
“Papa,” suara lirih terucap dari bibir Matahari dengan mata yang masih terpejam.
Gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk membuka matanya, melawan rasa sakit yang membuat kepalanya terasa sangat berat.
“Papa ....”
Perlahan Matahari membuka matanya, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang sudah tidak asing lagi baginya. Dan, bau aroma berbagai macam obat-obatan yang tercium membenarkan tebakannya.
“Sudah bangun?”
Matahari menoleh ke arah sumber suara. “Dok, kenapa aku ada di sini?” tanyanya kepada Dokter Kevin.
Matahari mengernyitkan dahinya, tiba-tiba saja dia teringat kepada papanya. “Gimana keadaan Papa? Di mana papa sekarang?” tanyanya kemudian.
Doter Kevin tersenyum lantas mengusap puncak kepala Matahari dengan lembut. “Kamu tiba-tiba pingsan kemarin, itu sebabnya kamu di sini sekarang,” jelasnya.
“Pingsan?” ulang Matahari seperti tak percaya. “Gimana mungkin aku bisa pingsan? Aku lagi sama Papa tadi. Papa bangun terus dia meluk aku, Dok,” ucap Matahari.
Netranya berbinar, secercah kebahagiaan nampak jelas terlihat di dalamnya. Bagaimana tidak, setelah sekian lama akhirnya Matahari merasakan hangatnya pelukan Hadi. Matahari merasakan wangi aroma tubuh lelaki paruh baya yang tak lain adalah papanya sendiri itu terasa nyaman dan menenangkan.
Pelukan itu terasa sangat nyata sampai-sampai Matahari ingin menyangkal kalau semua itu hanya sebuah mimpi.
“Papa kamu memang sudah siuman, tapi yang kamu ceritakan baru saja—” Dokter Kevin menggelengkan kepalanya.
Hal tersebut lantas membuat senyum di bibir gadis itu seketika pudar. Dia menunduk menatap kedua telapak tangannya yang masih merasakan hangatnya genggaman Hadi yang terasa seperti nyata.
“Jadi semuanya hanya mimpi,” lirih Matahari.
Lantas seulas senyum miring terukir di bibirnya. Mata gadis itu nampak berkaca-kaca menahan genangan cairan bening yang tak sabar ingin menerobos pertahanannya.
Matahari menghela napas kasar. “Jelas saja hanya mimpi. Pada kenyataannya, Papa nggak mungkin mau meluk aku.”
“Matahari.”
Gadis pemilik nama itu langsung melihat ke arah orang yang memanggilnya.
“Kamu pasti tidak meminum obat dengan benar ya?” tanya Dokter Kevin.
“Maaf, Dok,” lirih Matahari.
Ya, Matahari tidak meminum obat dengan benar akhir-akhir ini karena sudah sangat bosan menelan pil-pil pahit tersebut. Awalnya baik-baik saja, Matahari tak merasakan sakit apa pun. Namun akhir-akhir ini kepalanya kembali sering sakit.
Dokter Kevin menghela napas panjang. Satu tangannya terulur mencengkeram pelan pundak Matahari.
“Jangan diulangi. Kamu mau sembuh kan?”
Matahari menganggukkan kepalanya. “Penyakit aku udah makin parah ya, Dok?” tanyanya sembari menatap sang dokter. “Akhir-akhir ini kepalaku sering sakit. Kadang disertai mual, kadang juga mimisan.”
“Kamu harus menjalani kemo, atau kita melakukan operasi secepat mungkin,” jawab Dokter Kevin. “Ayo ikut bersama saya ke luar negeri untuk menjalani pengobatan di sana,” ucapnya lagi.
__ADS_1
Matahari menghela napas panjang. Butuh biaya yang sangat banyak untuk bisa menjalani pengobatan apa lagi melakukan operasi di luar negeri, Matahari tak memiliki uang sebanyak itu tentunya.
