
Langit :
[Lo di mana?]
My Sunshine :
[Rooftop.]
Langit :
[Jangan ke mana-mana. Gue ke sana sekarang.]
Langit langsung menyusul Matahari begitu dia sudah tahu keberadaan gadis itu.
Dengan napas sedikit sesak karena Langit harus menaiki tiga tangga untuk bisa sampai di rooftop sekolah. Aksinya tak sia-sia. Gadis yang dia cari benar-benar ada di sana sendirian.
Perlahan tapi pasti, Langit melangkahkan kaki mendekati Matahari yang tengah berdiri di pembatas rooftop menatap arah pemandangan kota dari atas.
Langit berdiri bersisian sejajar dengan Matahari. Dia menatap wajah gadis itu dari samping, sementara yang ditatap masih melihat pemandangan sembari menikmati sejuknya angin yang menerpa tubuhnya.
Untuk sesaat tak ada percakapan tercipta di antara Langit dan Matahari. Keduanya sama-sama diam terhanyut dalam lamunan masing-masing.
“Kalo lo butuh pendengar, gue siap kok dengerin apa pun yang pengen lo ceritain,” ucap Langit tiba-tiba.
Matahari menoleh ke samping hingga pandangan mereka bertubrukan dan terkunci selama beberapa detik.
“Pundak gue juga kuat,” ucap Langit lagi sembari menepuk pundaknya sendiri. “Lo boleh bersandar di sini kalo lo lagi gak punya tempat untuk bersandar di saat lo lagi sedih.”
Matahari masih diam. Dia tak tahu harus mengatakan apa kepada Langit tentang hatinya yang lelah.
Gadis itu menatap Langit, mencoba menyelami kedalamannya. Menggali isi pikiran Langit yang tak bisa dia tebak dengan mudah.
Dia menghela napas panjang lalu mengulas senyum yang terkesan dipaksakan.
“Gue gak yakin bahu lo sekuat itu buat nampung beban hidup gue,” ucap Matahari sembari terkekeh pelan.
“Lo ngeremehin gue?” tanya Langit.
Matahari menggelengkan kepalanya. Dia menatap Langit dengan binar berkaca-kaca, lalu kembali mengulas senyum manis.
Tentu saja senyum itu palsu. Dia hanya sedang berusaha menutupi luka di hatinya dengan keceriaan.
Langit menghela napas panjang. Tanpa berkata-kata dia meraih pergelangan tangan Matahari lalu menarik gadis itu ke dalam dekapannya.
Tentu saja hal tersebut membuat Matahari terkejut. Dia ingin melepaskan diri dari Langit, tetapi lelaki itu tak membiarkannya.
__ADS_1
“Jangan pura-pura kuat di depan gue,” ucap Langit.
Matahari tercekat. Dia diam, tak menolak atau pun menerima pelukan Langit. Kedua tangannya mengepal erat mendengar perkataan Langit baru saja.
“Kalo mau nangis, nangis aja. Jangan ditahan-tahan,” ucap Langit lagi. “Menangis bukan berarti lo lemah. Seseorang perlu menumpahkan rasa sakitnya lewat air mata supaya ke depannya dia bisa lebih kuat lagi,” sambungnya.
Kepalan tangan Matahari terbuka. Sedetik kemudian dia memeluk Langit sangat erat. Dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Langit sembari menangis.
Hati Langit meringis. Dia seperti merasakan penderitaan yang sedang Matahari rasakan.
Dia diam membiarkan gadisnya menangis sampai puas. Tak peduli walau seragam yang baru saja dia beli dari koperasi sekolah harus basah dengan air mata gadis itu.
Tanpa Langit dan Matahari ketahui ada hati yang terluka melihat mereka berpelukan.
Cukup puas menangis tanpa tahu malu, Matahari merenggangkan tubuhnya dari Langit. Dia mengusap jejak air mata di wajahnya dengan kasar.
Mengerti keadaannya Langit merogoh sapu tangan di saku celananya lalu memberikan kain itu kepada Matahari.
“Pake ini,” ucap Langit.
Matahari yang sembab menatap Langit sesaat, kemudian dia menerima saputangan dari Langit.
“Saputangannya masih bersih kok, belum gue pake,” ucap Langit.
Matahari langsung mengusap wajahnya sekaligus ingus yang memenuhi hidungnya.
“Sorry, baju lo basah kena air mata sama ingus gue,” ucap Matahari dengan polosnya.
Langit refleks menunduk. Benar saja seragamnya sudah basah. Dia kembali melihat Matahari sembari mengulum senyumnya.
“Padahal ini seragam baru gue beli di koperasi. Sebelumnya kotor kena noda darah,” ucap Langit.
“Darah?”
Matahari menatap Langit dari atas ke bawah lalu ke atas lagi.
“Lo abis jatoh? Bagian mana yang luka?” tanya Matahari.
Langit terkekeh pelan, merasa gemas dengan sikap Matahari.
“Bukan gue yang luka, tapi lo.”
Matahari mengernyitkan alisnya. Dia tak mengerti maksud perkataan Langit baru saja.
“Gue?”
__ADS_1
Langit mengangguk.
“Lo gak inget tadi hidung lo keluar darah banyak banget?”
Matahari diam sejenak lalu menggelengkan kepalanya pelan.
Bukan tak ingat, Matahari tak heran jika keluar darah dari hidungnya ketika kepalanya sakit. Namun dia tak menyangka kalau Langit akan kena nodanya dan itu artinya dia juga lah yang membawanya ke UKS.
“Sorry,” ucap Matahari.
Langit tersenyum manis. “Gimana sekarang? Masih sakit? Masih mau nangis gak?” tanya Langit.
Matahari menggelengkan kepalanya. “Udah lebih baik dari sebelumnya,” ucapnya.
Langit mengangguk pelan.
“Saputangan lo gue balikin besok abis gue cuci. Seragam lo juga nanti kasih ke gue biar sekalian dicuci nanti,” ucap Matahari.
Mereka diam sejenak dengan lamunan masing-masing.
“Thanks ya, Langit,” ucap Matahari. “Lagi-lagi lo ngeliat gue yang lagi gak baik-baik aja.”
Langit mengulas senyum manis. “Gue seneng kalo lo udah ngerasa lebih baik. Seenggaknya gue udah jadi orang yang berguna buat lo,” ucapnya.
Suasana kembali hening. Baik Langit ataupun Matahari, keduanya tiba-tiba merasa canggung dan salah tingkah. Hingga akhirnya Matahari menyadari sesuatu.
“Lang, ini kita sekarang lagi bolos?” tanya Matahari.
Langit mengangguk mengiyakan.
“Sorry,” ucap Matahari.
“Untuk?”
“Lo jadi ikutan bolos gara-gara gue.”
Langit diam sejenak.
“Sesekali bolos gak masalah kayanya. Apa lagi bolos demi nemenin crush,” ucap Langit.
“Eh?”
Matahari mengejapkan matanya setelah mendengar perkataan Langit baru ssaja
“Lang, gue gak salah denger kan? Lo baru aja bilang—“
__ADS_1
“Iya, gue nge-crush in lo, Sunny.”