
”Apa maksudnya mendiang Nathali?”
Teguh masuk ke ruang adiknya itu sambil memastikan apakah pendengarannya itu tidak salah.
Tentu saja Sari dan Arya sangat terkejut melihat kedatangan Teguh itu, apalagi dia mendengar pembicaraan mereka berdua. Isi kepala mereka berdua tiba tiba blank dan mulut mereka seakan terkunci tak bisa berkata kata lagi.
”Jelaskan.” Bentak Teguh.
Teguh memang sengaja datang ke kantor adiknya itu karena ingin menjemput adiknya itu untuk makan bersama, biar bagaimanapun Teguh merasa bersalah pada adiknya karena belakangan ini tidak terlalu memperhatikan adiknya. Terlebih sebentar lagi dia berniat ke Inggris entah untuk berapa lama, akan makin sulit waktu untuk bertemu adiknya itu, maka dari itu dia sengaja menjemput adiknya untuk makan siang bersama.
Namun, hal yang tak terduga justru dia dengar dari mulut adiknya itu. Sejujurnya dia ragu dengan pendengarannya maka dari itu dia masuk tanpa mengetuk pintu dan bertanya mengenai yang baru saja dia dengar.
”Ka- kaka apa maksud kaka?”
Sari mencoba mengelak namun kalimat yang keluar dari mulutnya terdengar panik dan terbata bata sehingga memunculkan dugaan yang semakin kuat bagi Teguh bahwa adiknya ini menyembunyikan sesuatu.
Arya menghampiri Teguh lalu memegang kedua pundaknya dan mengajaknya duduk dulu di sofa, namun Teguh yang merasa dibohongi itu menepis tangan Arya dan menghampiri adiknya yang masih duduk dengan wajah cemas.
Teguh duduk disamping adiknya lalu memegang dagu adiknya agar adiknya berhenti menunduk.
”Tolong jelaskan apa maksud ucapan kalian tadi? kenapa kamu menyebut Nathali dengan mendiang.”
Kali ini Teguh bertanya dengan surat lirih nyaris terasa seperti suara memohon, bukan jawaban yang dia dapatkan tapi malah tangisan adiknya itu sambil memeluknya.
Tentu saja pikiran Teguh semakin tidak karuan, dia tahu jawaban apa hanya dengan melihat ekspresi adiknya ituitu, namun hatinya menolak menerima sehingga dia hanya bisa menggoncangkan tubuh adiknya sambil terus bertanya kenapa malah menangis.
Arya menghela napas panjang lalu melangkah mendekati Teguh yang dipeluk oleh adiknya itu, Arya merasa mungkin sudah saatnya Teguh tahu.
Sari mungkin tidak akan bisa mengatakan langsung dari mulutnya karena sudah berjanji pada mendiang Nathali namun berbeda dengan dirinya, dia tidak pernah berjanji seperti itu pada mendiang Nathali.
Arya menepuk pundak Teguh yang terus bertanya ada apa pada adiknya itu, lalu Arya menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
”Nathali sudah meninggal lima tahun yang lalu.”
Mendengar yang diucapkan Arya membuat Teguh marah, meski dia tahu mungkin itu jawaban dari pertanyaannya barusan namun hatinya menolak menerima kenyataan itu.
__ADS_1
Teguh melepaskan pelukan adiknya dan dengan emosi memukul wajah Arya dengan keras, Arya bahkan sampai terpental ke lantai karena tidak tahu bahwa Teguh akan memukulnya.
Arya tergeletak duduk di lantai sambil menunduk dan memegang pinggir bibir bagian bawahnya yang berdarah karena sobek, sedangkan Teguh yang emosi langsung menghampiri Arya dan mencengkram kerah kemejanya, Arya tidak melawan sama sekali.
”Jaga ucapanmu ya? berani sekali kau mengatakan itu.”
Suara Teguh itu memang terdengar lantang dan penuh amarah namun Arya paham sebenarnya Teguh terlalu sedih dan menolak menerima kenyataan, itulah sebabnya Arya hanya menerima pukulan Teguh begitu saja tanpa membalas kata katanya.
Tentu saja Sari sangat panik dan mencoba melerai keduanya, Sari menarik tangan kakaknya yang nyaris dia layangkan kembali ke wajah kekasihnya itu.
Sontak hal itu membuat Teguh menghentikan tindakannya dan melepaskan cengkraman tangannya di kerah Arya.
”Kakak sudah gila ya?” omel Sari lalu dia mengarah ke Arya dan memegang wajah Arya yang terlihat berdarah dibagian bibirnya.
”Kamu berdarah.”Sari tampak khawatir sambil mengelap darah di bibir Arya dengan ujung jarinya.
