
Nathali kembali dengan rekaman CCTV yang diperolehnya. Disana memang terlihat Bi Inah bertemu dengan pria bertopeng di dekat pembuangan sampah.
Semua pertemuan yang terekam CCTV memang memperlihatkan pria itu selalu memakai topeng.
Melihat hal itu Sari berpikir satu satunya secara adalah menjadikan Bi Inah sebagai pancingan agar mengetahui identitas pria itu.
”Bagaimana caramu berkomunikasi dengan pria ini?” tanya Sari pada Bi Inah.
Bi Inah memberi tahu bahwa dirinya menyimpan ponsel sekali pakai di dalam kotak yang tampak seperti buku yang tebal. Buku itu dari luar tertulis Kamus Inggris-Indonesia.
Ponsel sekali pakai adalah ponsel yang ditujukan untuk penggunaan sementara, ponsel itu harganya murah dengan layanan prabayar sehingga pengguna tidak perlu untuk mempertahankan kontrak. Ponsel itu juga memiliki sejumlah kegunaan yang sepenuhnya sah. Banyak penyedia telepon seluler menawarkan layanan prabayar, dan dimungkinkan juga melalui operator yang menawarkan layanan tersebut secara eksklusif. Ponsel sekali pakai mungkin merupakan caral yang sangat sederhana dengan fitur yang dipreteli. Sebelum pemilik dapat menggunakan telepon, dia harus membayar sejumlah layanan dan mendapatkan penetapan nomor telepon. Dia dapat menyimpan nomornya dengan membayar lebih banyak layanan, atau membiarkannya kedaluwarsa ketika dia tidak lagi membutuhkannya. Dimungkinkan juga untuk mentransfer kartu memori antar telepon, memungkinkan pengguna untuk mengganti telepon seluler sekali pakai sesuai kebutuhan.
Itulah mengapa ponsel sekali pakai itu digunakan oleh mereka agar tidak terlacak.
Kotak itu terletak diantara buku buku yang ada di kamar Bi Inah, sehingga terlihat seperti sekumpulan buku biasa.
Sari meminta Nathali mengecek kamar Bi Inah dan mengambil buku yang dimaksudkan tadi.
Tak berapa lama Nathali sudah kembali dengan membawa buku itu.
”Ini bukunya Nona, didalamnya memang benar ada ponsel sekali pakai.”
Sari mengambil ponsel itu kemudian memberikannya pada Bi Inah.
”Telepon orang itu, dan bilang kau ingin bertemu. Jika dia bertanya kenapa selama ini tidak bisa dihubungi. Bilang saja bahwa di kediaman Jayadiningrat sedang ada pemeriksaan kepada para pegawai, agar tidak dicurigai makan kau tidak menghubunginya dulu untuk sementara waktu.”
”Kalau dia bertanya untuk apa bertemu bagaimana?” tanya Bi Inah.
”Bilang kau ingin memberikan laporan tentang Ilyas dan Rita Jayadiningrat yang tidak di beritakan di media, lalu bilang juga kau membutuhkan paspor karena berniat kabur ke luar negeri sebelum di curigai.”
Bi Inah mengangguk dan mengikuti instruksi Sari. Bi inah memang berniat menebus dosanya dengan membantu Sari sebelum dirinya memutuskan mengakhiri hidupnya.
Bi Inah menelpon orang itu meski harus beberapa kali menghubunginya karena nomor yang dipakai terus berganti, setelah beberapa kali percobaan barulah bisa tersambung.
Dia mengatakan apa yang diperintahkan Sari, untunglah pria itu tampak tidak curiga dan menyetujui pertemuan mereka.
Mereka berjanji bertemu besok malam di belakang kediaman Jayadiningrat tepatnya dekat pembuangan sampah.
Setelah itu, Sari meminta Nathali mengantar Bi Inah ke kamarnya dan memanggil dokter. Bi Inah tidak boleh terlihat lemas saat besok bertemu pria itu agar pria itu tidak curiga bahwa bi inah telah tertangkap dan disiksa oleh mereka. Atau rencana mereka untuk menangkap pria itu bisa bisa gagal.
__ADS_1
Awalnya Bi Inah menolak untuk dipanggil kan dokter, karena dia merasa tidak pantas mendapat kebaikan seperti itu. Bagaimana mungkin dia bisa hidup sehat setelah membuat majikannya itu menderita penyakit mematikan.
