
Bi Inah tergeletak dilantai dengan beberapa luka memar di kaki dan tangannya akibat di seret dan di lempar ke lantai oleh salah satu anak buah Nathali.
Dia kesulitan untuk berdiri karena tubuhnya yang sudah renta itu, dia sama sekali tidak menyangka akan di perlakhkan seperti itu oleh Sari.
Yang dia tahu Sari adalah orang yang sangat baik, tidak hanya itu dia juga sangat menyayangi dan menghormatinya, maka dari itu dia yakin meskipun dirinya ketahuan mungkin dirinya hanya akan di jebloskan ke penjara seperti menantunya Sarah ataupun di usir dari rumah.
Namun yang terjadi saat ini sangat diluar dugaannya, sosok Sari yang sekarang ada di hadapannya lebih tepat seperti seorang mafia yang siap membunuh buruannya.
Sari berjalan perlahan mendekati Bi Inah yang masih tergeletak di lantai dengan tubuh kesakitan, kemudian menjambak rambutnya hingga kepalanya ikut terbawa ke arah tangan Sari menarik.
Bi inah hanya bisa meringis kesakitan akibat rambutnya yang dijambak itu.
”Kalian tahu apa yang sudah di lakukan wanita ini?” tanya Sari dengan ekspresi wajah marah yang begitu menyeramkan hingga pertanyaannya itu tidak dijawab oleh pegawainya yang merasa ketakutan.
”Wanita ini sudah berani memasukan zat kimia ke minuman orangtuaku yang juga majikannya sendiri.”
Mendengar hal itu semua pegawai langsung terkejut dan tidak menyangka Bi Inah yang sudah seperti keluarga majikan mereka dan yang paling lama mengabdi di kediaman Jayadiningrat melakukan hal sekejam itu pada orang yang sudah sangat baik.
”Aku sengaja memperlihatkan ini kepada kalian semua, biar kalian tahu bahwa anjing yang mengkhianati majikannya pasti akan berakhir mengenaskan.”
Para pegawai hanya diam karena merasa takut akan ancaman Sari yang tidak main main itu. Sedangkan Bi Inah hanya meringis kesakitan tanpa berkata apapun.
”Aku akan membuat seorang pengkhianat hidup dengan penderitaan sehingga dia merasa kematian lebih baik daripada hidup. Maka dari itu kalian semua harus camkan ini baik baik, jangan pernah mencoba mengkhianati keluarga Jayadiningrat. Jika kalian bekerja dengan baik maka hidup kalian akan nyaman namun jika kalian bertindak bodoh seperti wanita tua ini, maka kalian harus siap siap hidup dalam penderitaan. Apa kalian mengerti?” teriak Sari.
”Mengerti.”
Semua pegawai menjawab dengan serempak, kemudian Sari menyuruh mereka kembali bekerja seperti biasanya sedangkan Bi Inah di bawa ke sebuah ruang kecil dan gelap tanpa jendela dan ventilasi, hanya ada satu pintu yang seukuran ruangan itu. Ruangan itu semacam sel isolasi di penjara.
__ADS_1
Bi Inah di tinggal sendirian didalam ruang isolasi yang sempit dan gelap itu sementara pintunya di gembok dari luar.
”Biarkan dia didalam situ dan berikan dia makan seadanya hanya agar dia tetap hidup. Awasi dia jangan biarkan dia mati, aku ingin dia terus hidup di dalam situ sampai aku putuskan lagi apa yang akan aku lakukan padanya.” ucap Sari pada anak buah Nathali yang bertugas menjaga ruangan itu.
Sari menemui Arya yang menunggunya di sofa ruang tengah karena tidak ingin ikut campur masalah hukuman itu, sejujurnya Arya baru melihat sosok Sari yang seperti itu.
Meski begitu, dia sama sekali tidak ilfeel atau membencinya. Arya sangat paham rasa sakit Sari yang harus mengalami pengkhianatan lagi. Dia juga akan mendukung apapun yang dilakukan Sari.
