Pembalasan Cinta Sari

Pembalasan Cinta Sari
Suasana Aneh


__ADS_3

Aku sarapan sendiri lagi? sebenarnya mamah papah ada masalah apa si, mereka gak pernah berantem sampai seperti ini. Ini sudah lebih dari seminggu kita berempat kumpul lagi.batin Sari


Meski sudah mengetahui akan sarapan sendiri entah kenapa ia tetap bertanya pada bi inah yang sedang membawakan segelas susu untuknya.


”Bi, yang lain kemana ya?”


”Tuan Ilyas udah ke kantor pagi pagi sekali, terus den Teguh juga katanya hari ini gak sempet sarapan karena udah terlambat buat kelas tambahan, kalau nyonya hmm belum keluar kamar non.”


Sari menghela nafas, ia ingin tahu masalah apa yang sebenarnya terjadi.


Dia naik ke lantai dua dan menuju kamar orangtuanya, ia bermaksud menanyakan apa yang terjadi.


Sesampainya di depan pintu kamar, ia tidak jadi mengetuk pintu karena mendengar suara mamahnya yang menangis.


Sebenarnya ada masalah apa sampai mamah menangis begini, mamah ga pernah begini sebelumnya bahkan di kehidupanku dulu. batin Sari sambil terdiam di depan kamar.


cekleekk


Saat itulah tiba tiba mamahnya membuka pintu kamarnya karena menyadari kehadiran seseorang.


”Ade, ada apa de?” tanya mamahnya dengan wajah yang di paksakan tersenyum.


Sari merasa bukan waktu yang tepat menanyakan sekarang,


”Mamah kenapa ga turun? mamah ga sarapan?”


”Mamah gak laper de, nanti kalau laper mamah turun buat makan ya? mamah sedikit ga enak badan aja.”


”Mamah sakit? kita ke dokter ya?” tanya Sari sambil memegang dahi mamahnya.


”Gak sayang, mamah cuma kelelahan aja. setelah istirahat juga mamah sehat lagi.”


”Ade temenin mamah ya?”


”Gak usah de, kan ade harus ke sekolah. Mamah benar gapapa, nanti mamah minta tolong bi inah biar bikinin teh jahe madu. Kamu ke sekolah aja ya? nanti terlambat.” ucap mamahnya sambil tersenyum.


Sari tahu mamahnya sedang ada yang dipikirkan tapi melihat sifat mamah sudah pasti ia tidak akan memberi tahu, jadi ia memutuskan untuk bertanya pada papahnya nanti malam.


”Yaudh, Ade ke sekolah dulu ya? tapi nanti kalo ada apa apa mamah hubungi ade ya?”


”Iya, udah sana berangkat nanti telat loh.”


Sari pamit dengan mencium tangan dan pipi mamahnya.


Dia kembali turun ke ruang makan setelah mamahnya kembali masuk dan menutup pintu kamarnya.


”Bi, tolong nanti anterin sarapan ke kamar mamah ya? sekalian buatin teh jahe madu juga ya? mamah katanya ga enak badan.”


”Baik non, non mau saya ambilin nasi goreng atau mau sandwich?” tanya bi inah.


”Gak usah bi, aku mau langsung berangkat aja. Aku juga udah kenyang minum susu segelas tadi.”


”Masa cuma sarapan itu aja, bibi siapin bekel aja buat non.”

__ADS_1


”Gausah bi, nanti aku makan di kantin aja.”


”Ya sudah kalo gitu.”


”Tolong jagain mamah ya bi, pekerjaan bibi biar dikerjakan pelayan lain aja bi. Kalo ada apa apa kabarin aku ya bi.”


”Iya non.”


”Aku berangkat ke sekolah dulu bi,” pamit Sari sambil memeluk bi inah yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.


...----------------...


Sari duduk terdiam di bangku panjang yag ada di taman sekolah.


Padahal aku harus secepatnya menyingkirkan mang Heru sebelum ia membuat masalah, setelah itu baru aku singkirkan tante Sarah sebelum ia masuk ke kehidupan kami. Tapi sekarang yang lebih penting adalah mendamaikan orangtuaku. Sebenarnya apa masalah mereka? Aku tidak tahu karena masa depan sudah mulai berubah, di masalalu orangtuaku sudah meninggal. Aku benar benar harus cepat mengatasi masalah mereka dulu sebelum menyingkirkan mang Heru. batin Sari


Ada pria yan sebelumnya pernah menabrak Sari di sekolah, ia tampak melihat ke arah Sari.


Dia kan cewe yang waktu itu gue tabrak tapi langsung pergi gitu aja, ngapain dia bengong disini. Sebenarnya siapa dia ya? apa aku dekati aja sekarang ya? batinnya.


Pria itu memutuskan untuk mendekati Sari, ia langsung duduk di samping Sari.


”Cuaca pagi ini cerah ya? tapi kenapa orang yang duduk di sebelahku kelihatan mendung banget?”


Pria itu memulai percakapan dengan kepala yang didongakkan menghadap ke langit.


Sari yang mendengar itu langsung menengok dan mengernyitkan dahinya, dia malas meladeni orang yang ga dia kenal.