“Nanti aja ya, Dok,” ucap Matahari. “Oh iya, tadi Dokter bilang papa saya sudah siuman. Saya mau melihatnya sekarang,” ucap Matahari lagi berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
Matahari turun dari ranjangnya lalu bergegas meninggalkan ruangannya ingin menemui Hadi yang katanya sudah siuman beberapa waktu lalu.
Gadis itu mengulas senyum ketika dia sampai di ruangan Hadi. Tak jauh dari tempatnya berdiri dia melihat ayahnya sedang makan di suapi oleh Indira.
“Pa ....”
Matahari berjalan mendekati ranjang yang ditempati Hadi. “Dari mana saja kamu? Orang tua sedang sakit malah asyik keluyuran terus,” ujar Hadi.
“Matahari nggak keluyuran terus kok, Pa. Matahari di sini selalu nungguin Papa,” jawab Matahari.
Padahal Matahari sangat senang mengetahui ayahnya sudah bangun. Dia berharap semua yang ada di dalam mimpinya menjadi kenyataan, Hadi bersikap manis kepadanya dan juga mau memeluknya.
Namun yang dia lihat dan dengar sekarang masih Hadi yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Hadi yang tidak pernah menyambut kedatangannya dengan kehangatan dan kasih sayang.
“Gimana kabar Papa sekarang?” tanya Matahari.
“Seperti yang kamu lihat, saya baik-baik saja,” jawab Hadi dingin.
“Pa—“
Belum sempat Matahari mengatakan sesuatu kepada Hadi, namun niatnya tertahan karena lelaki paruh baya itu kembali mengatakan sesuatu yang sangat menyudutkannya.
Kening Matahari mengernyit dalam sembari menatap Hadi dan Indira secara bergantian. “Maksud Papa apa? Kenapa Papa jadi nyalahin aku?”
“Ya, memang di sini kamu yang bersalah, Matahari,” ujar Indira. “Gio menemui kamu dan meminta persetujuan untuk mengelola perusahaan sementara waktu, tapi kamu malah mengabaikannya. Padahal Gio sudah menjelaskan semuanya ke kamu kalau permasalahan di perusahaan sangat serius.”
Indira menghela napas panjang. “Bukan sepenuhnya salah kamu, sih. Aku juga salah karena membiarkan Gio menemui kamu secara langsung tanpa melibatkan aku,” ucapan Indira di jeda selama beberapa detik.
Wanita itu menatap suaminya dengan sendu lalu beralih menatap Matahari. “Maafin aku, Mas. Aku terlalu fokus sama kesembuhan kamu sampai-sampai nggak ngeh sama permasalahan perusahaan yang juga sangat penting,” lirihnya.
“Ini bukan salah kamu, Indira,” jawab Hadi dengan suaranya yang masih terdengar lemah karena kondisinya belum benar-benar sehat.
Hadi menatap Matahari dengan sorot datarnya. “Saya tau kamu tidak mengerti tentang bisnis dan perusahaan, tapi setidaknya kamu bisa berdiskusi dengan Indira. Tapi kamu lebih meninggikan ego mu dari pada menyelamatkan perusahaan, dan sekarang lihat hasil kelalaian kamu. Perusahaan hampir saja bangkrut gara-gara kamu.”
Matahari memicingkan matanya menatap Hadi dengan sorot yang sulit diartikan.
“Aku egois?” Matahari tersenyum miring. Jelas dia sangat kecewa sekarang. “Apa Papa tau alasan kenapa aku ngga tandatangani surat yang Om Gio kasih ke aku? Itu karena aku nggak mau gegabah, Pah.”
Matahari menghela napas panjang sebelum dia kembali melanjutkan perkataannya. “Aku mencari tau dulu titik permasalahannya. Aku meminta bantuan seseorang untuk menyelidiki perusahaan, dan apa Papa tau informasi yang aku dapatkan?”
“Asal Papa tau aja, Om Gio sebenarnya—“
“Gio, masuklah!”
