
”Kalian semua diam di tempat, jangan ada yang mendekat.”
Semua hanya bisa diam mendengar teriakan Bi Inah, sambil mencari celah untuk merebut pistol di tangan Bi Inah saat dia lengah.
”Bi, tolong letakkan pistol itu. Itu berbahaya bi.” bujuk Sari.
Bi Inah terus menangis sambil menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa dirinya tidak mau meletakkan pistol yang ada ditangannya itu ke tanah.
”Kalau memungkinkan maafkan Nita non, dia hanya salah jalan karena kurangnya perhatian orangtua. Bibi sebagai neneknya pun bukannya mendampingi dan mengajarkan jalan yang benar padanya justru bibi malah mementingkan balas dendam, apalagi bibi melakukannya pada orang yang tidak bersalah. Maafkan cucu bibi non.”
Bi Inah sangat emosional dan terus memita maaf atas nama cucunya meski dengan suara terbata bata.
”Bi, kita bicakan itu nanti. Sekarang bibi letakkan pistolnya ke bawah ya. Itu berbahaya, itu bisa menyakiti orang lain bi.” bujuk Sari dengan sangat pelan agar Bi Inah tidak terprovokasi dan melakukan hal yang berbahaya.
”Bibi tahu bibi tidak pantas meminta maaf atas kesalahan bibi. Tapi bibi tulus merasa bersalah atas apa yang menimpa Tuan dan Nyonya saat ini, bibi tidak minta untuk di maafkan tapi bibi akan menebus dosa bibi saat ini juga.”
”Apa maksud bibi?”
Sari bertanya karena merasa bingung kenapa bi inah bilang akan menebus dosanya hari ini.
Bi Inah dengan sangat cepat mengarahkan pistolnya ke arah kepalanya sendiri dan menarik pelatuk pistol yang di pegangnya.
Dorr
Sari langsung memalingkan wajahnya ke dada Arya karena merasa terkejut, Arya pun memeluk Sari yang rekejut itu.
Semua orang terkejut melihat Bi Inah menembak kepanya sendiri dengan pistol itu.
Setelah tembakan itu, tubuh Bi Inah langsung tergeletak ke tanah berada tepat disamping cucunya sendiri yang sudah tidak bernyawa.
Sari terkejut dan menangis di pelukan Arya, dia masih trauma mendengar suara tembakan, tiba tiba dirinya mengingat masa ketika harus merasakan sakit karena tembakan hingga meregang nyawa. Hal itu membuat tubuhnya bergetar hebat karena ingatan itu begitu menyakitkan.
Arya yang mengetahui keadaan Sari saat ini sangat shock langsung meminta Nathali mengurus keadaan di tempat itu.
Arya meminta dibereskan setenang mungkin agar tidak ada gosip yang tidak tidak mengenai keluarga Jayadiningrat.
Syukurlah kediaman Jayadiningrat ini berada jauh dari tetangganya karena kediaman itu dikelilingi halaman yang begitu luas, sehingga suara tembakan pun pasti terdengar samar dan tidak mencurigakan.
”Nat, saya minta tolong urus semua dengan tenang ya? saya harus membawa Sari masuk.” ucap Arya.
Nathali yang melihat Sari tampak shock langsung mengiyakan perintah Arya.
__ADS_1
”Akan saya bereskan, tolong jaga nona Sari.” jawab Noathali.
”Kamu tenang saja, saya percayakan urusan disini padamu.”
Nathali mengangguk setelah Arya mengatakan hal itu, kemudian Arya menggendong Sari di depan hingga masuk ke dalam rumah.
Nathali langsung menyuruh anak buahnya membawa mayat keduanya ke ruangan kosong yang tidak jauh dari tempat itu dan meminta sebagian membersihkan TKP.
”Bawa mereka ke dalam ruangan itu, urus mayatnya. Dan sebagian bersihkan TKP ini jangan sampai terlihat ada darah setetes pun yang masih tersisa.” perintah Nathali.
”Baik.”
Nathali langsung menghubungi tim A yang sedang mengejar pria bertopeng itu menggunakan earpiece.
”Tim A bagaimana apa pria itu ditemukan?” tanya Nathali.
”Maaf kami kehilangan jejaknya, namun kami menemukan sobekan kain berwarna hitam tersangkut di ranting dan ada bercak darahnya. Kemungkinan itu milik pelaku karena kami sempat menembak lengannya.”
”Kain itu bisa kita identifikasi, jadi kalian kembali dulu dan bantu rekan kalian yang ada disini.”
Setelah itu Nathali masuk ke dalam ruangan yang sudah ada mayat kedua orang itu bersama dengan beberapa anak buahnya.
