
Bel masuk berbunyi. Semua murid sudah berkumpul di kelas masing-masing menunggu pelajaran dimulai.
Berbeda dengan murid-murid lainnya yang nampak asyik bercanda dengan teman-temannya sembari menunggu guru datang, Langit terlihat tidak tenang. Sebentar-sebentar lelaki itu melihat ke arah pintu menunggu seseorang tetapi bukan wali kelasnya.
Langit menghela napas panjang. Dia merogoh ponselnya, membuka ruang chat dengan Matahari. Setelah itu dia mulai mengetikkan beberapa kata yang siap dikirim, namun Langit ragu melakukannya dan memilih untuk menghapus pesan tersebut sebelum terkirim.
“Lo kenapa, Lang? Gak tenang banget kayanya,” tanya Dimas tiba-tiba.
Langit berdehem lantas membenarkan posisi duduknya. Tidak lupa, dia juga menyembunyikan ponselnya supaya tidak ketahuan sedang ingin mengirim pesan kepada Matahari.
“Nunggu Matahari?” tebak Dimas. “Emangnya tuh anak pergi ke mana?” tanyanya kemudian.
Langit mengendikkan kedua bahunya tanda dirinya pun tidak mengetahui ke mana Venus membawa Matahari.
“Sabar, kalo jodoh gak akan lari ke mana,” ledek Dimas sembari mengusap pundak Langit. “Makanya kalo udah ada kesempatan langsung pepet terus. Jangan dikasih kendor,” sambungnya lagi.
“Diem, lo. Berisik!” Langit menepis tangan Dimas dengan kasar hingga temannya itu tak sungkan tertawa mengejeknya.
Sementara Langit nampak diam tak bersemangat. Dia memilih bermain game untuk mengalihkan pikirannya dari Matahari sebelum gurunya datang.
Langit menghela napas panjang. Bahkan saat guru sudah tiba di dalam kelas, Matahari masih belum kembali.
Langit kecewa. Dia cemburu. Dia ingin menahan gadis itu untuk tidak pergi, namun tersadar akan kenyataan bahwa dirinya buka siapa-siapa.
“Lang,” panggil Dimas.
“Hm.”
Dimas berdecak kesal karena Langit tak menoleh. Langit sedang mengeluarkan buku tulis dan buku paket dari tasnya.
“Langit,” panggil Dimas sekali lagi.
“Apaan?”
“Matahari,” ucap Dimas.
Langit langsung mendongak melihat ke arah pintu, tetapi tak ada gadis yang sedari tadi dia tunggu.
“Jiaah, kena frank,” ucap Dimas sembari menertawakan kebucinan Langit kepada Matahari.
“Sial!” umpat Langit.
“Dimas, Langit, kenapa kalian ketawa?” tanya Bu Lisa.
“Eh, nggak ada, Bu,” sahut Dimas.
“Kalau masih mau bercanda silakan kalian keluar!”
“Maaf, Bu,” ucap Langit.
Dia melihat Dimas lalu menatapnya tajam hingga Dimas meringis sembari mengacungkan dua jari tangannya membentuk huruf V.
“Bercanda gue,” ucap Dimas.
Langit mengerlingkan matanya malas lantas kembali duduk dengan rapi bersiap untuk menerima materi pelajaran.
“Lang, Lang, Matahari tuh,” ucap Dimas serius. Namun Langit tak lagi memercayainya.
“Serius gue, Lang. Matahari masuk tuh,” ucap Dimas lagi.
“Jangan bercanda atau gue tabok kepala lo.” Langit menoleh dan melotot tajam kepada Dimas.
Namun sahabatnya itu tak menyerah, dia menggerakkan kepalanya supaya Langit melihat ke arah pintu masuk.
__ADS_1
“Maaf, Bu, saya terlambat. Saya abis dari toilet, kebelet pipis,” ucap Matahari kepada Bu Lisa sebelum gurunya itu menegurnya.
“Ya sudah silakan duduk. Pelajaran akan segera dimulai,” sahut Bu Lisa.
Matahari mengangguk lalu berjalan menuju ke tempat duduknya.
Gadis itu menoleh ke arah Langit hingga pandangan mereka bertubrukan dan terkunci selama beberapa detik. Kemudian seulas senyum manis terbit di bibir Matahari kepada Langit sebelum akhirnya dia duduk di bangkunya.
