
Teguh yang masuk ke kamar adiknya mendapati Arya ada diatas ranjang, hal itu membuat darah Teguh mendidih dan dia langsung saja berlari ke arah Arya yang nyaris saja mencium adiknya itu.
Teguh memegangi kepala Arya dengan kedua tangannya kemudian menariknya hingga Arya jatuh dari ranjang.
Arya tidak hanya merasa terkejut tetapi dia juga merasa sakit karena terjatuh dari atas ranjang, sedangkan Sari panik dan langsung saja turun dari ranjang untuk membantu Arya bangun dari lantai.
”Kakak apa apaan si.” omel Sari.
”Kalian yang apa apaan, pokoknya Arya pulang sana pergi.” teriak Teguh.
”Kakak...” teriak Sari.
”De, tadi dia bilang dia bukan pria seperti itu. Tapi baru kakak tinggal ganti baju aja dia sudah mau macam macam sama kamu.”
”Gak gitu kak.”
Teguh yang masih emosi langsung saja menghajar Arya meski Arya hanya menghindar dan tidak membalasnya.
Sari sangat kesulitan memisahkan keduanya karena besar tubuhnya kalah jauh dari dua pria ini.
Beruntung Nathali yang mendengar keributan itu langsung masuk dan bertanya pada Sari, apa yang sebenarnya terjadi.
Sari meminta Nathali menanyakan itu nanti saja karena ada yang lebih penting yaitu memisahkan kedua pria yang berkelahi ini.
”Nat, pegang kakakku. Aku akan memegang Arya. Kita pisahkan mereka dulu.”
Awalnya Nathali tampak ragu namun karena keadaan yang mendesak akhirnya Nathali memegang tubuh Teguh dengan erat dari belakang sambil menahannya agar tidak maju bertengkar dengan Arya lagi, begitu pula Sari yang melakukan hal sama kepada Arya.
Arya dan Teguh entah mengapa langsung diam setelah ada seseorang yang memeluk dari belakang dengan sangat erat, bahkan mereka tidak ingat sedang bertengkar.
Sari langsung sadar bahwa mereka sudah tidak bertengkar, dia langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Arya lalu langsung memeriksa Arya apakah dia baik baik saja, Sari sangat cemas saat melihat hidung Arya berdarah karena pukulan kakaknya.
Sedangkan Teguh masih diam dipeluk oleh Nathali dari belakang, begitupun dengan Nathali yang juga hanya diam saja tidak bergerak. Mereka sampai tidak sadar bahwa Sari dan Arya menatap mereka dengan aneh.
”Kalian kenapa diam saja, keributan nya sudah berakhir.” ucap Sari.
Mendengar hal itu Nathali langsung melepaskan pelukannya, dia sangat kaget dan menyalahkan dirinya bisa bisanya dia tidak langsung melepaskan pelukan itu begitu pertengkaran itu selesai.
Sari dan Arya yang sudah duduk di sofa lebih dulu meminta Teguh dan Nathali duduk juga ddi sofa depadepan mereka.
Sari mengambil kotak p3k lalu mulai mengobati Arya yang terluka di bagian hidung dan dahi.
__ADS_1
”De, kakak juga berdarah ini lihat?” ucap Teguh sambil menunjukan dagunya yang berdarah.
Sari tampak tidak perduli dan terus mengobati Arya, dia kesal pada kakaknya kenapa harus berkelahi kalau bisa dibicarakan baik baik.
”De, kenapa kamu cuma mengobati bajingan itu saja.” omel Teguh.
”Dia calon adik ipar kakak bukan bajingan.”
”De..”
”Makanya kenapa kakak harus berkelahi si? kan kakak bukan anak kecil lagi.” omel Sari.
Teguh hanya menunduk mendengar omelan Sari sedangkan Arya masih meringis kesakitan karena merasa perih saat di obati. Nathali hanya diam saja karena bingung harus berbuat apa.
Melihat kakaknya yang langsung diam membuat Sari tidak tega juga, dia juga sebenarnya khawatir pada luka kakaknya hanya saja jika dia mengobati kakaknya itu pasti kakaknya akan melakukan hal seperti ini lagi nantinya karena merasa pada akhirnya pasti di maafkan.
Akhirnya Sari meminta Nathali mengobati luka Teguh agar tidak infeksi. Kali ini Nathali sangat ragu karena dia khawatir tidak bisa mengontrol dirinya dan perasaannya akan ketahuan.
