Pembalasan Cinta Sari

Pembalasan Cinta Sari
Kau Sekarang Milikku


__ADS_3

Setelah ditinggal pergi oleh Arya dan Sari, Teguh kembali lagi menuju parkiran tempat dimana motornya berada, dia menaiki motornya dan hendak pulang ke rumah dengan perasaan kesal.


Namun seperti kata pepatah pucuk di cinta ulampun tiba, Teguh yang tadinya merasa kesal jadi sedikit bersemangat karena melihat Tania berjalan kaki ke arah halte bus. Teguh menghentikan laju motornya persis di samping Tania yang sedang berjalan di trotoar, Tania pun terkejut ketika tiba tiba ada Teguh yang menghampirinya.


”Naik.” Memang dasar Teguh yang gak bisa bersikap manis, ia yang berniat mengajak Tania untuk naik ke motornya dan mengantar pulang justru hanya mengeluarkan 1 kata yang terkesan seperti perintah paksa karena Teguh memasang wajah tanpa ekspresi dan suaranya yang berat menjadikan ia semakin di salah pahami.


Tania memilih tetap jalan kaki tanpa menggubris Teguh, ia kesal dengan sikap Teguh yang tanpa basa basi langsung berkata Naik tanpa ada embel embel kata yang lain.


Melihat Tania yang tetap berjalan walau ia sudah memintanya untuk pulang bersama membuat Teguh keheranan, Kali ini apa yang membuat Tania marah kenapa ia terus berjalan tanpa menjawab ku.


”Hei berhenti.” Teguh mencoba untuk menghentikan Tania, namun lagi lagi kata yang ia ucapkan minim sehingga Tania pura pura tidak mendengar walau ia tahu bahwa Teguh bicara padanya.


”Tania berhenti dulu, kenapa lo jalan terus sih gue kan ngajakin lo bareng.”


”Nah gitu dong, ngomong tuh yang lengkap kaya gini. Masa tiba tiba berhentiin orang jalan terus main bilang Naik tanpa mengucapkan hal lainnya lagi.” jelas Tania sambil menghentikan langkah kakinya kemudian memakai helm yang diberikan Teguh dan naik ke motor Teguh.


”Lo ini marah gara gara itu? padahl lo tau yang gue maksud naik ya elo.”


”Tetep aja, kalau ngomong jangan terlalu singkat harus jelas. Yaudh ayo jalan.” ucap Tania yang sudah bersiap duduk di belakang Teguh yang hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum karena merasa tingkah Tania lucu.


”Ayo jalan, malah diem aja.” omel Tania.


”Pegangan yang kuat, kalau sampe jatoh gue gak tanggung jawab loh.” Setelah mengatakan itu Teguh melihat tangan Tania yang tampak ragu untuk memeluk pinggangnya dengan kencang, karena gemas dengan tingkah Tania akhirnya Teguh menarik kedua tangan Tania agar bisa memeluk pinggangnya dengan erat. ”Pegangan tuh gini, jangan di lepas ya? gue mau jalan sekarang.”


Tania hanya bisa diam sambil memeluk Teguh dari belakang, ia menjadi salah tingkah sendirian, jantungnya berdebar sangat keras sampai sampai ia khawatir kalau Teguh akan mendengarnya. Namun saat ia melihat spion motor Teguh, ia melihat wajah Teguh yang tampan terpampang jelas dengan senyuman sambil ia tetap fokus pada jalanan. Hal itu membuat Tania sedikit tenang dan refleks ia pun tersenyum senang.


Teguh memang sangat tampan, dia juga perhatian tapi sayang dia kaku dan gak peka.


Sepanjang jalan mereka tidak saling bicara sepatah katapun, mereka sibuk mengatur debaran jantung yang sedari tadi semakin kencang saja. Hingga akhirnya Teguh sampai di depan rumah Tania.


Tania adalah anak satu satunya dan kehidupan keluarganya juga sederhana. Dia bukan dari keluarga kaya raya atau terhormat seperti Teguh, namun keluarganya juga bukan keluarga yang miskin dan banyak hutang, mereka hanya keluarga biasa. Ayah Tania pegawai bank swasta sedangkan Ibunya dirumah untuk mengurus keluarganya.

__ADS_1


Tania turun dari motor kemudian mencoba membuka helm yang terpasang di kepalanya, mungkin karena daritadi ia sibuk mengatur jantungnya yang berdebar tidak karuan helm yang seharusnya dengan mudah ia lepas justru jadi sulit dan panik yang saat ini menderanya membuat tali helm itu semakin susah dilepas.


Teguh yang melihat Tania kesulitan membuka helmnya jadi tersenyum karena entah kenapa saat panik pun Tania terlihat sangat menggemaskan. Ia menarik tangan Tania yang sedari tadi sibuk membuka tali helm dan tangannya menggantikan tangan Tania yang kesulitan membuka tali helm.


Perlakuan Teguh yang seperti itu justru membuat Tania semakin berdebar tidak karuan, ia terus menatap wajah Teguh yang saat ini sedang berada sangat dekat dengan wajahnya.