”Kenapa malah diam dan cuma melihat ke arahku? Aku ganteng ya? Yaudah banyak yang bilang si.”


Setelah mengatakan itu Sari hanya menggelengkan kepalanya dan berdiri sambil melangkahkan kakinya pergi meninggalkan tempat itu.


Setelah beberapa langkah, pria itu berteriak.


”Hei, namaku Leon. Namamu siapa?”


Sari mendengar teriakan Leon tapi ia tidak perduli dan tetap berjalan pergi.


Melihat itu Leon jadi gemas dan penasaran.


”Dia menarik banget, gak ada satupun cewe di sekolah ini yang mengabaikan gue seperti dia, tapi herannya gue gak benci. Malah dia jadi menggemaskan.”


Leon hanya bermonolog sendiri sambil tersenyum saat hendak pergi juga ke kelas, ia melihat ada sesuatu yang tergeletak.


”Ternyata dompet gadis itu tertinggal, biar gue liat identitasnya.” gumam Leon sambil membuka dompet Sari.


”Wah pas banget dia udah punya KTP, jadi namanya Sari Jayadiningrat, usianya 17 tahun.”


Leon yang sudah mengetahui identitas Sari, berfikir untuk datang ke rumah Sari nanti malam dengan alasan mengembalikan dompet, pasti Sari bakalan berterima kasih dan mau diajak jalan.


Sementara itu Sari yang sudah selesai kelas, mencoba mencari dompetnta tapi tidak ketemu, saat sedang mencari dompet di tasnya tiba tiba HP nya bergetar, ternyata ada telpon dari Arya.


”Iya ada apa?”

__ADS_1


”Aku udah dapet informasi yang kamu mau.”


”Kebetulan sekarang aku udah selesai kelas, aku akan mampir ke kantormu sekarang ya?” jawab Sari sambil menutup teleponnya.


Ah sudahlah dompet dicari nanti aja, lebih baik sekarang aku ke kantor Arya. batinnya


Disisi lain Arya kembali dibuat kesal.


”Nih anak bener bener kebiasaan. Langsung matiin telpon aja, padahal aku kan belum selesai ngomong. Aku kan mau nanya apa dia mau aku jemput di sekolahnya. Ah sudahlah, bagus dia menutup telponnya kalo engga aku bisa malu nanya mau jemput dia.” gumam Arya sambil mengacak acak rambutnya sendiri.


...----------------...


”Jadi mana informasinya.” tanya Sari sambil nyelonong masuk ke kantor.


”Ampun deh ya, bisa permisi dulu gak si. Aku kaget jadinya.” omel Arya yang melompat terkejut.


Arya langsung cepat cepat membereskan rambutnya yang tadi sempat berantakan.


”Lagian ngapain si di depan kaca barusan, mau ngaca kaya gimanapun juga wajahmu bakalan begitu begitu aja gak akan berubah jadi Lee Min hoo.” ujar Sari.


”Nih orang sekarang ngomongnya pedes banget ya? walau ga berubah jadi Lee Min hoo tapi kan aku ganteng juga gak kalah sama dia.”


”Cih, PD banget.” ketus Sari.


Mendengar jawaban Sari, Arya refleks merasa tertantang. Ia mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Sari.


”Memangnya aku kurang tampan?”


Melihat wajah Arya yang tepat dihadapannya membuat wajahnya memerah,


Sejak kapan Arya setampan ini ya? bibirnya juga sexy, ya ampun sadar Sari walaupun usiamu sebelum mati adalah 25 tahun, tapi sekarang ini kan usiamu baru 17tahun. Bisa bisanya mikir hal begini.


Sari yang tersadar dari pikirannya yang aneh sontak mendorong Arya agar wajahnya menjauh.


”Gak tuh, udah sana mundur dulu. Mana informasinya, malah bercanda mulu.” omel Sari sambil mengalihkan pandangannya.


Arya yang melihat wajah Sari memerah jadi merasa gemas, tapi ia tidak menjahili nya lebih lagi karena takut terbawa suasana.


”Semua ada di amplop ini, tapi aku akan jelasin garis besarnya.”


”Wanita ini namanya Sarah dia punya seorang putri usianya 2 tahun lebih muda dari kamu, terus juga dia tinggal di salah satu vila keluargamu yang ada di bogor. Dan ini, aku mendapatkan foto Om ilyas mengunjungi wanita ini. Tapi aku belum tahu apa hubungan mereka.” jelas Arya sambil memberikan sebuah foto.


”Apa? jadi papahku kenal ama wanita ini? sejak kapan?”


”Aku belum tahu makanya aku mau cari tahu dulu apa.”


”Apa dia istri muda papahku?” tanya Sari dengan nada sendu.


”Jangan mikir negatif dulu, dilihat dari foto foto ini gak ada tanda kemesraan. Jadi kita belum bisa menyimpulkan itu.” jawab Arya mencoba menenangkan Sari.


”Tapi gimana kalo itu benar?” teriak Sari


Sari mulai emosional dan menangis, melihat itu Arya hanya bisa memeluk Sari untuk menenangkannya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2