”Kenapa diam saja, cepat obati kakakku. Nanti lukanya infeksi kalau dibiarkan.” Sari memerintah Nathali dengan suara lantang karena masih merasa kesal dengan tindakan kakaknya ditambah Nathali yang biasanya sigap malah lambat sekali.
Nathali akhirnya mengambil alkohol untuk membersihkan luka Teguh kemudian setelah lukanya bersih, dia mengoleskan salep untuk luka.
Saat mengoleskan salep untuk luka di dahi Teguh, tidak sengaja mereka saling menatap mata dan terdiam tanpa suara.
Perbuatan Teguh itu langsung membuat Sari dan Arya terkejut, sedangkan Nathali hanya diam sambil menatap Teguh yang tampak sendu.
”Kakak ngapain megang bibir Nathali?” tanya Sari.
Pertanyaan Sari membuat Teguh melepaskan jarinya dari bibir Nathali sedangkan Nathali langsung balik badan karena panik.
Tingkah mereka berdua justru membuat Sari semakin aneh, namun dia yakin mereka berdua tidak mungkin berselingkuh. Sari sangat mengenal keduanya dengan baik.
Arya menyadari sepertinya ada sesuatu diantara mereka, mengingat dia melihat bibir keduanya bengkak namun untuk memastikan makan Arya bertanya pada Teguh.
”Tania gak kemari kak?” tanya Teguh.
”Hari ini dia ada banyak pesenan bunga jadi dia tidak datang.”
Mendengar jawaban itu membuat Arya yakin, artinya Teguh melakukan 'itu' bukan dengan Tania melainkan dengan Nathali.
Arya merasa mereka berdua menjijikan karena berani berselingkuh, hanya saja dia sendiri tidak mungkin menunjukan ketidak suka annya.
__ADS_1
Sari merasa heran kenapa Arya tiba tiba menanyakan Tania, dia biasanya tidak peduli dengan apapun.
”Tumben kamu nanyain Tania?”
”Gak papa sayang, aku cuma mau bertanya aja.”
Sari mengabaikan rasa penasarannya tadi, mungkin memang benar Arya hanya bertanya karena biasanya dia selalu melihat Tania ada di sekitar kakaknya.
”Nona, saya permisi ya?” pamit Nathali.
Sari menganggukan kepalanya, kemudian tidak lama Teguh juga pamit mau istirahat di kamarnya.
”Masih ada yang sakit gak sayang?” tanya Sari.
Arya bukannya menjawab malah tersenyum, karena jarang sekali Sari memanggilnya sayang dengan ekspresi khawatir seperti itu.
”Kenapa malah tersenyum?”
”Bagaimana aku bisa sakit, kalau aku sudah punya obatnya di sisiku.” ucap Arya sambil menyolek hidung Sari dengan jari telunjuknya.
Wajah Sari langsung memerah karena malu, sudah lama dia tidak bermesraan begini dengan Arya karena banyak masalah yang terjadi.
”Sayang, maafin kakakku ya? dia itu cuma overprotective padaku. Padahal aku mau jelasin kalau aku yang menggodamu, malah kakakku main pukul aja tanpa aba aba.”
”Gak papa.”
Arya mengangkat tubuh Sari dan mendudukkan nya diatas pangkuannya. Mereka pun melanjutkan hal yang sempat tertunda tadi.
Kali ini Arya benar benar hanya berniat mencium kekasihnya saja, tidak ada niat lebih dari itu. Tidak seperti saat sebelumnya yang sempat berfikir lebih.
Saat mereka sedang asyik berciuman tiba tiba handphone Sari berbunyi, namun mereka tidak memperdulikan nya dan tetap saling me.lu.mat bibir satu sama lain.
Akan tetapi handphone itu terus berbunyi beberapa kali sehingga Arya melepaskan ciuamannya.
”Angkat saja dulu sepertinya penting.”
Sari menghela napas dan bertekad siapapun yang menelpon akan kena amarahnya karena sudah mengganggu waktu indahnya.
Namun saat melihat handphone justru nomor tidak dikenal yang menelpon, setelah mengangkat panggilan itu tiba tiba ekspresi Sari berubah datar dan serius.
Melihat itu Arya langsung tahu pasti ada masalah lagi, dia sungguh khawatir pada kekasihnya itu.
__ADS_1
...****************...