Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 9


__ADS_3

Matahari terdiam, suaranya tercekat di kerongkongan. Dia menatap Venus dalam-dalam. Binar matanya berkilat, mungkin hanya dalam satu kedipan saja cairan sebening kristal akan luruh membanjiri wajahnya.


Matahari segera memalingkan wajah ke arah lain kemudian menghela napas panjang untuk menetralkan perasaannya. Sepersekian detik kemudian gadis itu kembali menatap Venus dengan seulas senyum mengembang di bibir tipisnya.


“Jangan bercanda. Ini bener-bener gak lucu, Kak,” ucap Matahari.


Demi apa pun, Matahari berharap ini tidak nyata. Bahwa perkataan Venus tadi hanyalah candaan semata.


“Aku serius. Aku mau kita putus.”


“Kenapa?”


Venus menatap Matahari. Ada jeda cukup panjang hingga Venus berkata dengan lirih.


“Aku udah gak punya alasan lagi untuk pertahanin hubungan ini,” ucap Venus.


“Maksudnya?”


“Aku udah nggak cinta lagi sama kamu. Semuanya terasa hambar sekarang tak seperti dulu lagi,” ungkap Venus.


Matahari tercekat. Kedua tangannya mengepal di atas pahanya. Dadanya terasa sangat sesak bahkan berdenyut sakit bagaikan ditimpa ribuan benda tumpul.


“Bener-bener udah gak ada perasaan lagi?” tanya Matahari.


Venus mengangguk dan itu membuat hati Matahari semakin sakit.


“Sedikit pun?” tanya Matahari lagi, lirih.


Venus terdiam. Dia menatap Matahari dalam-dalam. Venus tahu gadis di sampingnya ini pasti sangat hancur sekarang, tapi dia tetap pada keputusannya untuk mengakhiri cinta mereka.


Venus ingin meraih Matahari tetapi gadis itu segera menepisnya. “Aku nggak mau putus. Aku sudah terbiasa sama Kakak,” ucap Matahari.


“Sebab itu mulai sekarang kamu harus terbiasa tanpa aku dan begitu pun sebaliknya.”


“Aku gak mau,” ucap Matahari. Gadis itu melepas sabuk pengamannya lalu memeluk Venus erat. “Jangan putus ya, Kak. Plis,” lirihnya.


Setelah dua tahun mana mungkin Matahari mau putus begitu saja dengan Venus. Dirinya sudah terbiasa dengan kehadiran Venus dalam hidupnya. Matahari sudah terlanjur bergantung pada lelaki itu.


Venus menjauhkan Matahari, mencengkeram kedua bahunya sembari menatap gadis itu dalam-dalam.


“Kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku janji, aku pasti bisa bikin kakak cinta lagi sama aku,” ucap Matahari.


Binar bundar berwarna cokelat terang itu berkaca-kaca. Bahkan kini cairan bening di dalamnya mulai luruh membasahi pipinya.


Jujur saja, Venus tidak tega melihat Matahari menangis. Sebagian hatinya seolah turut merasakan sakit. Dengan lembut, Venus mengusap jejak air mata di pipi Matahari.


“Aku yang enggak bisa memaksakan tetap bersama. Kita gak akan bahagia,” ujar Venus.


Matahari memalingkan wajahnya ke arah lain. Sesaat kemudian gadis itu kembali menatap Venus dingin.


“Ada cewek lain?” tanya Matahari.


“Gak ada.”


“Jujur aja, aku gak akan marah kok.”


“Gak ada, Sunny. Gak ada cewek lain selain kamu,” ucap Venus.


“Terus kenapa kekeh mau putus?” tanya Matahari.


Venus berdecak. “Aku udah bilang tadi, aku udah gak cinta lagi sama kamu.”


“Semudah itu?”


“Aku udah pikirin ini jauh-jauh hari dan aku sudah yakin dengan keputusanku,” ucap Venus serius.


Matahari menghela napas panjang. Mulutnya terasa kelu sehingga sulit untuk berkata-kata.


Dalam diam gadis itu menatap ke arah depan merasakan sesak di dadanya. Dia ingin kembali memohon agar tidak putus dengan Venus, tetapi rasanya percuma saja.

__ADS_1


Sebuah hubungan harus dipertahankan dan diperjuangkan oleh dua orang. Jika hanya salah satunya saja yang melakukannya, itu akan percuma dan pada akhirnya akan tetap hancur juga.


“Oke,” gumam Matahari beberapa saat setelah terdiam.


