Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 52


__ADS_3

"Meera, boleh gak kita tukeran tempat duduk?" tanya Jasmin kepada temannya.


Mengernyitkan dahinya, Meera merasa bingung dengan sikap Jasmin yang tiba-tiba ingin bertukar tempat duduk dengannya. Mara menatap Jasmin kemudian beralih ke arah Matahari yang baru saja datang.


"Kok tiba-tiba?" tanya Meera.


"Jasmin kenapa lo pindah tempat duduk?" tanya Matahari. Namun Jasmin tak menghiraukannya.


"Meera," panggil Jasmin.


"Oke oke, gue pindah." Meera beranjak dari tempat duduk sembari membawa tasnya untuk pindah ke bangku Jasmin.


Masih tak menghiraukan Matahari, Jasmin langsung menempati tempat duduk barunya. Hal tersebut membuat Matahari semakin bingung dengan sikap Jasmin yang tiba-tiba mendiaminya.


"Jasmin lo kenapa sih? Gue ada salah sama lo? Kok lo diemin gue gini sih? Lo juga kenapa pindah tempat duduk?" Matahari memberondong Jasmin dengan banyak pertanyaan sekaligus.


Namun, Jasmin masih saja mendiaminya seolah-olah tak mendengar Matahari berbicara kepadanya.


Menghela napas panjang. Matahari masih berdiri diam di samping bangku Jasmin sembari menatap sahabatnya yang masih bersikap tak acuh kepadanya.


"Kalo gue ada salah, gue minta maaf. Tapi plis jangan diemin gue kaya gini, Jas. Lo sahabat gue satu-satunya yang gue punya," ucap Matahari lagi.


"Eh, nanti pulang sekolah kita jadi nonton bareng kan, Ra?" Bukannya menjawab Matahari, Jasmin malah berbicara dengan Hera teman sebangkunya sekarang.


"Jadi dong," sahut Hera.


Matahari diam memerhatikan Jasmin yang terus mengobrol dengan Hera tanpa menghiraukan keberadaannya di sana. Menghela napas panjang, Matahari kembali ke tempat duduknya bersamaan dengan bunyi bel masuk yang berdentang.


"Lo kenapa, Jas? Lo lagi marahan sama Matahari?" tanya Hera.


Tak ingin menjawab pertanyaan Hera yang mungkin akan melebar ke mana-mana Jasmin hanya mengendikkan kedua bahunya tanpa mengatakan apa pun. Dalam diam dia menatap punggung Matahari dengan sorot sendu. Begitu Matahari melihat ke arahnya, Jasmin langsung membuang muka ke arah lain.


Langit masuk ke kelas dengan membawa setumpuk buku lalu menyimpannya di meja guru. Sebelum dia ke tempat duduknya, Langit menghampiri Matahari lalu memberikan susu kotak rasa cokelat kesukaan gadis itu. Saat itu Langit menyadari Jasmin pindah tempat duduk. Langit ingin bertanya tetapi niatnya tertahan karena gurunya sudah masuk kelas mereka.


"Buat kamu," ucap Langit.


"Makasih," sahut Matahari sembari mengulas senyum manisnya.

__ADS_1


Langit mengangguk. Dia sempat beradu tatapan dengan Jasmin beberapa detik sebelum Langit memalingkan pandangan ke arah lain karena dia harus segera duduk di tempatnya.


"Gue gak salah denger kan? Lo sama Langit manggil aku-kamu. Kalian jadian?" tanya Meera.


"Menurut lo?"


"Sumpah demi apa?" Meera refleks berucap sangat antusias hingga langsung mendapat tatapan tajam dari sang guru di depan. Meera langsung menutup mulutnya lalu segera meminta maaf.


"Btw selamat ya. Jangan lupa traktirannya," ucap Meera dengan suaranya yang pelan sembari menaik turunkan alisnya.


Matahari mengerlingkan matanya malas. Dia menoleh ke arah Langit yang ternyata sedang melihatnya lantas mereka sama-sama mengulas senyum sebelum akhirnya mulai fokus menyimak materi pelajaran.


Di sisi lain Jasmin merasakan cemburu dan kecewa secara bersamaan melihat interaksi Langit dan Matahari. Jasmin masih mengingat saat Langit memeluk Matahari di tengah hujan kemarin. Dia merasa Matahari telah mengkhianatinya.


"Beb, lo marahan sama Matahari ya?" tanya Galang kepada Jasmin yang duduk di bangku tepat di depannya.


