
“Venus, 4njing! Bisa-bisanya dia selingkuhin cewek sebaik lo,” geram Jasmin.
Gadis itu sangat murka kepada Venus karena telah menyakiti dan mengkhianati Matahari—sahabatnya. Saat ini Matahari sedang di kelasnya. Selesai ulangan matematika Matahari langsung diintrogasi oleh Jasmin mengenai kabar yang beredar pagi ini di sekolah.
“Kalau gue jadi lo, udah gue acak-acak muka tuh cabe-cabean,” ucap Jasmin lagi. Kesabarannya memang sangat tipis jika berhadapan dengan pelakor.
Matahari tersenyum simpul, sorot matanya sayu sendu terlihat sangat lelah. Jasmin menatap Matahari iba, dia menghela napas kasar lalu memeluk sahabatnya itu erat. Mengusap punggung Matahari menyalurkan kekuatan kepadanya.
“Gue tahu lo pasti lelah saat ini, tapi gue mohon lo harus bertahan, Sunny. Jangan ngerasa sendirian, gue bakal selalu ada dan dukung lo,” ucap Jasmin.
Matahari membalas memeluk Jasmin. “Makasih, Jasmin.”
Jika ditanya lelah atau tidak? Jelas Matahari akan menjawab “Ya”, bahkan dia sangat ingin menyerah. Entah kenapa? Takdir begitu sangat suka mempermainkan hidupnya. Terlahir ke dunia tak diharapkan papanya, Tuhan juga mengambil mama darinya. Dan ketika Matahari merasa nyaman bersama Venus, lelaki itu juga memutuskan untuk pergi pada akhirnya.
Lalu kenyataan lain menambah sesak dadanya. Tiba-tiba papanya muncul bersama istri dan anak perempuannya. Padahal jelas alasan Hadi bersikap dingin kepada Matahari karena dia seorang anak perempuan, tapi kenapa sekarang Hadi begitu perhatian kepada anak perempuannya yang lain? Bukankah itu tidak adil untuk Matahari?
“Ada apa nih, kok kalian peluk-pelukan? Gue jadi mau ikut dipeluk.”
Matahari menjauhkan tubuhnya dari Jasmin. Dua gadis itu melihat ke arah lelaki yang baru saja berbicara kepada mereka secara bersamaan.
“Peluk gue juga dong,” ucap Gilang sembari merentangkan kedua tangannya akan memeluk Matahari dan Jasmin.
__ADS_1
“Sampai lo sentuh gue dan Sunny, gue sunat burung lo!” ancam Jasmin. Gadis itu melotot kepada Gilang, menatapnya tajam.
“Aw. Serem banget ancamannya,” sahut Gilang sembari menutup bagian intimnya dengan tangannya sendiri. Dia meringis dan bergidik ngeri membayangkan ancaman Jasmin. “Jangan galak galak napa lo jadi cewek,” ucapnya kemudian.
“Terserah gue lah,” sahut Jasmin ketus.
Matahari tertawa kecil melihat perdebatan Jasmin dan Gilang. Dua manusia itu memang tidak pernah akur jika sedang berdekatan seperti ini.
Tiba-tiba saja Matahari merasa ada yang sedang memerhatikannya. Dia mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruang kelasnya hingga matanya tak sengaja bertemu dengan Langit yang juga sedang melihat ke arahnya.
Pandangan Langit dan Matahari terkunci selama beberapa detik karena detik selanjutnya Langit memalingkan wajah ke arah lain. Entah apa yang sedang dipikirkan Langit, Matahari tak mengetahuinya.
“Maksud lo?” tanya Langit.
“Elah, gak perlu pura-pura gak ngerti. Gue tau lo sering merhatiin Matahari diam-diam.”
Langit bergeming, tak menyangka selama ini ada yang peka dengan gerak gerik tubuhnya yang suka diam-diam memerhatikan Matahari dari kejauhan.
“Denger denger dia udah putus sama cowoknya,” ucap Dimas lagi beberapa saat kemudian. Dia menatap Langit yang dudu bersebelahan dengannya. “Kalau suka kejar. Entar diambil orang lagi, lo nyesel.”
“Gue gak berani,” jawab Langit. Dia kembali melihat Matahari yang kini sedang berbicara dan bercanda dengan teman-temannya.
__ADS_1
“Takut ditolak?”
Langit tak menjawab pertanyaan Dimas.
“Cemen lo,” ucap Dimas lagi.
Seketika itu Langit langsung mengalihkan pandangannya dari Matahari. Kini dia menatap Dimas yang juga sedang menatapnya.
“Gue gak takut ditolak. Gue cuma gak siap kehilangan dia,” ungkap Langit.
“Maksudnya?”
Langit menghela napas panjang. Langit bukan takut ditolak, dia hanya takut Matahari akan menghindar dan menjaga jarak darinya jika gadis itu tahu perasaan Langit sebenarnya.
Dari pada menjelaskan, Langit lebih memilih beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menuju ke luar kelas saat bel istirahat berbunyi.
“Mau ke mana lo, Lang?” Dimas ikut beranjak dari duduknya dan berjalan menyusul Langit.
“Lapang, main basket,” jawab Langit.
Tanpa sepengetahuan Langit, Matahari sempat melihatnya pergi. Gadis itu menatap Langit dengan sorot yang sulit diartikan.
__ADS_1