Pembalasan Cinta Sari

Pembalasan Cinta Sari
Kamu yang Utama


__ADS_3

Pagi itu Semuanya sedang berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama, namun Sari yang sudah memakai seragam sekolah dan baru turun justru hanya melewati ruang makan dan ia langsung pergi begitu saja menuju luar rumah dengan ekspresi wajah datar.


”Anak itu, pergi gitu aja tanpa sarapan terlebih lagi dia sama sekali gak pamitan.” ucap Ilyas.


”Kita sarapan dulu aja ya.” Rita mencoba mengalihkan pembicaraan dulu supaya semuanya menyantap makanan itu.


Teguh yang tadinya dalam posisi duduk, langsung berdiri dan berpamitan.


”Kakak berangkat aja ya mah pah.” ucapnya sambil mencium tangan dan pipi kedua orangtuanya.


”Kamu gak sarapan dulu kak?” ucap Rita dengan suara agak kencang karena putranya sudah terlihat semakin menjauh.


”Nanti aja di sekolah.” Suara Teguh terdengar pelan karena sudah semakin menjauh.


Sementara itu Rita dan Ilyas melanjutkan sarapan bersama Nita, suasana sarapan pagi itu memang sangat sunyi, hanya ada suara sendok yang menyentuh piring.


”Kak Sari dan kak Teguh pasti begitu gara gara Nita ya?” Nita memasang wajah sedih yang sebenarnya itu hanya pura pura saja.


”Ehmm Nita, tante sama om mau bicara sesuatu sama kamu.” Rita tampak ragu karena merasa bersalah akan mengatakan hal yang mungkin menyakiti Nita.


Ilyas hanya diam, karena memang sudah menyerahkan segala keputusan kepada istrinya, jadi ia hanya akan mendukung dan setuju saja.


”Mau bicara apa tante.”


”Tante sama om mau minta maaf sebelumnya, tapi sepertinya kamu tidak bisa terus tinggal disini.” Rita bicara dengan lembut dan penuh hati hati.


”Gak apa apa tante, Nita bisa tinggal di depan ruko atau jalanan. Nita juga bisa bekerja mencari uang nanti untuk Nita. Maafin Nita ya tante om, sudah merepotkan disini.” Nita mengeluarkan air matanya, untuk kali ini ia sangat bersyukur memiliki garis keturunan mamanya itulah mengapa aktingnya pun jempolan seperti mamanya itu.


”Jangan menangis Nita, kamu gak mungkin kami biarin tidur dijalanan. Kami akan menitipkan di panti, disana banyak teman teman jadi kamu gak akan merasa kesepian. Lalu untuk biaya sehari hari dan juga sekolah kamu semuanya akan kami tanggung, jadi kamu gak akan kekurangan apapun.” ucap Rita menjelaskan sambil. mengusap air mata Nita.

__ADS_1


”Gak usah tante, Nita gak mau menyusahkan kalian lagi. Lagipula Nita tahu diri, mama Nita udah berbuat jahat jadi pantas saja kalau kalian membenci Nita. Nita minta maaf ya tante.” Nita menangis, kali ini aktingnya benar benar kelas aktris internasional benar benar natural dan sangat meyakinkan.


Melihat tangisan Nita, Rita merasa sangat tidak tega. Namun, ia juga tidak sanggup bila Sari meninggalkan dirinya.


”Kamu gak salah Nita, tante ngelakuin ini bukan karena membenci kamu, tapi kami cuma mau membuat kamu terhibur karena ada banyak teman, kalau disini kamu gak punya teman. Kak Sari dan kak Teguh sibuk dengan kegiatan sekolah mereka, jadi gak ada waktu nemenin kamu. Tante juga udah kolot jadi gak cocok main dengan anak muda seperti kamu.” Jelas Rita.


Nita tidak menyangka bahwa aktingnya masih saja belum mampu membuat Rita mengubah pemikirannya, ia merasa kalau semakin mendesak mereka lagi kemungkinan besar mereka malah benar benar akan membuangnya tanpa uang sedikitpun.


