
Dua tahu kemudian...
Sudah sebulan berlalu sejak kelulusan Sari. Ia akan kuliah mengambil S1 jurusan manajemen bisnis di Oxford University lalu langsung melanjutkan S2 untuk gelar MBA. Ia melakukan itu semua agar CH group yang 80% saham adalah miliknya itu bisa terus berkembang, karena bagaimanapun ia akan turun langsung menjadi CEO.
Selama ini, ia menjadikan Arya sebagai wakilnya karena ia merasa belum siap tampil di hadapan publik. Ia ingin Arya fokus ke cita citanya menjadi detective karena sejujurnya ia tidak mau menjadi penghalang cita cita kekasihnya itu. Sejak dulu cita cita Arya adalah menjadi detective, ia menjadi CEO demi membantu Sari yang saat itu belum bisa tampil di publik karena umurnya yang terlalu muda. Ia takut orang mencurigainya dan meremehkan kepemimpinannya. Itulah mengapa saat ini ia akan berkuliah di luar negeri demi memperkuat kedudukannya.
Hingga detik ini, keluarganyapun tidak mengetahui bahwa sebagian besar saham CH group yang saat ini menjadi perusahaan ketiga terbesar di negaranya adalah milik putri bungsunya itu. Yang mengetahuinya hanyalah Arya.
Keluarganya merasa sedih karena Sari bersikeras kuliah di luar negeri, mereka ingin Sari seperti Teguh saja yang berkuliah di kota ini sehingga mereka tidak perlu terpisah jauh.
”De, apa kamu gak berubah pikiran. Kuliah disini saja ya?” Rita sangat sedih dan selalu muram semenjak mendengar keputusan putrinya itu.
”Mah, aku akan menyelesaikan pendidikanku dalam 4 tahun. Mamah jangan sedih ya? aku juga akan sering menelpon mamah, mamah juga bisa mengunjungi aku disana.” ucap Sari sambil mengemas barangnya di koper.
”Apa mamah ikut kamu aja tinggal disana? mamah gak tenang jauh dari kamu, kakakmu aja kuliah disini koq gak jauh jauh.”
”Mamah ini, kakak kuliah disini bukan karena gak mau jauh dari kita tau mah, tapi karena gak mau jauh dari Tania. Padahal mamah tahu itu tapi bisa bisanya menjadilan kak Teguh sebagai contoh.”
Tanpa mereka sadari ternyata Teguh sedang berada di pintu kamar Sari, ia yang mendengar Sari mengucapkan itu langsung menegurnya.
”Hey hey de.. Berani banget ya jelek jelekin kakak di depan mamah.” Teguh masuk ke kamar Sari sambil menggerutu.
”Emang kenyataan. Sekarang itu yang penting buat kakak cuma Tania.” omel Sari sambil tetap membereskan barang barang yang akan ia bawa.
”Gak gitu mah, jangan percaya ade. Pokoknya mamah yang no 1, papah no 2, Tania baru deh no 3.” ucap Teguh sambil merangkul Rita.
”Terus ade kamu nomer berapa?” tanya Rita.
”Dia mah no 100.” ledek Teguh.
”Kalau emang nomer 100 harusnya kakak jangan sering sering ngintilin aku sama Arya dong, masa saat aku mau pergi sama Arya pasti kakak ikut mulu, bahkan ngajak kak Tania pula. Kasian anak orang diajakin buat buntutin orang lain mulu.” omel Sari.
”Heh, kak Tania malah seneng. Kamu gak tau, dia fans kamu no 1.Bahkan dia lebih mentingin kamu daripda kakak, dia juga sama kayak kakak gak setuju kamu pacaran.”
”Pasangan gila, pacaran bukannya pergi kemana kek nikmati momen berdua. Malah terobsesi banget ngikutin aku. Syukurlah di Inggris nanti gak ada kalian.”
__ADS_1
”Kakak dan Tania akan mantau kamu 24 jam. Kami akan nelponi kamu terus, kalau HP kamu gak aktif bakalan nelpon ke apartemen kamu, kalo gak mau angkat juga bakalan kakak suruh orang ngawasin kamu disana.” ucap Teguh sambil tersenyum penuh kemenangan.
”Gila ya? kakak psikopat ya.” Sari kesal mendengar kakaknya itu yang sangat posesif.
”Makanya HP aktif terus dan angkat selalu telpon dari kakak.” ucap Teguh.
”Mamah juga, angkat telpon dari mamah. Kalau engga mamah juga akan suruh orang mengawasi dan membuntuti kamu kemanapaun kamu pergi.” tambah Rita.
”Mah, ayolah kenapa mamah ikut ikutan kakak mah come on.” Sari sejenak menghentikan acara beres beresnya saat mendengar mamahnya ikut ikutan kak Teguh.
”Makanya HPnya aktif terus.”
”Papah juga, angkat telpon papah.” Ilyas tiba tiba masuk ke kamar Sari dan ikut me nimbrung obrolan keluarganya.
”Paaaah..” Sari menjawab sambil memasang wajah pasrah.
Sari merasa kalah telak oleh mereka bertiga, ia tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauan keluarganya.