”Minum dulu.” ucap Arya sambil memberikan segelas air putih yang sudah dia siapkan kepada Sari yang baru saja duduk di sofa.
Melihat Sari tampak ragu mengambil air itu membuat Arya meminum air yang dia minum. Dirinya sangat paham saat ini pasti Sari mewaspadai apapun.
”Ini air putih biasa dan aman, aku udah mengeceknya.” ucap Arya.
Sari merasa bersalah melihat tindakan Arya yang harus seperti itu karena dirinya yang merasa ragu.
”Maafkan aku.”
”Kamu tidak perlu minta maaf, sekarang minum dulu agar kamu lebih tenang.”
Arya memberikan segelas air putih dari teko yang sama dengan air yang baru saja dia minum.
Arya sangat khawatir dengan kesehatan mental Sari saat ini, pengkhianatan kali ini pasti lebih mengguncang mentalnya karena wanita itu sudah seperti ibunya sendiri bahkan dia sangat menyayangi dan menghormatinya sama seperti orangtua kandungnya. Namun lagi lagi dia di khianati oleh orang yang dia sayangi, maka dari itu dirinya sangat memahami bahwa kali inipun Sari menjadi was was dan mencurigainya juga.
Arya bertekad dalam hatinya untuk berusaha lebih baik lagi agar bisa membuat Sari kembali percaya diri atas kemampuan penilaiannya mengenai karakter orang lain.
Setelah Sari menghabiskan segelas airnya, dia sudah tampak sedikit tenang. Dia hanya sesekali menghela napas panjang.
__ADS_1
”Semua ini bukan salahmu, jadi kamu jangan meragukan kemampuan penilaianmu. Aku yakin tidak ada seorangpun yang membayangkan bahwa Bi Inah tega seperti itu.”
”Sejujurnya hatiku sangat sakit kali ini, aku menyiksa orang yang sudah tua bahkan dia yang ikut membesarkan diriku. Seandainya yang dia incar adalah aku, mungkin aku tidak akan bertindak sejauh ini. Tapi kenapa dia mengincar orangtuaku? apa salah mereka? padahal aku sudah sekuat tenaga melindungi orangtuaku tapi tetap saja aku gagal.”
Sari mengeluarkan isi hatinya saat itu, bahkan suaranya bergetar hebat menandakan betapa tersiksanya batinnya saat ini.
”Besok kita akan menanyakan alasannya, dan kamu tidak perlu merasa bersalah. Jika aku jadi kau pasti aku melakukan yang jauh lebih kejam dari itu.”
”Apa sisiku yang tadi membuatmu takut?”
Sari memikirkan apa yang kira kira saat ini ada di benak Arya setelah melihat sisi kejamnya itu, sejujurnya dia sedikit takut jika perasaan Arya berubah setelah melihat sisi kejamnya.
”Sama sekali tidak, bahkan jika kau berubah menjadi psikopat ataupun iblis sekalipun diriku ini akan selalu mendukungmu. Aku tidak akan membiarkanmu kotor saat melewati lumpur.”
Ucapan Arya itu membuatnya lega sekaligus khawatir kalau kalau dirinya benar benar berubah jadi psikopat dan Arya akan terus mendukungku maka Arya pun akan terseret kedalam lumpur itu.
”Kau harus mengingatkanku jika aku sudah diluar kendali. Aku sebenarnya tidak ingin berubah menjadi psikopat tetapi aku juga tidak yakin kedepannya bagaimana. Mengingat musuhku masih berkeliaran bebas diluar sana.”
”Kamu tenang saja, aku akan jadi perisaimu.”
Arya memeluk Sari dengan lembut sambil sesekali mengelus kepalanya.
”Oh iya, aku hampir lupa ingin memberitahukan sesuatu.”
”Aku sudah menyelidiki zat kimia itu.”
”Ah aku hampir melupakan itu karena tersulut emosi. Tapi apa aku pernah memintamu menyelidiki ini?”
__ADS_1
”Tidak, hanya saja aku merasa belakangan ini aku tidak banyak membantumu. Aku hanya ingin sedikit berguna untukmu.”
...****************...