“Lo gak diapa-apain sama si curut kan?” bisik Jasmin kepada Matahari.
Gadis itu diam sejenak sembari mencerna maksud perkataan sahabatnya. Sedetik kemudian dia tersenyum manis lantas menggelengkan kepalanya.
“Tenang aja, Kak Venus gak akan nyakitin gue,” sahut Matahari dengan suara pelan juga.
Jasmin memutar bola matanya malas. “Gak akan nyakitin lo gimana? Jelas-jelas dia udah bikin lo nangis-nangis kemarin.”
Matahari terkekeh pelan. Dia mengerti kekhawatiran Jasmin kepadanya semata karena dia tidak ingin melihatnya terluka.
Jasmin memang sahabat terbaik bagi Matahari.
“Maksud gue, Kak Venus gak akan berani nyakitin fisik,” ralat Matahari.
Jasmin mengendikkan kedua bahunya. Dia mulai fokus menyimak materi pelajaran yang sedang dijelaskan oleh gurunya. Sementara itu Matahari malah sibuk dengan lamunannya sendiri.
Matahari teringat akan perkataan Venus tadi. Dia tidak tahu hal apa yang ingin dibicarakan oleh Venus mengenai hubungannya dengan Bulan karena dia langsung menolak untuk mendengarkan. Meskipun sebenarnya Matahari sangat penasaran.
Tiba-tiba saja kepala Matahari terasa sangat sakit hingga tak bisa dia tahan lagi. Gadis itu memegang kepalanya sembari meringis. Cairan kental berbau amis perlahan keluar dari hidungnya.
“Sunny, lo kenapa?”
Matahari masih bisa mendengar suara Jasmin, namun rasa sakit yang teramat sangat di kepalanya membuat gadis itu enggan berbicara.
“Bu, Matahari sakit,” teriak Jasmin kepada gurunya.
Aduan Jasmin tersebut mengundang perhatian semua orang di dalam kelas termasuk Langit. Dia langsung melihat ke arah Matahari yang sedang menangkup kepalanya dengan kedua tangan karena kesakitan.
Langit langsung mengangkat tangannya. Dia berinisiatif untuk mengantar Matahari ke UKS. Setelah mendapat persetujuan dari Bu Lisa, Langit pun langsung menggendong Matahari lantas bergegas membawanya ke ruang kesehatan sekolah.
“Bu, saya izin mau nemenin Langit jagain Matahari di UKS, boleh?” tanya Jasmin.
“Boleh, silakan,” sahut Bu Lisa. “Dan untuk yang lainnya kembali kerjakan tugas kalian lalu kumpulkan setelah selesai!” titahnya kepada murid lainnya.
Jasmin langsung menyusul Langit ke UKS karena dia sangat mengkhawatirkan kondisi Matahari setelah sebelumnya berpamitan kepada gurunya.
Aksi Langit menggendong Matahari sembari berlari menuju ke UKS dilihat oleh Venus dan Bulan yang sedang berada di lapangan. Mereka kebetulan mendapat jam pelajaran olahraga di hari dan waktu yang sama.
“Ve, bukannya itu Langit dan cewek yang digendongnya itu Matahari?” tanya Dikta, orang yang pertama melihat Langit dan Matahari sebelum Venus.
Venus melihat ke arah yang ditunjuk oleh Dikta. Keningnya mengerut dalam disertai tatapan tajam. Bulan yang sedari tadi memerhatikan Venus dari kejauhan pun turut mengikuti arah pandangan Venus.
Lagi-lagi Bulan merasa tak senang karena Venus sering kedapatan sedang memerhatikan Matahari.
Tanpa pikir panjang, Venus langsung meninggalkan lapangan, tak peduli dengan teriakan guru olahraganya yang terus memanggil namanya karena jam pelajaran belum selesai.
“Matahari kenapa? Dia pingsan lagi?” tanya Laras, salah satu PMR yang sedang piket hari ini.
Langit membaringkan Matahari di atas ranjang dengan sangat hati-hati. Dia langsung mengambil minyak kayu putih dan juga handuk kecil beserta air hangat untuk membersihkan noda darah di wajah dan mulut Matahari yang keluar dari hidungnya.