Sedangkan dari kejauhan tampak Doni mengintip dan bersembunyi di balik semak semak.
Sialan, aku gak menyangka situasinya jadi seprti ini. Bahkan Nita mati sia sia seperti itu, ditambah lagi bahkan pembantu itu adalah nenek Nita? banyak sekali hal yang terjadi malam ini, ini memang sangat penting dan aku bisa nggunakan ini nanti untuk keuntungan ku sendiri. Tapi yang terpenting dari itu semua, aku harus mencari waktu yang tepat untuk pergi dari tempat ini. Kalau aku tertangkap ada disini bahkan sampai merekam semuanya, mungkin aku akan dilenyapkan oleh mereka.
...----------------...
Didalam kediaman Jayadiningrat, Arya tampak duduk dibangku yang dia letakkan di samping ranjang yang terdapat tubuh Sari yang sedang beristirahat disitu.
Butuh dua jam bagi Arya membuat Sari tenang dan tertidur, Arya mengingat dengan jelas bagaimana tubuh Sari bergetar di pelukannya dan dia terus meracau ’tolong ini sangat sakit, jangan tembak lagi.’
Arya bisa tahu hanya dengan ucapan itu bahwa Sari trauma karena mendengar suara tembakan pistol tadi. Pasti dia mengingat kehidupan dulu saat dirinya harus ditembak hingga meninggal.
Meski Arya tidak melihat sendiri kejadian itu tapi dia bisa tau bagaimana menyakitkannya hal itu jika melihat trauma yang dialami Sari.
Mengingat Sari yang begitu ketakutan dan kesakitan membuat kemarahan Arya sangat memuncak.
Dia benar benar ingin melenyapkan orang yang telah membuat kekasihnya itu trauma seperti itu, namun masalahnya orang itu sudah mati seperti tadi.
Arya merasa frustasi, kenapa orang yang membuat Sari trauma hanya mengalami kematian seperti itu. Baginya itu kematian yang terlalu mudah untuk Nita.
__ADS_1
Arya bahkan saat ini sangat ingin mencabik cabik dan memberikan tubuh wanita jahat itu untuk makanan gagak.
Namun, semua itu sudah tidak bisa dia lakukan.
Sari terbangun dari tidurnya dan melihat Arya yang sedang duduk di sampingnya sambil memegang tangan Sari.
Hal itu membuat Sari tenang kemudian dirinya tersenyum kepada Arya.
”Kamu istirahat lagi saja, atau kamu mau minum?” tanya Arya, dia hendak meraih gelas yang berada di meja samping dirinya namun Sari menggelengkan kepalanya pertanda bahwa dirinya tidak ingin minum.
”Terimakasih sudah menemaniku, maaf aku menunjukan sisi lemahku.” ucap Sari.
”Sudah jangan bicara apa apa dulu, kau istirahat lagi ya? aku akan menemanimu seperti ini jadi kamu tidak perlu khawatir.”
”Aku sudah tidak apa apa, aku hanya berpikir kenapa aku tidak merasa senang melihatnya mati seperti itu. Padahal aku sangat ingin membalas dendam dan membuatnya kehilangan nyawanya seperti aku dan keluargaku di kehidupan lalu.”
”Itu yang dinamakan karma, kamu tidak perlu memikirkan itu lagi ya?”
Sari mengangguk dan menghela napas panjang.
”Bagaimana dengan mayat mereka.”
”Itu diurus oleh Nathali, kamu jangan khawatirkan hal itu lagi.”
”Masih ada lagi yang belum mendapatkan karmanya.”
”Maksudmu zayn?”
”Bukan hanya dia, tapi Doni. Selama ini aku masih membiarkannya karena banyak masalah yang tiba tiba terjadi. Tapi saat ini, aku harus mengurusnya. Aku tidak ingin dia mati dengan mudah seperti Nita.”
”Lebih baik sekarang kamu istirahat dulu ya? besok kita bahas ini semua dan membuat rencana baru lagi.”
Sari menatap wajah Arya yang tampak sangat khawatir terhadapnya, Akhirnya Sari tersenyum dan mengiyakan saran Arya untuk beristirahat.
”Kau naiklah kesini, aku ingin tidur di pelukanmu.” ucap Sari.
”Aa kuu..”
Arya tampak ragu karena dia khawatir tidak bisa mengendalikan dirinya dan melakukan hal diluar batas.
”Aku ingin kau menemaniku setidaknya sampai aku terlelap tidur. Apa kau tidak mau?”
__ADS_1
Sari tampak berharap tanpa mengetahui bahwa Arya menolak bukan karena tidak mau menemaninya akan tetapi takut tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
...****************...