Sial kenapa orangtua ini begitu menyayangi anak urakan seperti kak Sari sih, padahal aku udah bersikap manis dan baik. Sialan, lebih baik kali ini aku mengalah dulu baru nanti aku pikirkan lagi caranya agar bisa kembali ke rumah ini.


”Iya tante, Nita gak masalah. Terimakasih banyak tante.” Nita masih mengeluarkan ekspresi sedih sambil memeluk Rita.


Setelah sarapan Nita mengemasi pakaiannya, ia juga diantar oleh Rita dan Ilyas ke panti asuhan BAROKAH.


Selesai mengantar Nita, pasangan suami istri itu tampak mengobrol di mobil. Ilyas yang melihat raut wajah istrinya yang seperti merasa bersalah langsung merangkulnya dan memulai pembicaraan.


”Papah benar, kita juga bisa sering sering menengok Nita disini dan juga kita bisa juga sesekali meminta Nita menginap kan pah.”


”Tentu saja, nah gitu dong senyum. Mamah itu kalau senyum cantik banget tau.” rayu Ilyas.


”Gombal.”


...----------------...


Sari dan Teguh sampai di rumah setelah seharian belajar di sekolah, Rita yang sedari tadi menunggu anak anaknya di ruang tengah pun menegur Sari yang tampak akan langsung pergi begitu saja melewati mamahnya.


”Ade, sini dulu de. Mamah mau bicara.”


Sari sebenarnya tidak tega mendiamkan mamahnya selama ini, ia juga merasa bersalah tapi ia tidak punya pilihan lain untuk menjaga keluarga ini ia tidak mau mengambil resiko menampung bibit penjahat.

__ADS_1


Tanpa bicara sepatah katapun, Sari menghampiri mamahnya dan duduk di sofa dengan wajah yang datar. Teguh pun ikut duduk di sofa.


”Ade jangan nyuekin mamah dong, mamah gak semangat hidup lagi kalau anak anak mamah marah begini.” ucap Rita dengan wajah sendu, namun Sari tetap tidak bergeming.


”Ade, mamah kasian sampai sedih begitu. Kamu tega banget sama mamah.” omel Teguh.


”Gak papa kak, mungkin ade udah gak sayang lagi sama mamah makanya dia biarin mamah sedih begini.” Rita berpura pura menangis agar Sari merasa iba, namun Sari tetap memasang wajah datar walaupun sebenarnya dalam hatinya juga menjerit sedih dan juga rindu.


Melihat putrinya yang tetap datar membuatnya sadar, bahwa kali ini putrinya ini benar benar serius. Untunglah ia sudah mengirim Nita ke panti asuhan.


”Mama dan papa tadi udah nganterin Nita ke panti asuhan, mulai sekarang dia tidak tinggal dirumah ini lagi.” ucap Rita.


Mendengar apa yang dikatakan mamahnya, Sari langsung melonjak kegirangan, wajahnya langsung ceria dan iapun langsung memeluk mamanya dengan erat. Teguh pun merasa lega, rumah ini sudah kembali ceria.


”Makasih mamah, mamah sama papah memang yang terbaik untuk ade. Ade sangat mencintai kalian.” ucap Sari dengan semangat.


”Tentu aja, ade itu putri mamah dan papah yang paling kami sayangi. Kamu adalah yang utama untuk kami.” ucap mamahnya sambil mengelus rambut putrinya.


Sari merasa terharu mendengarnya, ia langsung memeluk mamahnya lagi dan menangis.


”Maafin ade ya selama ini ade juga tersiksa ngediemin mamah. Tapi ade gak punya pilihan lain.”


”Mamah ngerti, udah ya jangan nangis lagi.”


Teguh yang melihat suana harus diantara mamah dan adiknya langsung mencoba mencairkan suasana.


”Hooh, mamah hanya memeluk ade ya? apa kaka anak pungut?” Teguh bercanda agar mereka tertawa kembali dan menyudahi tangis tangisannya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2