venus kepada seseorang di seberang teleponnya.
Sejujurnya, Venus sedang mencari bukti video atau rekaman tentang Bulan yang pernah menjebaknya. Ia ingin tahu apakah benar dirinya telah tidur dengan gadis itu atau tidak. Jika benar, maka Venus akan bertanggungjawab atas perbuatannya. Namun jika tidak, dia tidak akan pernah memaafkan Bulan.
"Dapatkan semuanya secepat mungkin!" titah Venus. Setelah itu sambungan telepon pun berakhir karena Venus yang mengakhirinya.
Venus menghela napas kasar. Dia terpaku sejenak menatap bayang Matahari yang telah menghilang dari pandangannya.
FLASHBACK OFF
***
Langit :
[Di mana? Mau jalan-jalan gak?]
Me :
[Di rumah. Boleh.]
Belum lima menit Matahari mengirimkan balasan pesan Langit, lelaki itu sudah kembali mengiriminya pesan lagi.
Langit :
Membaca pesan tersebut Matahari mengernyitkan alisnya. Dia beranjak dari tempat tidur lalu berjalan ke arah jendela kamarnya untuk mengintip. Benar saja, Langit sudah menunggunya di depan rumahnya.
Me :
[Buset dah, cepet banget, Lang. Ini aku belum siap-siap loh.]
Langit :
[Aku tungguin. Udah sana siap-siap dulu.]
Matahari tersenyum. Dia menyimpan ponselnya di atas nakas lalu bergegas keluar dari kamarnya untuk menemui Langit.
"Lang," panggil Langit.
Orang yang dipanggil langsung menoleh ke arah sumber suara, mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya. Seulas senyum manis terukir di bibir Langit. Dia turun dari motornya menyambut kedatangan Matahari.
"Dari kapan kamu di sini?" tanya Matahari.
__ADS_1
"Baru aja kok," jawab Langit.
Langit menatap Matahari, dia baru menyadari bahwa gadis itu masih mengenakan pakaian tidur sekarang. Lantas Langit memalingkan wajahnya ke samping mencoba untuk menetralkan penglihatannya.
"Kok nggak bilang mau ke sini. Tau gitu kan aku dah siap-siap dari tadi," ucap Matahari.
"Kan bisa siap-siap sekarang."
Matahari menghela napas panjang. "Ya udah, masuk dulu deh. Aku mau mandi sama ganti baju dulu," ucapnya kemudian.
Langit tersenyum lalu mengangguk. Dia berjalan beriringan bersama Matahari memasuki rumah gadis itu.
"Rumah kamu sepi. Orang tua kamu ke mana?" tanya Langit saat tak melihat aktivitas dari orang-orang di rumah itu.
Matahari mengendikkan kedua bahunya tak acuh.
"Mbok, tolong buatin minuman ya buat temen aku," titah Matahari kepada Simbok yang sedang sibuk di dapur.
"Ya, Neng," sahut Simbok.
"Jadi, aku cuma temen kamu nih?" tanya Langit.
"Eh?" Matahari mengejapkan matanya. "Ya terus apa dong?"
"Au ah."
Bibir Langit langsung cemberut. Dia juga memalingkan wajahnya ke arah lain. Melihat hal itu membuat Matahari terkekeh pelan.
"Iya deh, iya. Langit pacar aku," ucap Matahari.
Langit menoleh lalu tersenyum senang.
"Seneng?" ucap Matahari.
Langit mengangguk mengiakan.
"Udah ah, aku mau ke atas dulu mau siap-siap. Kamu tunggu di sini bentar ya."
"Siap, My Sunshine," sahut Langit. "Dandan yang cantik tapi jangan cantik-cantik banget," ucapnya lagi.
"Loh kok gitu?" protes Matahari.
"Aku nggak mau nanti kamu diliatin sama cowok lain. Aku cemburu," aku Langit.
__ADS_1