Dengan sangat telaten dan hati-hati Langit membersihkan noda darah tersebut lalu mengoleskan minyak kayu putih supaya Matahari cepat sadar.
“Ya ampun Langit, baju lo banyak noda darahnya,” ucap Laras.
Sontak saja Langit langsung melihat bajunya sendiri. Benar saja terdapat noda darah Matahari di sana.
__ADS_1
“Mending lo bersihin dulu baju lo, Lang. Matahari biar gue yang jagain,” ucap Jasmin.
Langit diam sembari menatap Matahari. Rasanya dia sangat enggan untuk beranjak pergi meninggalkan gadis itu.
“Langit,” panggil Jasmin.
“Eh, ya?”
“Bersihin dulu baju lo. Matahari aman sama gue,” ucap Jasmin meyakinkan.
Langit menghela napas panjang setelah itu dia menganggukkan kepalanya.
“Kalau ada apa-apa panggil gue aja,” ucap Langit.
“Sip.”
Jasmin mengacungkan jempol tangannya kepada Langit. Setelah itu Langit berbalik badan hendak pergi dari UKS.
Baru saja dia akan melewati pintu bersamaan dengan Venus yang akan masuk UKS. Langkah mereka terhenti sesaat dengan pandangan saling bertubrukan dan terkunci dengan sorot tajam.
Sedetik kemudian Venus melewati Langit begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun. Dia ingin segera tahu kondisi Matahari saat ini.
Langit terpaku sesaat sembari menatap Venus yang akan menjenguk Matahari, setelah itu dia pergi dari UKS menuju ke arah toilet laki-laki untuk membersihkan seragamnya.
“Apa yang terjadi? Kenapa Matahari bisa seperti ini?” tanya Venus.
Jasmin dan Laras yang sedang memberi pertolongan pertama dengan mengoleskan minyak kayu putih serta mengupasi Matahari pun langsung menoleh ke arah sumber suara.
“Ngapain lo ke sini?” tanya Jasmin sinis.
Venus hanya melirik Jasmin sekilas lalu dia mendekat ke ranjang yang ditempati Matahari tanpa menghiraukan Jasmin.
Venus menatap Matahari lalu meraih telapak tangannya untuk digenggam.
Melihat kondisi Matahari seperti ini membuat hatinya ikut merasakan sakit.
“Gimana? Lo puas liat Matahari kaya gini? Ini kan yang lo mau?” ucap Jasmin sinis.
Venus menoleh ke arah Jasmin dan menatapnya datar.
“Lo pikir gue sejahat itu sampe ingin Matahari celaka. Gue sayang sama—“
“Bulsit!”
Jasmin menatap Venus sinis. Sementara itu Laras memilih untuk pergi karena tidak ingin ikut campur urusan Jasmin dan Venus.
“Kalo emang bener lo sayang sama Matahari, gak mungkin lo selingkuhin dia. Mana selingkuhnya sama sodara tirinya.” Jasmin menjeda perkataannya sejenak sembari masih menatap Venus sinis.
“Asal lo tau, Bulan itu udah ngerebut papanya Matahari dan sekarang lo juga malah jadi pacarnya dia.”
Jasmin menghela napas panjang. Dia mengalihkan pandangannya dari Venus kepada Matahari yang masih belum bangun.
“Kalo gue yang jadi Matahari, gue pasti bakal benci banget sama lo sekarang,” ucap Jasmin lagi tanpa menatap Venus.
“Gue tau dan gue ngerti kalo Matahari pasti benci banget sama gue.”
Venus menghela napas kasar. “Bisa tolong tinggalin gue berdua sama Matahari? Gue mau jagain dia sampe dia bangun,” ucapnya.
“Nggak, ya. Gue gak percaya sama lo,” sahut Jasmin.
“Jasmin, plis.”
Jasmin menghela napas kasar. Dia menatap Matahari lalu beralih kepada Venus.
__ADS_1
“Oke, gue pergi. Tapi inget, sampe Matahari kenapa-kenapa gara-gara lo, awas aja,” ucap Jasmin memberi peringatan keras kepada Venus.
Setelah itu Jasmin pergi meninggalkan Matahari dengan Venus.