
Pagi itu keluarga Prayoga sarapan bersama, namun tidak seperti biasanya Leon melihat raut wajah papihnya sangat suram. Papihnya bahkan tidak sadar bahwa ia memegang gelas kopi yang masih panas.
”Papih, apa gak panas?” Leon bertanya namun sama sekali tidak ada tanggapan dari papihnya, jiwa papihnya seperti tidak ada disitu.
Heni yang merasa ada yang aneh dengan suaminya langsung menegor dan mengguncang tubuh suaminya.
”Pih, papih kenapa?” Heni bertanya sambil memegang tangan suaminya.
Akhirnya Daniel sadar dan menjawab dengan asal karena sebenarnya dia tidak mendengar pertanyaan istrinya.
”Ada apa?”
”Papih lagi mikirin apa si? papih sadar gak si apa yang baru papih lakuin?” omel Heni.
”Ya, papih sadar apa yang udah papih lakuin salah, papih nyesel, maafin papih.” Sebenarnya jawaban Daniel itu di tujukan untuk putra sulungnya, karena ia sedang memikirkan putra pertamanya itu.
”Kenapa papih minta maaf, mamih itu cuma takut lidah papih mati rasa karena minum kopi yang masih panas langsung sekali tenggak begitu.” Heni terus bicara tanpa tahu bahwa yang suaminya pikirkan dengan apa yang ia pikirkan itu berbeda.
Leon menyadari papihnya aneh semenjak pulang semalem, pikirannya terus bertanya sebenarnya papihnya darimana dan apa yang terjadi kemarin?
Namun dipikirkan seperti apapun Leon tetap tidak mendapatkan jawabannya. Akhirnya Leon memutuskan untuk menebeng mobil papihnya ke sekolah, ia ingin bertanya langsung pada papihnya.
”Pih, Leon lagi males bawa mobil. Leon nebeng mobil papih ya?”
”Yaudah, ayo berangkat sekarang.”
Setelah berkata seperti itu Daniel langsung saja berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Heni merasa aneh, kenapa suaminya langsung pergi tanpa mencium keningnya? padahal suaminya tidak pernah seperti ini selama ini.
Melihat itu semua, Leon mencoba mengalihkan perhatian Heni dengan berpamitan.
”Mih, aku pamit dulu ya?”
”Iya hati hati ya. Papih kamu kenapa ya?”
”Halah, paling masalah kerjaan mih. Udah gausah dipikirin mih. Yaudah ya mih, bye bye.”
Heni hanya berdiri melihat punggung putranya yang semakin menjauh.
Mungkin benar papih ada masalah kerjaan, lebih baik nanti malam aku kasih kejutan buat papih supaya papih semangat lagi. Aku akan pesan lingerie warna hitam seperti kesukaan papih. Lagipula udah lama kita gak menghabiskan malam yang panas.
Heni langsung bergegas menyuruh pelayan menghias kamarnya seperti kamar pengantin dan juga ia langsung bersiap ke salon untuk mempercantik dirinya.
...----------------...
Sementara itu di mobil hanya ada keheningan, Leon akhirnya memberanikan diri bertanya pada papih nya.
”Pih, kemarin papih pergi kemana setelah aku ke kantor papih.”
”Papih menemui kakakmu.”
Leon sudah menduga bahwa papihnya pasti langsung menemui kakaknya, tapi melihat ekspresi muram papihnya pasti ia juga diusir seperti dirinya.
”Lalu?”
”Dia mengusir papih, dia mau memutuskan hubungan keluarga dengan papih, dia juga merasa jijik karena di dalam tubuhnya mengalir darah papih.”
Papihnya bercerita dengan raut wajah sedih dan penuh penyesalan, Namun Leon marah karena menurutnya kakaknya sudah keterlaluan.
__ADS_1
”Aku akan datangi kakak, bisa bisanya dia berkata begitu ke papih.” Sorot mata Leon memancarkan amarah yang besar.