"Berisik," ujar Jasmin ketus. Dia berucap tanpa melihat lawan bicaranya.


"Galak bener. Biasa aja dong, Beb, jawabnya," ucap Galang. Namun Jasmin tak mengindahkannya. Gadis itu fokus menulis materi yang ada di papan tulis.


Matahari berjalan mendekati Jasmin dengan senyuman hangat yang melintas di bibirnya. Dia berharap bisa mengajak Jasmin ke kantin seperti biasa, mengobrol dan tertawa bersama. Namun, Jasmin tetap diam dan bersikap tak acuh.


"Jasmin, ke kantin yuk," ajak Matahari.


"Gue mau ke perpus," ucap Jasmin ketus.


"Yaudah kita bareng aja ke perpusnya," kata Matahari.


"Tapi gue nggak mau bareng sama lo." Jasmin pergi begitu saja selepas berkata seperti itu kepada Matahari.


Tak mau diam begitu saja Matahari lantas mengikuti Jasmin pergi. Matahari tidak mau didiami Jasmin terlalu lama karena cuma Jasmin satu-satunya sahabat yang dia punya.


Jika ada satu masalah atau kesalahan Matahari yang membuat Jasmin menjadi marah, Matahari siap untuk meminta maaf dan menebus kesalahannya.


"Jasmin tunggu gue," panggil Matahari.


Jasmin tak menoleh, dia terus berjalan di depan Matahari menuju ke arah perpus. Kesal dengan sikap Jasmin, Matahari pun menarik tangan Jasmin hingga gadis itu berhenti berjalan lantas melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Lo kenapa sih, Jas? Lo marah sama gue? Ngomong aja jangan malah diemin gue kaya gini, Jas. Diemnya lo itu gak bisa nyelesein masalah," ujar Matahari serius.


Jasmin menghela napas panjang. Ditatapnya wajah Matahari dengan sorot yang sulit diartikan.


"Gue emang marah sama lo. Gue kecewa sama lo!" ucap Jasmin penuh penekanan.


"Kenapa?" tanya Matahari.


Jasmin tersenyum miring sembari memalingkan wajahnya ke samping.


"Nggak usah pura-pura nggak tau deh. Sikap gue kaya gini juga gara-gara lo yang pengkhianat!"


Matahari terdiam mencerna perkataan Jasmin baru saja.


"Lo tau gue suka sama Langit bahkan gue minta bantuan lo buat deketin gue sama Langit. Tapi apa? Lo malah rebut Langit dari gue!"


Deg.


Semuanya jelas sekarang. Matahari mengerti mengapa Jasmin tiba-tiba menghindar dan marah kepadanya.


Tak tahu harus mengatakan apa kepada Jasmin mengenai semuanya, tetapi Matahari benar-benar tak bermaksud mengkhianati persahabatan mereka. Meskipun begitu Matahari tak menyangkal bahwa memang dirinya bersalah kepada Jasmin.


"Gimana rasanya pelukan sama Langit di tengah hujan? Nyaman ya? Sementara gue sakit liat kalian berdua," ujar Jasmin.


Dia merasa sedikit lega sudah mengeluarkan uneg-unegnya kepada Matahari. Tak peduli walau orang-orang di sekitar mereka mendengar semua perkataannya. Tak peduli walau kini suara bisik-bisik dari teman-temannya membicarakannya dan Matahari sudah mendominasi suasana di sekitar mereka.


"Gak nyangka gue ternyata Matahari gak sekalem yang gue pikir," ucap salah satu siswi yang ada di sekitar Matahari dan Jasmin.


"Matahari tega banget ngerebut cowok yang disukai temennya sendiri."


"Pagar makan tanaman."


"Pelakor."


"Pantesan diputusin Kak Venus. Murahan ternyata."


Matahari mengedarkan pandangannya ke sekeliling mendengar teman-temannya mulai mencacinya. Dia terpaku, mulutnya mendadak kelu. Perkataan mereka mulai memenuhi otaknya hingga Matahari merasa pusing. Kepalanya berdengung sangat keras membuat penglihatannya pun mendadak buram.

__ADS_1


Menunduk sejenak, mencoba untuk menetralkan rasa sakit di kepalanya. Matahari tidak ingin tubuhnya ambruk saat itu juga. Sayang, dengungan keras disertai rasa sakit di kepalanya tak bisa Matahari tahan. Gadis itu terjatuh di atas lantai, perlahan kesadarannya pun mulai hilang.


__ADS_2