...----------------...
Sari hanya ingin perpisahan mereka menjadi lebih intim walaupun hanya perpisahan sementara.
”Sar, lo kuliah disini aja kek. Ngapain jauh jauh sih gue jadi gak ada temen dingin yang suka jitakin pala gue kan.” ucap Nabila sambil duduk di samping Sari dan Tania.
”Iya bener, kuliah disini aja Sari. Aku jadi gak bisa ngikutin kamu kalau kamu jauh di luar negeri.” Tania memasang wajah sedih.
”Kalian gila ya? yang satu sedih karena gak bisa dijitak palanya, yang satu sedih karena gak bisa buntutin aku pacaran lagi. Hobi kalian aneh banget sih hahaha.” Sari tertawa karena merasa lucu, bisa bisanya semua orang di sekitarnya aneh semua.
”Kalau gue nelpon harus angkat, kalau enggak bakalan gue susulin lo kesana, gak akan gue biarin lo hidup tenang kalau gue disana.” ucap Nabila.
”Aku juga, telpon ku angkat. Kalau enggak aku akan minta Teguh buat ngirim bodyguard kesana.” tambah Tania.
”Gila kalian ya? hahaha” Sari terus tertawa karena ia sendiri sudah tidak tahu harus menjawab apa, semua orang mengatakan hal ekstrem hari ini.
Mereka menikmati minuman sambil bercanda, keluarganya dan Teguh tampak mengobrol sambil memanggang daging sapi, sedangkan Arya tampak duduk sendiri di pinggir kolam renang. Pesta malam itu memang di buat di pinggir kolam sambil barbequean.
__ADS_1
Arya tampak tidak bersemangat, ia hanya melamun dengan meamasang wajah suram. Sari yang melihatnya dari jauh langsung berpamitan pada temannya dan berniat menghampiri Arya.
”Eh, kalian ngobrol dulu ya? gue mau ke Arya dulu.” ucap Sari yang dijawab dengan anggukan teman temannya.
Sari menghampiri Arya yang duduk sambil melamun, ia duduk disamping Arya sambil menyenderkan kepalanya. Merasakan ada yang menyeder di pundaknya membuat Arya tersadar dari lamunannya dan menengok ke arah Sari.
”Sari.”
”Kamu tahu kan aku sangat mencintai kamu.” ucap Sari. ”Kalau kamu memasang wajah muram begini, aku pasti juga sedih. Apa kamu suku melihat aku sedih?” tambah Sari.
”Aku gak suka melihatmu sedih, tapi aku gak tahu kenapa aku gak bisa merasa baik baik aja karena kita akan berpisah.” jawab Arya.
Kepala Sari menengadah kemudian meletakkan jari telunjuknya di bibir Arya agar Arya tidak mengucapkan kalimat yang baru saja ia ucapkan.
”Jangan bicara begitu, kita bukan berpisah selamanya tapi hanya sementara. Kamu juga bisa menengok ku disana, lalu aku melakukan ini untuk memperkuat posisiku. Aku harus bersiap untuk menghadapi musuhku, walau beberapa tahun ini mereka tampak diam, tapi aku yakin mereka sedang menyusun rencana.”
Arya paham yang dimaksud Sari lalu memegang telunjuk Sari yang berada di bibirnya kemudian memegang kedua tangan Sari dan meletakkan di pangkuannya.
”Aku mengerti, aku juga gak berniat menghalangimu. Aku akan selalu mendukungmu.” ucap Arya.
Mendengar hal itu Sari menjadi sedikit lega, sebenernya ia juga berat berpisah dengan Arya. Tapi ini semua ia lakukan demi melindungi semuanya. Untuk menghibur Arya yang sedih, Sari langsung mencium pipi Arya. Arya terkejut namun ia juga senang. Ia melihat kanan kiri karena takut ada yang melihat.
”Kamu nih ya? nanti kalau ada yg liat gimana?” ucap Arya sambil tersenyum.
”Gak ada yang liat, makanya aku cium. Kalau mereka melihat pasti mereka langsung kesini dan memelototi kamu. hahahaha.” Sari tertawa karena membayangkan reaksi mereka semua jika melihat adegan tadi.
Seperti kata pepatah Harimau akan muncul jika dibicarakan. Begitu pula dengan hari ini, saat Sari sedang sibuk tertawa ternyata keluarga dan temannya sudah berada di belakang mereka, Arya yang tiba tiba merasa merinding langsung menengok ke belakang dan benar saja mereka semua sudah memelototi nya dan siap menerkam nya.
Sari yang melihat mereka sudah memasang wajah yang siap menerkam langsung panik, Sari langsung menyuruh Arya bersembunyi di belakangnya.
”Kalian tenang ya? aku bisa jelasin.” ucap Sari.
Namun ucapan Sari tidak digubria sama sekali oleh mereka yang sangat kesal dan menyalahkan Arya, mereka langsung mengejar ngejar Arya untuk memberinya pelajaran karena sudah di cium oleh Sari. Sedangkan Sari hanya bisa pasrah, ia berharap Arya akan baik baik saja.
...****************...
__ADS_1