Mendengar itu Daniel sadar bahwa ia memprovokasi putranya sendiri untuk membenci kakaknya, tapi yang baru saja ia katakan tanpa sengaja itu tidak bisa ditarik kembali dan dia juga tidak mungkin menceritakan kesalahan yang sudah dia dan Heni lakukan. Yang bisa ia lakukan sekarang adalah mencegah Leon membenci kakaknya.
”Jangan lakukan apapun, urusan kakakmu biar papih yang urus.”
”Gak bisa pih, kak Steven udah keterlaluan. Leon gak tau apa yang membuat dia marah, tapi merasa jijik pada papihnya sendiri itu udah sangat keterlaluan. Aku gak akan maafin kakak.” Leon terus berbicara dengan sangat menggebu gebu.
”Leon” Teriakan Daniel membuat Leon terkejut dan terdiam.
”Papih udah bilang jangan lakuin apapun, papih yang akan urus ini semua. Kamu ngerti? papih gak mau ya kamu berbuat yang aneh aneh. Paham kamu?”
Leon sangat tidak mengerti kenapa papihnya melarangnya melakukan apapun, padahal ia hanya ingin membuat kakaknya sadar bahwa dia salah dan tanpa keluarga dia bukan apa apa. Tapi ancaman papihnya terasa menakutkan baginya, sehingga untuk saat ini ia hanya bisa menahan amarahnya dan mengiyakan yang papihnya katakan.
”Iya.”
Itu adalah kata kata terakhir yang terdengar di mobil itu sebelum mobil itu berhenti di gerbang sekolah.
Leon turun dari mobil tanpa berkata satu patah katapun, begitupun Daniel juga membiarkan Leon turun dan pergi masuk kedalam sekolah.
”Jalan ke kantor pak” ucap Daniel kepada supirnya.
Leon berjalan menyusuri koridor, pikirannya kalut sehingga ia tidak fokus berjalan dan menabrak Sari yang berjalan lebih dulu di depannya.
Bruukkk
Sari terjatuh karena tertabrak tubuh Leon yang tinggi dan lebih besar darinya.
”Aduh.” Sari merintih dan mencoba berdiri, ia melihat Leon yang menabraknya langsung mengulurkan tangannya agar Sari lebih mudah berdiri.
Sari merasa ada yang aneh dengan Leon, ekspresi wajahnya tampak suram dan seperti menahan marah.
”Lo kenapa? sakit?” Sari refleks memegang dahi Leon dengan punggung tangannya untuk mengecek apakah suhu tubuh Leon panas atau tidak.
Wajah Leon yang melihat wajah Sari dari dekat menjadi sangat merah dan jantungnya berdebar dengan kencang. Bagaimana bisa ada gadis secantik ini dihadapannya dan kenapa dia begitu perhatian hari ini.
”Lo panas, wajah lo juga merah. Kayaknya lo demam, mending lo ke UKS aja sana.” Perintah Sari membuat Leon tersadar dari lamunannya.
”Kalo gitu anterin gue ke UKS.” Leon hanya mencari alasan agar bisa lebih lama bersama Sari.
”Lo itu masih bisa jalan, jadi sana pergi sendiri. Deket inih tuh keliatan dari sini.” Sari menolak mengantar Leon dan hanya mengarahkan telunjuknya ke arah UKS.
Padahal dia yang bikin wajah gue merah dan suhu tubuh gue naik, dia juga yang nyuruh gue ke UKS tapi malah dia gak mau nganterin. Kenapa dia pinter banget tarik ulur sih, bikin gemes aja.
Leon larut dalam pikirannya sendiri sampai ia di sadarkan oleh cubitan yang luar biasa sakit. Ternyata Sari yang melihat Leon bengong malah mencubit pingganya hingga ia merasa sakit.
”Aduh sakit.”
”Lagian malah bengong, gue udah ngomong daritadi malah ga ngejawab. Udah sana ke UKS sebelum tambah tinggi demamnya.”