Perkataan Matahari terpotong ketika tiba-tiba saja Hadi mempersilakan orang yang hendak ingin dia bicarakan memasuki ruangan.
__ADS_1
“Bagaimana keadaan kamu sekarang?” tanya Gio kepada Hadi.
“Sudah jauh lebih baik,” jawab Hadi. “Ada apa kamu ke mari? Apa ada masalah di perusahaan?” tanyanya kemudian.
Gio tersenyum kepada Hadi. Lalu dia menoleh ke arah Matahari hingga pandangan mereka terkunci selama beberapa detik karena detik selanjutnya Gio kembali menatap ayah gadis itu.
“Oh, tidak ada. Kamu tenang saja, jangan terlalu banyak pikiran. Masalah perusahaan sudah bisa aku tangani,” ucap Gio dengan tenang.
“Syukurlah. Aku percaya kepadamu, Gio,” ujar Hadi.
Gio menangguk lalu tersenyum. Tanpa disadari Hadi, Gio menatap Indira dengan sorot liciknya kemudian tersenyum tipis.
“Pa, Papa nggak boleh percaya sama Om Gio. Dia itu licik, Pa. Om Gio punya niat buruk sama Papa.” Matahari berusaha memberitahu Hadi tentang kelicikan Gio. Namun, sayangnya Hadi tak memercayainya.
“Matahari!” Hadi terbatuk-batuk sembari memegangi dadanya yang terasa sakit.
Dengan cepat Indira langsung menenangkannya dan memberikan minum supaya rasa sakit yang Hadi rasanya reda.
“Jaga bicaramu, Matahari. Kamu tidak sopan kepada orang tua,” tegur Hadi.
“Gio, tolong maafkan Matahari,” ucap Hadi kepada Gio.
“Tidak apa, Hadi. Aku paham, Matahari seperti ini karena dia ingin melindungimu dan perusahaan.” Gio tersenyum kepada Matahari. “Dia masih terlalu kecil untuk paham dunia bisnis, jadi wajar saja kalau Matahari salah paham kepadaku.”
“Aku nggak salah paham ya, Om. Aku punya buktinya,” ujar Matahari kekeh.
Sebelah alis Gio menaik menatap wajah Matahari dengan serius. Lalu dia kembali tersenyum, sikapnya masih tetap tenang seolah tak terjadi masalah apa pun.
“Matahari cukup! Papa kecewa sama kamu. Lebih baik sekarang kamu keluar dari sini!”
Matahari kecewa ketika Hadi mengusirnya begitu saja. Dia menghela napas kasar, menatap satu per satu orang-orang yang ada di sana dengan tatapan sinis, kemudian dia pergi dengan perasaan kesal.
Matahari kembali menghela napas kasar setelah keluar dari ruang rawat Hadi. Netranya melihat beberapa suster berlarian, terlihat cemas melewatinya. Matahari pikir mungkin ada pasien yang kondisinya memburuk. Itu sebabnya petugas medis itu panik.
“Matahari.” Panggilan Gio membuyarkan lamunan Matahari. Gadis itu menoleh ke arah sumber suara.
Lelaki paruh baya dengan tampilan rapi itu berjalan ke arah Matahari dengan seulas senyum manis terukir di bibirnya. Bukannya terpesona, Matahari justru malah mengerlingkan matanya malas.
“Bisa kita bicara sebentar?” tanya Gio.
“Mau bicara apa, Om? Kita bicara di sini saja,” ucap Matahari dengan malas.
Lelaki paruh baya itu terkekeh pelan melihat sikap Matahari. “Om hanya ingin mengingatkan kamu.”
Matahari mengernyitkan dahinya menatap Gio dengan serius.
“Jangan coba-coba ikut campur urusan saya kalau kamu tidak mau hal buruk terjadi kepada kamu dan papamu!” tegas Gio dengan penuh penekanan.
“Kenapa, Om? Om takut ya, rencana liciknya Om kebongkar?” Matahari tersenyum menatap Gio tanpa rasa takut.
__ADS_1