Bagaimana ini? jarak kita terlalu dekat, bagaimana kalau Teguh bisa mendengar debaran jantungku.


Teguh sudah selesai melepas tali helm itu, ia hendak melepaskan helm itu dari kepala Tania, namun baru memegang helm yang menempel di kepala Tania, ia tersadar bahwa wajahnya berada sangat dekat dengan Tania bahkan ia juga mendengar debaran jangungnya yang beriringan dengan debaran jantung Tania. Mereka saling menatap dengan tatapan yang dalam tanpa ada satu patah pun kata yang terucap.


Mereka terhanyut dalam tatapan masing masing, Teguh yang sangat ingin mengungkapkan perasaannya pada Tania namun entah mengapa satu katapun sangat sulit ia ucapkan, justru bibirnya malah semakin mendekat dan akhirnya menempelkannya di bibir Tania.


Tania tidak mendorong Teguh malah justru kedua tangannya melingkar di leher Teguh, mendapat respon begitu membuat Teguh semakin dalam mencium Tania, tangannya memeluk pinggang Tania sehingga ciuman mereka menjadi lebih dalam lagi. Cukup lama mereka berciuman hingga napas mereka mulai terengah engah dan perlahan mereka melepaskan ciuman mereka.


Setelah itu mereka saling menatap dengan posisi yang masih saling memeluk, Dengan napas yang tersisa Teguh mengucapkan satu kalimat yang begitu ditunggu oleh Tania selama ini.


”Sekarang kamu milikku.”


Mendengar jawaban yang sangat ingin ia dengar, membuat Teguh tersenyum dan hendak mencium Tania kembali.


Mereka sudah saling menutup mata dan nyaris menempelkan bibir mereka, namun tiba tiba suara pintu rumah Tania terbuka.


Tampak seorang wanita paruh baya namun masih terlihat cantik muncul, ia adalah Melissa ibu Tania.


”Ekhemm kalian sedang apa?” tegur Melissa sambil berpura pura batuk.


Tania dan Teguh yang mendengar langsung melepaskan pelukan mereka dan tampak gelagapan untuk menjawab.


Sedangkan Melissa hanya menatap tajam mereka berdua sambil tangannya di lipat di depan perutnya yang ramping. Teguh memang sudah mengenal orangtua Tania, karena belakang ini sering berkunjung.


”Aa anu tante, ii tuu aanu.” Teguh menjawab dengan gagap karena bingung apa yang harus ia katakan, sedangkan Melissa hanya ikut menggerakkan bibirnya sambil menirukan Teguh namun tanpa suara.

__ADS_1


”Anu anu itu itu apa?” omel Melissa.


”Ibu, udah ih jangan ngeledekin Teguh.” Tania tahu ibunya bukannya marah tapi hanya meledek mereka.


”Hahahahaha, iya iya Ibu tahu. Masa muda memang masa paling indah ya? tapi inget loh jangan ngelakuin hal aneh aneh apalagi di depan pintu rumah orang begini.” ucap Melissa sambil tertawa.


”Maaf tante, saya gak bermaksud begitu. Saya hanya..”


”Udah gapapa, jangan ditanggepin ibu emang begitu.” Ucapan Teguh dipotong oleh Tania.


”Yaudah, masuk dulu ayo mampir. Tante baru bikin kue dengan resep yang baru tante.” Melissa memang suka membuat resep resep kue baru dan yang selalu menjadi orang yang pertama mencoba adalah Teguh, hal itu membuat Teguh sedikit panik karena kue buatan Melissa kadang rasanya unik.


”Ibu jangan aneh aneh ya? gak inget apa kemarin Teguh sampe mual gara gara makan pancake topping irisan daging dengan madu yang ibu buat. Ibu suka eksperimen aneh aneh tau gak?” omel Tania.


”Ya ampun, tega banget anak ibu mematahkan semangat ibu yang suka bikin resep kue.” Melissa menjawab dengan ekspresi sedih namun itu hanya bercandaan mereka saja, ia tidak benar benar sedih dengan perkataan putrinya.


”Udah kamu pulang aja, jangan dengerin ibu.” ucap Tania sambil sedikit mendorong tubuh Teguh agar ia bisa secepatnya pergi dan terhindar dari ibunya.


”Maaf ya tante, saya pulang dulu. Lain kali saya akan cobain kue buatan tante ya? sekarang saya pamit dulu.” Teguh berpamitan sambil mencium tangan Melissa lalu ia menaiki motornya dan perlahan pergi menjauh.


”Tania, karena Teguh pulang jadi kamu yang gantiin dia cicipi resep kue ibu.”


Tania masuk ke dalam rumah dan meninggalkan ibunya yang masih berada di depan pintu.


”Hey hey hey, malah masuk ke rumah. Gimana ini kue buatan ibu siapa yang mau makan?” ucap Melissa sambil mengikuti Tania yang sudah terlebih dulu masuk.


”Ibu aja yang abisin”


”Hey, ibu gak bisa makan ini.”


”Ibu aja gak bisa makan, tapi nyuruh orang lain. Pokoknya Ibu abisin sendiri.”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2