”Aduh, gue tambah sakit gara gara lo cubit. Gue jadi gak punya tenaga lagi.” Leon meringis agar bisa membuat Sari memapahnya ke UKS.
”Jangan bohong deh, udah sana jalan.” omel Sari.
Leon berakting kesakitan dan berjalan sedikit demi sedikit agar terlihat lemas untuk menarik perhatian Sari.
Sari yang melihat Leon berjalan tertatih Ratih menjadi merasa sangaat bersalah, ia berpikir kalo ia sudah keterlaluan hari ini, dan membuat Leon bertambah sakit, padahal Leon adalah adik Arya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengantar Leon ke UKS.
__ADS_1
”Duh, Kalo lo jalan begini yang ada belum sampe UKS lo udah pingsan.” omel Sari sambil memapah Leon.
Leon tersenyum atas kemenangannya, akhirnya Sari yang dingin bisa juga perhatian seperti ini.
Dengan hati hati Sari memapah Leon hingga sampai di UKS dan menuntunnya ke ranjang UKS agar Leon bisa beristirahat.
”Lo udah sarapan belom?”
Wah, bahkan Sari bertanya apakah gue udah sarapan apa belom? kenapa sikapmu manis dan bikin gemas begini.
Sari yang melihat Leon diam dan malah senyum senyum sendiri menjadi kesal dan menyentil dahi Leon.
”Aduh sakit.” keluh Leon
”Lagian lo ditanyain malah senyum senyum sendiri.”
”Gue lagi sakit malah di aniaya terus, yang ada gue tambah sakit. Lo mau ngerawat gue seumur hidup.”
”Kenapa jadi gue, lagian cuma gitu aja kesakitan. Payah.”
”Ya namanya juga lagi gak fit.”
”Yaudah jangan banyak omong d h, udah sarapan belom?”
”Gue udah sarapan.”
Mendengar jawaban Leon, Sari langsung menuju lemari obat dan membawa beberapa obat demam.
”Lo alergi obat gak?”
”Gak si.”
Sari memilih satu obat dan mengambil air minum untuk Leon.
”Nih minum obatnya terus istirahat disini, biar nanti gue ke kelas lo buat bilang ke temen lo kalo lo di UKS.” ucap Sari sambil memberikan obat dan minum untuk Leon.
Leon meminum obatnya dan menjatuhkan tubuhnya di ranjang sambil tersenyum.
”Makasih ya Sar, Gue jadi kayak di perhatiin pacar deh.”
”Jangan ngaco ya, gue begini cuma ngerasa bersalah aja ama lo. Yaudh lo istirahat aja, gue mau pergi.”
”Nanti istirahat lo kesini lagi ya?”
”Ntar jam istirahat paling lo udah sembuh. Demam lo belum parah.”
”Lo masih aja ketus, kirain kita udah deket.”
”Udahlah, kalo lagi demam emang omongannya suka gak jelas. Gue pergi.” Sari langsung pergi meninggalkan Leon sendirian di UKS.
Leon terus tersenyum sambil tiduran di ranjang UKS yang tidak begitu nyaman itu, namun ia merasa senang karena Sari sudah sedikit perhatian padanya.
Awalnya gue mau ngerelain lo buat kakak gue kalo emang kakak gue menyukai lo sar, tapi perasaan gue gabisa di bohongi. Lo bahkan bisa bikin gue senyum gini padahal baru tadi gue marah. Ya, gue bakal memperjuangkan lo sar, lagipula kakak gue itu gak pantas buat lo, dia bukan orang baik. Keluarganya aja bisa dia buang, bagaimana kalo lo jiga dibuang olehnya. Ya, gue bersumpah bakal membuat lo terus di sisi gue.
Leon yang terus berfikir dan bertekad kuat itu lama lama tertidur karena efek obat yang ia minum.
...****************...
__ADS_1