”Aku tidak apa apa.” ucap Arya.
Sari berdiri sambil membantu Arya berdiri lalu Sari mendekati kakaknya yang tampak membalikkan badan dengan nafas terengah engaah karena menahan emosi.
Sari menarik tangan kanan kakaknya lalu meletakkanya di pipinya.
Tentu saja Teguh tidak akan melakukan itu, dia sendiri tidak tahu kenapa marah seperti itu, dadanya terasa sesak dan perasaannya tidak senang. Dia hanya menepis tangannya dari pipi adiknya itu lalu meluapkan emosinya dengan menyapu bersih dokumen dan laptop dan barang barang kecil yang tergeletak diatas meja.
Sari menutup kedua telinganya karena terkejut dengan suara teriakan kakaknya itu, Teguh berteriak sambil menangis lalu berlutut di lantai.
Sari tidak tahan melihat kakaknya hancur seperti itu, dia mendekati kakaknya lalu memeluknya.
”Maafin aku kak, aku hanya ingin menjalankan permintaan terakhir Nathali. Dia ingin kakak melanjutkan hidup dan bahagia sehingga dia memaksaku berjanji untuk tidak memberi tahu kakak.”
Sari mengucapkan hal itu bahkan dengan suara serak dan terbata bata, dia tidak hentinya ikut menangis dengan kakaknya itu.
Kakaknya hanya terus menangis dengan posisi itu tanpa membalas pelukan adiknya itu, Sari tahu kakaknya ini pasti merasa hancur.
Setelah itu Teguh melepaskan pelukan adiknya lalu mencengkram kedua bahu adiknya dan bertanya dimana Nathali dimakamkan.
__ADS_1
Cengkraman itu terasa kuat karena Teguh sedang tidak bisa mengontrol dirinya sendiri, saat ini Teguh sedang merasakan sedih yang teramat dalam hingga tidak peka bahwa adiknya itu merasa sakit karena cengkraman nya.
Melihat Sari meringis membuat Arya mendekat dan mencoba melepaskan cengkraman Teguh itu, beruntung Teguh langsung melepaskan begitu sadar bahwa adiknya merasa sakit.
”Dimana, dimana Nathali sekarang.” tanya Teguh.
Ekspresi Teguh saat ini terlihat seperti orang yang sudah kehilangan akal, namun jika tidak memberitahukan makan Nathali sudah pasti kakaknya ini akan mengamuk.
”Kami akan mengantar kakak kesana.” ucap Sari.
”Tidakk.. Aku akan pergi sendiri.” Bentak Teguh.
”Tapi tempatnya cukup jauh kak, kita perlu supir.”
Teguh melotot dan kembali memaksa bahwa dirinya akan pergi sendiri, dia ingin bertemu berdua saja dengan Nathali, dia tidak ingin ada seorangpun yang mengganggunya.
Dengan terpaksa Sari memberitahu tempat Nathali di makamkan, Teguh bergegas pergi dan Sari berniat mengikuti kakaknya itu karena cemas, namun Arya menghentikannya dan memegang tangannya.
”Biarkan dia kesana sendiri, dia perlu waktu sendiri agar bisa menerima kenyataan ini.” ucap Arya sambil merangkul Sari.
”Ta- tapi kamu tahu kan kakakku kondisinya seperti itu, aku gak mau membiarkan dia sendirian.” jawab Sari dengan ekspresi khawatir.
Arya memeluk Sari yang masih meneteskan airmata, dia juga mengelus rambut Sari namun Sari berusaha memberontak karena bersikeras menyusul kakaknya.
Tentu saja pemberontakan Sari itu sia sia karena Arya memeluknya dengan sangat erat.
”Lepaskan aku, aku harus menyusul kakaku. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya.”
Arya melepaskan pelukannya lalu memegang kedua pipi Sari sambil menatap kedua matanya.
”Aku sudah menyuruh anak buahku mengikuti Teguh. Dia akan baik baik saja, kita akan mendapatkan kabar dari anak buahku setiap saat, kamu percaya padaku kan? aku tidak akan membuat janji yang tidak bisa ku tepati, kau tahu itu kan?” ucap Arya dengan lembut.
Sari menganggukan kepalanya, meski masih terlihat raut wajah khawatirnya namun dia sangat mempercayai kekasihnya itu, sehingga saat ini dia boleh sedikit tenang.
”Sini duduk, biar aku obatin kamu.”
__ADS_1
Sari menarik tangan Arya dan memintanya duduk, dia mengambil kotak p3k dan membersihkan darah di bibir kekasihnya itu.
...****************...