Gadis itu menoleh ke arah Venus yang juga sedang menatapnya dalam keheningan.


“Aku setuju kita putus,” ucap Matahari.


Dan entah mengapa hati Venus merasakan berdenyut sakit ketika Matahari mengatakannya. Padahal dari awal dirinya sendirilah yang menginginkan semua ini terjadi.


“Mulai sekarang di antara kita gak ada hubungan apa-apa lagi,” ucap Matahari lirih. “Semoga setelah ini Kakak menemukan kebahagiaan yang kakak cari.”


Matahari membuka pintu mobil hendak turun, tetapi Venus segera menahannya.


“Kamu mau ke mana?” tanya Venus.


“Turun.”


“Nggak, Sunny. Aku akan antar kamu pulang.”


“Gak perlu, Kak. Makasih,” ucap Matahari. Dia menepis tangan Venus yang menahannya lalu segera turun dari mobil.


Venus ingin menyusul Matahari turun, tetapi urung karena tiba-tiba ponselnya bergetar. Dia segera melihat notifikasi pesan masuk di layar ponselnya.


[Kak Venus bisa jemput aku sekarang gak? Antar aku pindahan ke rumah baru]


Venus melihat ke arah Matahari dan terdiam sesaat. Kemudian dirinya menyalakan mesin mobil lalu melaju meninggalkan Matahari sendirian.


Lelaki itu benar-benar pergi meninggalkan Matahari. Tanpa rasa kasihan, tanpa perasaan.


Matahari langsung berjongkok ketika Venus menghilang. Dia menutup matanya lalu menangis sendirian.


Cuaca sore ini sepertinya merasakan perasaan yang sama dengan yang dirasakan Matahari. Sehingga tiba-tiba saja langit menurunkan rintik air ke bumi, seolah turut menangis bersama Matahari.


“Ternyata aku nggak sekuat itu, Tuhan. Hati aku benar-benar sakit,” ucap Matahari dalam tangis. Suaranya pun bergetar.


Perlahan bumi mulai gelap, bukan hanya karena mendung, tetapi malam akan segera menyambut menggantikan siang.


Matahari kembali berdiri, seluruh tubuhnya sudah basah. Bahkan air matanya sudah menyatu dengan air hujan.


Matahari mencari tempat untuk berteduh di pinggir jalan. Dia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang. Sayangnya, Jasmin yang diharapkan akan membantunya, dia tidak bisa dihubungi.


Menyerah meminta bantuan sahabatnya, Matahari memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Dia mulai mencari taksi yang melintas, tetapi tak menemukannya. Beberapa taksi tak berhenti saat Matahari memintanya.


Hampir menyerah, tiba-tiba saja sebuah motor yang melintas berhenti tepat di hadapannya.


Matahari mengernyit, dia tak mengenal orang yang ada di atas motor karena tertutup helm. Dalam hatinya Matahari mulai merasa cemas, takut yang datang adalah seorang penjahat.


“Matahari? Lo ngapain di sini sendirian?” tanyanya.


Suara itu, suara seorang laki-laki. Matahari seperti mengenalnya, tetapi dia merasa tidak yakin. Hingga orang itu membuka helm yang dipakainya.


“Langit,” gumam Matahari.


Langit turun dari motornya lalu membuka jaket yang dia pakai sembari menghampiri Matahari yang terlihat acak-acakan dan basah kuyup. Langit langsung memakaikan jaket miliknya itu di tubuh Matahari agar gadis itu tidak terlalu kedinginan.


Baru saja Matahari akan protes, tetapi tidak jadi karena Langit lebih dulu berbicara. “Pakai dulu jaket gue, baju lo basah,” katanya.


Matahari menunduk dan dia menyadari perkataan Langit benar, bajunya basah kuyup karena tadi dirinya berdiam cukup lama di tengah hujan.


“Lo lagi apa di sini sendirian?” Langit mengulangi pertanyaannya tadi.


“Gue ... gue mau pulang.”


Kening Langit mengernyit dalam saat mendengar suara parau Matahari. Dia menatap wajah gadis itu. “Lo abis nangis? Kenapa?” tanyanya.


Tak ingin bercerita apa pun, Matahari hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian gadis itu mengangkat pandangannya, menatap Langit dengan sorot yang sulit diartikan.


“Mau gue antar pulang?” tanya Langit.

__ADS_1


“Kayaknya di sini bakal susah dapat taksi. Udah mulai gelap juga, bahaya buat cewek,” ucap Langit lagi.


