
“Itu gak akan mungkin terjadi!” tegas Venus. Dia merasa yakin Langit tidak akan bisa mengalahkannya.
Langit tersenyum miring. “Jangan yakin dulu. Bisa aja kali ini situasinya berbeda, semesta ngijinin gue menang dan lo kalah,” ucapnya.
Venus menatap tajam Langit, sedetik kemudian pandangannya beralih kepada Matahari yang baru saja datang.
"Jadi gimana? Kalau lo kalah dan gue menang, apa yang bisa lo kasih ke gue?" Langit mengulang pertanyaannya.
“Lo boleh minta apa pun dari gue,” ucap Venus sembari menatap Matahari.
“Termasuk minta lo buat jauhin Matahari?” tanya Langit.
Kedua bola mata Matahari membulat saat mendengar namanya disebutkan. Dia melihat kedua lelaki di hadapannya secara bergantian.
“Kalian jadiin gue bahan taruhan?” tanya Matahari serius.
“Gak gitu maksud gue.” Venus maju untuk menjelaskan. “Gue minta dia jauhin lo, Matahari. Gue gak suka liat lo sama cowok lain.”
Sebelah alis Matahari menaik sembari menatap Venus dengan sorot yang sulit diartikan. Sedangkan di belakan lelaki itu, ada gadis yang semakin sakit hati mendengar kejujuran Venus.
"Hak lo apa, Kak, ngatur-ngatur hidup gue?" tanya Matahari sinis.
Venus bergeming sembari menatap Matahari dalam-dalam. Perkataan gadis itu berhasil memukul hatinya hingga sesak.
Bulan menghela napas panjang, berusaha menetralkan perasaannya. Setelah itu dia maju mendekati Venus, lalu mengaitkan tangannya pada lengan Venus sembari menatap Matahari.
“Jangan salah paham dulu, Kak. Mungkin maksud Kak Venus itu, Kak Venus gak mau Kak Matahari dimanfaatin sama cowok gak bertanggungjawab,” ucap Bulan, sok tahu.
“Heh! Jelas-jelas di sini tuh, cowok lo yang gak bertanggungjawab! Pake sok sok an segala,” sahut Jasmin ketus sembari menatap Venus dan Bulan secara bergantian.
__ADS_1
Pandangan Matahari kini tertuju pada Bulan yang bergelayut pada tangan Venus. Hati terdalam Matahari teriris, tetapi dia berusaha tetap tenang.
"Maksud lo ngomong gitu apa ya? Bertanggungjawab? Lo ngerti apa soal tanggungjawab?" Matahari menyudutkan Bulan hingga gadis itu bungkam selama beberapa detik.
"Kak, aku sama Kak Venus peduli sama Kak Matahari, tapi kenapa Kakak malah bersikap kayak gini?" ucap Bulan.
Matahari tersenyum miring.
"Peduli?" ulangnya.
"Gak usah sok peduliin gue. Dan satu lagi, jangan panggil gue kakak karena gue bukan kakak lo. Ngerti?!" ucap Matahari kepada Bulan, sinis.
"Dan lo, Kak. Kita udah sepakat untuk mengakhiri semuanya. Jadi, lo gak ada hak buat ikut campur urusan gue." Matahari berbicara kepada Venus dengan serius.
"Sunny, gue—"
Perkataan Venus terpotong. Langit segera menarik Matahari ketika Venus ingin meraih tangan gadis itu.
Pandangan mereka beradu dan terkunci selama beberapa detik. Entah sihir apa? Tiba-tiba saja Matahari mengangguk dengan mudahnya.
Matahari kembali melihat Venus dan Bulan, setelah itu dia menarik lengan Jasmin untuk pergi dari sana. Membiarkan Langit dan Venus menyelesaikan masalah mereka.
"Lo juga pergi!” titah Venus kepada Bulan.
“Tapi, Kak—“
“Pergi!”
Kedua tangan Bulan mengepal erat. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca, hatinya tergores karena Venus berani membentuknya. Bulan menghentakkan kakinya karena kesal. Meski enggan, pada akhirnya dia tetap menyingkir dari lapangan.
__ADS_1
Venus melempar bola basket di tangannya kepada Langit, setelah itu dua lelaki yang sama-sama populer di sekolah itu mulai saling berebut bola basket untuk mencetak skor.
Sementara di pinggil lapangan, Matahari, Jasmin dan Bulan menonton pertandingan itu.
Bulan melirik Matahari kemudian berjalan menghampirinya.
“Kak Matahari,” panggil Bulan.
Yang dipanggil pun melirik sinis.
“Kakak kan udah putus sama Kak Venus.” Ada jeda selama beberapa detik sebelum Bulan melanjutkan perkataannya. “Aku minta Kak Matahari jauhin Kak Venus sekalipun nanti Kak Venus menang dari Kak Langit,” ucapnya serius.
“Kenapa? Lo takut Venus balik ke gue?” sahut Matahari.
Suara Bulan tercekat, dia mengepalkan kedua tangannya.
“Makanya, jangan sok sok an jadi pelakor. Murahan!” ucap Jasmin kepada Bulan.
Matahari tersenyum miring. “Emang bener kata pepatah, buah jatuh gak jauh dari pohonnya,” ucap Matahari dijeda sebentar. Dia menatap Bulan tajam. “Emaknya pelakor anaknya pun sama.”
“Kak!” Bulan menggeram kesal. “Jangan hina aku dan mama. Mama Indira bukan pelakor seperti yang kakak bilang barusan,” ucap Bulan.
“Kalau bukan pelakor apa dong sebutan yang cocok buat orang yang sukanya ngerebut milik orang lain?”
Perhatian Matahari teralihkan dari Bulan. Dia melihat dua lelaki yang sedang berebut bola demi mencetak angka terakhir untuk memastikan siapa pemenang permainan di antara mereka.
Saat ini angka yang tercetak antara Langit dan Venus imbang. Dan saat ini Langit sedang menguasai bola, tetapi saat dia akan melemparnya ke keranjang, tubuhnya dan tubuh Venus beradu hingga keduanya sama-sama jatuh ke lantai.
“Langit!”
__ADS_1
“Kak Venus!”
Matahari dan Bulan refleks langsung berlari ke tengah lapangan untuk melihat keadaan Langit dan Venus.