
Keesokan harinya Arya masih bermalas malasan di atas ranjangnya, seharusnya hari ini ia menemui Daniel untuk melanjutkan pembicaraan yang kemarin. Akan tetapi ia terus teringat permintaan maaf yang diucapkan Daniel sehingga ia menjadi ragu untuk menemuinya hari ini.
Sampai tiba tiba Leon melemparnya dengan bantal, ia memaksa kakaknya itu agar cepat bangun.
”Bangun, lo gak pernah ya males malesan gini. Kenapa si” ucap Leon.
”Hari ini gue pengen tiduran aja, gue males bertemu orang itu.”
”Dia ayah kandungmu, segala bilang orang itu. Udah cepat bangun terus siap siap. Masa lo gitu aja udah down bagaimana kalau sampai lanjut ke pengadilan coba. Udah cepet, kalo gak mau bangun bakalan gue laporin ke cewek lo kalo lolo ada masalah. Lo ga mau kan cewe lo cemas.”
Arya langsung bangun dan merasa kesal.
”Sial, lo sekarang udah jago ngancem gue ya.”
”Makanya jadi orang tuh jangan punya kelemahan, kaya gue nih. Perfect.” ujar Leon dengan percaya diri.
”Halah, udahlah sana keluar gue mau mandi terus siap siap. Lo gak ada kelas hari ini?”
”Gak ada, hari ini gue mau males malesan dirumah.”
”Huh dasar, dirinya sendiri juga males malesan tapi malah nyuruh gue jangan males malesan.”
”Udah jangan banyak ngedumel, gue siapin sarapsarapan ya?”
”Gak usah, gue gak mau sakit perut gara gara masakan lo.”
”Sialan, mau dibaikin malah ngehina.”
”Bukan ngehina tapi menjaga kesehatan gue sendiri.”
”Ya deh, gimana kalo gue bikinin sandwich aja. Kalo sandwich gue jamin gak bakalan sakit perut lo.”
”Terserah, udah sana keluar.” ucap Arya sambil mendorong tubuh Leon keluar lalu mengunci pintu kamarnya.
...----------------...
Arya akhirnya sampai juga di kantor Daniel. Ia sempat ragu untuk masuk ke gedung kantornya tapi pada akhirnya ia memberanikan diri untuk masuk setelah meyakinkan dirinya sendiri untuk tetap tenang.
Ia langsung dipersilahkan masuk oleh resepsionis karena memang ia sudah ditunggu oleh Daniel di ruang kerjanya.
__ADS_1
Arya menaiki lift menuju ruang kerja Daniel, di sepanjang jalan ia terus mengatur napasnya agar tenang.
Tenang Arya, kamu itu bukan penjahat jadi tidak perlu merasa cemas ataupun gugup. Semoga hari ini orang itu setuju dan langsung menandatanganinya karena sejujurnya ia pun tidak punya banyak waktu untuk menjalani pengadilan yang panjang.
Arya tiba di depan ruangan Daniel lalu ia mengetuk pintu nya dan seseorang menjawabnya untuk langsung masuk saja.
”Silahkan duduk.” sambut Daniel
Kali ini Daniel menyambutnya dengan ramah dan tersenyum sehingga membuat Arya merinding.
Kenapa dia tersenyum seperti itu, apa yang dipikirkannya? semalama bahkan aku tidak isa tidur karena merasa bersalah, tapi sepertinya dia tidak memikirkan kejadian kemarin sama sekali. Padahal kemarin dia sampai nangis seperti itu, haaah beginilah sifat aslinya. Bisa bisanya kemarin aku berfikir bahwa dia mungkin tulus.
Tidak lama kemudian seorang OB masuk membawa dia cangkir kopi.
”Silahkan diminum dulu.”
”Tidak perlu, bagaimana kalau kita langsng membicarakan yang kemarin.” tegas Arya.
”Di minum dulu, kasian loh OB udah membuatkan kopi.”
Terpaksa Arya meminum kopi itu dulu sebelum ia melanjutkan bicaranya.
”Wah sudah habis, apa kamu mau segelas lagi?”
”Tidak perlu, tolong jangan basa basi lagi. Ayo langsung ke intinya saja.”
”Ya baiklah kalau kamu gak mau lagi.”