Langit menghela napas panjang melihat Matahari yang sedari tadi hanya diam. Langit tidak tahu hal apa atau masalah apa yang sudah terjadi kepada gadis itu, Langit pun tak ingin mencari tahu. Dia hanya akan mendengarkan jika Matahari sendiri yang mau bercerita kepadanya.


Tak banyak bicara lagi, Langit meraih pergelangan tangan Matahari dan menariknya untuk ikut pulang bersama setelah hujan reda. Dia memberikan helm kepada Matahari. Untung Langit selalu membawa dua helm untuk berjaga-jaga.


“Pake dulu helm nya.”


Matahari menerima helm tersebut kemudian memakainya. Setelah itu dia turut naik ke atas motor bersama Langit.


Tak ada percakapan yang terjadi di antara Langit dan Matahari mengiringi perjalanan pulang mereka. Embusan angin malam membuat suasana semakin dingin. Baik Langit atau pun Matahari, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga tiba-tiba Langit berhenti di pinggir jalan.


“Kenapa berhenti? Habis bensin?” tanya Matahari.


“Sembarangan. Mana pernah motor gue kehabisan bensin,” sahut Langit.


“Kalau bukan habis bensin, terus kenapa berhenti di sini?”


Langit menggaruk kepalanya yang sudah tak memakai helm karena baru saja dia lepaskan. “Itu ... gue gak tau rumah lo di mana.”


“Yeey, kenapa gak nanya dari tadi, Bambang.” Matahari gemas kepada Langit. Sementara lelaki itu malah tertawa tak merasa bersalah.


“Gimana mau nanya, lo dari tadi diem,” sahut Langit.


“Lah, gue pikir lo tau rumah gue makanya mau anterin gue balik.”


“Lo pikir gue cenayang yang tau isi pikiran lo?” ujar Langit.


Matahari menyeringai memperlihatkan sederet gigi putihnya yang rapi dan itu terlihat begitu menggemaskan di mata Langit. Hingga lelaki itu sulit mengalihkan pandangannya.


“Jadi gimana?”


“Eh, ya?”


Langit berdecak. “Alamat rumah lo, Matahari,” ucapnya gemas. “Jadi pulang gak nih?” tanyanya kemudian.


“Jadi lah, ya kali gue nginep di rumah lo,” sahut Matahari.


“Kalau lo mau, gue gak keberatan,” ucap Langit, tengil.


Seketika itu Matahari langsung menepuk kepala Langit. “Lo pikir gue cewek apaan. Dasar!”


“Hehe, Bercanda gue,” ucap Langit.


“Canda lo gak lucu.”


Rasanya, Langit sangat ingin mencubit bibir Matahari yang sedang cemberut. Betapa indah ciptaan Tuhan ini. Walau dalam cahaya temaram, tetapi kecantikannya masih terpancar. Sampai-sampai Langit tak ingin berpaling. Ingin terus berlama-lama berdua dengan Matahari, seperti ini pun sudah sangat cukup.


“Nih.” Matahari memperlihatkan layar ponselnya yang menyala. Di sana tertulis alamat rumahnya dengan lengkap. “Alamat rumah gue,” sambungnya.


Langit mendekatkan wajahnya untuk membaca. Setelah tahu lokasinya, dia pun kembali memakai helmnya bersiap melanjutkan perjalanan.


“Oh, udah deket ini lokasinya,” ujarnya sembari memakai helm.


“Udah siap belum?” tanya Langit.


“Udah,” jawab Matahari.


“Lo gak mau pegangan gitu? Entar kalau lo jatuh gue gak tanggungjawab ya.”


Matahari memutar bola matanya malas. Setelah itu dia menyimpan tangannya di pundak Langit. “Udah nih, cepetan jalan!”


“Asiaaap, berangkat.” Langit berucap menirukan salah satu pemeran film tukang ojek pengkolan. Setelah itu motor Langit pun melaju kembali membelah jalan raya. Tujuannya sudah sangat jelas sekarang karena dirinya sudah menemukan alamatnya.


Tak butuh waktu lama, Langit dan Matahari sudah sampai di depan rumah Matahari dengan selamat. Sebuah pemandangan yang menarik menyambut kedatangan Matahari.


Gadis itu melihat seseorang yang sangat dia kenal sedang ada di depan rumahnya. Namun, yang membuat Matahari terkejut ialah seseorang itu sedang bersama orang lain dan terlihat sangat akrab.


“Kalian sedang apa di sini?”

__ADS_1


__ADS_2