Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 31


__ADS_3

PLAK!


Satu tamparan keras mendarat mulus di pipi Matahari hingga meninggalkan jejak merah. Membuat gadis itu meringis merasakan perih sekaligus terkejut.


Kedua bola mata gadis itu membulat sempurna, menatap tajam pada si pelaku. Dia tak mengerti mengapa tiba-tiba ibu tirinya itu menamparnya.


“Atas dasar apa Anda berani menampar saya? Apa salah saya?” tanya Matahari.


“Itu balasan karena kamu sudah menyakiti dan menghina Bulan di depan teman-temannya!” ujar Indira dengan emosi menggebu-gebu.


Bagaimana tidak emosi, Indira melihat Bulan pulang dalam keadaan menangis dengan kondisi acak-acakan serta bekas merah di kedua pipi mulusnya. Bulan mengadu kalau semua itu adalah perbuatan Matahari.


“Gara-gara ulah kamu itu Bulan jadi di-bully sama teman-temannya. Bulan terluka gara-gara kamu, Matahari!” ujar Indira masih dengan emosi menggebu-gebu.


Matahari mengernyitkan alisnya, dia melirik gadis yang kini sudah berdiri di belakang Indira dengan raut wajah gadis itu yang menyedihkan. Matahari mengerlingkan matanya malas.


“Maaf, tapi saya gak ngerasa melakukan seperti yang Tante tuduhkan,” ucap Matahari.


“Ah, ya. Saya memang sempat menampar dia dua kali,” ucapnya lagi sembari mengulas senyum miring. Mata Indira langsung melotot mendengar perkataan Matahari. “Tapi itu juga karena dia yang mulai duluan, Tante.”


Matahari kembali melihat ke arah Bulan sembari melipat kedua tangan di depan dad4nya, lalu melangkah lebih mendekat. “Gue salut sama lo, Bulan. Lo bener-bener pinter akting,” ucapnya.


Setelah berbicara demikian kepada Bulan, Matahari pun kembali menatap Indira yang terlihat masih emosi.


“Kalo boleh tau, Bulan ngadu apa aja sama Tante?” tanya Matahari.


“Ma ....” Bulan merengek kepada Indira.

__ADS_1


“Kamu menghina dia di depan umum kalo Bulan adalah anak pelakor. Dan kamu juga menampar Bulan sampai dia terluka seperti ini,” ucap Indira sembari melihat Bulan.


“Lihat ini! Ini semua ulah kamu yang brutal, Matahari,” ujar Indira lagi dengan penuh emosi.


“Gara-gara Kak Matahari juga Kak Venus jadi benci sama aku,” ucap Bulan dengan suara menyedihkan. “Kakak seneng kan ngelihat aku berantem sama Kak Venus karena Kak Matahari mau rebut dia dari aku,” ucapnya lagi.


“Apa kamu bilang? Kamu bertengkar sama Venus gara-gara Matahari?” tanya Indira kepada Bulan yang langsung dibalas anggukkan oleh gadis itu.


“Iya, Ma. Semua gara-gara Kak Matahari, Ma,” adunya sembari menangis. “Sekarang aku juga malu ke sekolah karena semua orang anggap aku merebut Kak Venus dari Kak Matahari. Mereka anggap aku pelakor, Ma,” sambungnya lagi.


Mendengar hal itu membuat Matahari tak bisa untuk menahan senyumnya. Betapa tidak, hari ini dia sedang menyaksikan topeng asli dari Indira dan Bulan.


Benar-benar, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Kelakuan Bulan sama seperti kelakuan Indira. Manipulatif!


“Apa yang kalian bilang barusan? Coba ulang sekali lagi. Gue pengen denger lebih jelas,” ucap Matahari mengejek.


Dia kembali mengulas senyum miring. “Bukannya semuanya itu bener ya? Bahwa Bulan adalah anak dari seorang pelakor. Dan Bulan mewarisi titel pelakornya itu dari Tante sendiri,” ucapnya.


PLAK!


Matahari mengusap sudut bibirnya dengan jempol tangannya lalu melihat darah segar yang keluar dari robekan bibirnya akibat tamparan Indira.


Seolah tak merasakan sakit, Matahari malah tersenyum miring lantas menatap Indira tajam.


“Asal kamu tau, Matahari, saya menikahi papa kamu atas dasar cinta. Papa kamu lebih memilih saya dari pada mamamu itu karena mamamu gak becus ngurus suami. Semasa hidupnya dia hanya mementingkan dirinya sendiri,” ucap Indira.


“Lihat kelakuanmu sekarang yang kurang ajar ini bukti bahwa mamamu benar-benar wanita yang gak becus dalam hal apa pun termasuk mendidik anaknya sendiri!” sambungnya lagi.

__ADS_1


Rahang Matahari mengeras, kedua tangannya mengepal erat diiringi tatapan tajam seperti elang yang siap menerkam mangsanya hidup-hidup.


“Dengar itu, Kak. Jadi, mulai sekarang sebaiknya Kak Matahari berhenti menyalahkan kami karena semua sudah jelas siapa yang salah di sini,” ucap Bulan menimpali.


Kepala Matahari berdengung merasakan begitu sangat sakit akibat emosi yang memuncak. Dia tidak bisa menahannya lagi hingga tanpa sadar Matahari menjambak rambut Bulan sangat keras untuk melampiaskan rasa sakitnya.


“Bulan,” teriak Indira yang terkejut melihat putrinya mendapatkan perlakuan buruk dari Matahari.


“Mama sakit,” ucap Bulan mengadu.


Seolah lupa diri, Matahari menyerang Bulan dengan membabi buta. Dia tak peduli dengan teriakan Indira. Bahkan Matahari tak segan menyerang Indira juga karena berani melindungi Bulan.


“Matahari lepasin. Kamu gila, ya,” teriak Indira.


“Rasakan ini! Semua ini gak ada apa-apanya dibandingkan kesakitan yang dirasakan mama dan aku selama ini,” ujar Matahari sembari terus menjambak rambut Bulan dan Indira secara bersamaan.


Matahari tersungkur hingga terjatuh ke atas lantai ketika Indira dan Bulan mendorongnya sekuat tenaga. Matahari yang sedari tadi menahan sakit di kepalanya pun mulai linglung.


Tak terima dengan perlakuan Matahari, mereka pun berniat untuk membalasnya.


Bulan maju untuk mengambil kesempatan, dia menarik rambut Matahari lalu menamparnya berkali-kali.


“Sialan! Lo pikir gue takut sama lo, hah?! Dasar jal4ng, gak tau diri,” ucap Bulan dengan emosi menggebu-gebu.


Matahari sudah sangat lemas. Perlahan penglihatannya mulai gelap dan akhirnya dia tak sadarkan diri.


“Bulan stop, Bulan! Berhenti!”

__ADS_1


Indira langsung menarik Bulan untuk menjauh begitu melihat Matahari sudah tak sadarkan diri. Gadis itu tergeletak lemas di atas lantai dengan rambut acak-acakan serta memar di wajah dan sudut bibirnya.


“Apa yang kalian lakukan?”


__ADS_2