”Jadi gimana apa anda sudah menandatangani semua dokumennya.”
”Ya sudah, tapi sebelum papi berikan semua dokumen itu papi mau kamu baca ini dulu dan setujui, baru papi akan berikan dokumen yang kemarin kamu minta.”
”Apa ini?” Arya bertanya sambil mengambil sebuah map dan didalamnya ada surat perjanjian. Ia langsung membaca surat itu lalu meletakkannya kembali di meja.
”Saya tidak bisa menandatangani surat perjanjian ini karena saya tidak setuju dengan isinya.” tegas Arya.
”Lebih baik kamu setuju kalau kamu tidak mau papi mengusik pacarmu.”
”ApaApa maksud anda.”
__ADS_1
”Kamu sekarang sedang menjalankan perusahaan milik pacarmu kan? dia belum muncul pasti karena dia merasa orang lain pasti tidak akan mempercayai kemampuannya. Bagaiman jika papi publikasikan ini. Perusahan CH group yang mulai berkembang pesat adalah milik gadis muda belia. Pasti media akan heboh dan kemungkinan besar para dewan direksi akan mulai memberontak karena meragukan kemampuannya.”
”Kalau anda berani mengusik dia, anda akan tahu akibatnya.”
”Itulah dia, kenapa kamu gak mau menyetujui saja syarat dari papi. Padahal papi hanya minta kita makan bersama sebulan sekali selama papi masih hidup. Itu hal yang mudah kan?”
Arya memasang wajah kesal.
Lebih baik aku setujui saja, daripada dia macam macam pada Sari. Sialan padahal selama ini tidak ada yang tahu, tapi bagaimana bisa dia tahu. Ternyata dia jadi pengacara bukan tanpa alasan.
Arya dengan terpaksa menandatangani perjanjian itu, dia tidak bisa bayangkan hidupnya ke depan akan semakin sulit karena harus terus berurusan dengan Daniel.
”Ini sudah saya tanda tangani. Ingat, sampai anda mengusik kekasih saya maka saat itu juga saya akan menghancurkan hidup anda.” ancam Arya.
Daniel tersenyum karena memang dari awal dia tidak bermaksud mengusik siapapun, dia hanya ingin hubungannya dengan putranya itu tidak pernah terputus maka dari itu dia meminta makan bersama sebulan sekali sambil ia berharap bahwa dengan berjalannya waktu mereka bisa menjadi ayah dan anak pada umumnya.
”Baiklah, jangan lupa setiap akhir bulan kita harus makan bersama.” ucap Daniel mengingatkan.
”Ya.”
”Apa setelah ini kau masih ada urusan? bagaimana kalau kita makan bersama dengan adikmu juga.”
”Saya tidak bisa, lagipula ini belum sebulan jadi untuk apa anda mengajak makan bersama.”
”Ya apa salahnya memberi bonus pada papimu ini sekali.”
”Sudahlah saya tidak punya banyak waktu meladeni keinginan aneh anda. Saya pamit.” ketus Arya sambil berdiri dari tempat duduknya.
”Yasudah memang kamu pasti sibuk, apalagi mulai sekarang kamu juga harus mengurus bisnis pakaian jadi mamimu.”
Arya tidak menjawabnya dan langsung keluar begitu saja dari ruangan Daniel sambil membawa tas berisi berkas berkas hartanya.
Sementara itu disisi lain Heni menerima telpon dari salah satu mata mata yang ia tempatkan di kantor suaminya dan mendapat kabar bahwa harta mendiang Isyana sudah diberikan pada Arya.
Mendengar hal itu Heni sangat marah, ia bahkan melempar HP nya sendiri ke lantai karena begitu marah.
Sialan, bagaimanapun caranya harta atas nama suamiku harus diwariskan seluruhnya pada Leon. Aku gak akan biarin Leon hanya gigit jari dan mendapatkan setengah harta yang tersisa. Yang pertama aku harus lakuin adalah mengembalikan Leon ke rumah ini.
””Bagaimana caranya membuat anak itu mau kembali ke rumah ini, dia harus kembali dulu agar aku bisa membujuknya untuk membantu rencanaku. Tapi anak itu begitu keras kepala, bahkan ia tidak tertarik dengan harta warisan. Anak itu benar benar bodoh.” gumam Heni
__ADS_1
...****************...