Namun karena Sari memaksa dan mengatakan bahwa dirinya memanggil dokter bukan demi kesehatannya namun hanya agar besok pria itu tidak mencurigai Bi Inah.
Setelah Nathali membawa Bi Inah pergi, Sari tampak menjatuhkan tubuhnya di sofa karena pikirannya begitu lelah.
Arya mendekati Sari dan memijat kepalanya, dia sangat paham bahwa yang dihadapi Sari saat ini begitu berat.
Ketika Arya sedang memijat kepala Sari, tiba tiba Sari memegang tangan Arya lalu menyenderkan kepalanya di pundak Arya.
”Biarkan aku begini sebentar.” ucap Sari.
Arya tidak mengatakan apapun dan dirinya hanya mengisap lembut kepala Sari yang bersandar kepadanya.
...----------------...
Ferdy mengetuk pintu ruangan Zayn dan masuk kedalamnya, Zayn sedang asyik meminum wine sambil duduk di sofa lembutnya.
”Pak, Inah barusan menghubungi saya.” ucap Ferdy.
”Lalu”
”Dia minta dibuatkan paspor karena berniat ke luar negeri dan besok malam meminta bertemu katanya ada yang ingin dia laporkan mengenai Ilyas dan Rita yang tidak dikabarkan di media.”
”Kau tahu kan harus apa?”
Ferdy mengangguk dan pamit undur diri dari hadapan Zayn.
Ferdy memulai melaksanakan rencana yang di dusun Zayn. Dia pergi menemui Nita ke apartemennya.
Nita menyambut kedatangan Ferdy, di apartemen itu juga ada Doni yang sejak semalam sudah berada di apartemen itu.
Ferdy tidak terkejut sama sekali ada Doni disitu karena dirinya memang sudah menyelidiki semua tentang Nita termasuk dirinya yang memiliki hubungan dengan Doni putra dari Sandi.
Nita dan Doni duduk di hadapan Ferdy yang tampak memasang wajah datar sambil mengeluarkan pakaian serba hitam dan topeng penutup wajah yang hanya terlihat matanya saja.
”Apa ini pak.” tanya Nita.
”Pakailah itu untuk menemui Bi Inah besok.” ucap Ferdy.
__ADS_1
”Maksud anda pembantu di kediaman Jayadiningrat?”
Ferdy mengangguk sambil memberikan amplop cokelat yang lumayan tebal karena berisi paspor dan uang tunai serta ponsel sekali pakai yang dia gunakan untuk berhubungan dengan Bi Inah.
”Berikan ini pada Bi Inah, jangan bicara satu patah katapun.” ucap Ferdy.
”Tapi ini apa?”
”Kau tidak perlu tahu, lakukan saja tugas ini. Jika kau gagal, maka kau akan tahu sendiri akibatnya.” ancam Ferdy kemudian dirinya pergi begitu saja dari apartemen.
Setelah kepergian Ferdy, Doni menjadi khawatir. Menurutnya sebaiknya Nita tidak melakukan hal itu dan lebih baik mundur saja, dan mencari jalan lain untuk balas dendam.
”Sepertinya ini berbahaya, lebih baik kau mundur saja. Kita cari cara lain untuk balas dendam. Berhubungan dengan pak Zayn itu tidak mudah.” ucap Doni mengingatkan Nita.
”Tidak ada cara lain, bertahun tahun aku mengandalkanmu tapi mana hasilnya? bahkan kau saja tidak bisa sejengkal pun mendekati Sari.”
”Pasti ada caranya, Zayn itu lebih berbahaya dari apa yang kau kira. Setidaknya bermasalah dengan Sari lebih baik daripada dengan Zayn. Dia sadis.”
”Tidak, aku akan lakukan apapun asal Sari menderita.”
Nita begitu keras kepala karena dendamnya pada Sari, dia bahkan bertekad melakukan apapun asal Sari menderita. Dan satu satunya hal yang terpikirkan olehnya adalah membuat Zayn ada di pihaknya dan membantunya menghancurkan Sari.
”Kau sudah gila Nit, jika terjadi apa apa denganmu bagaimana?”
”Kalau gitu, jadilah orang yang berguna untukku.” teriak Nita.
”Apa maksudmu? apa selama ini aku tidak berguna untukmu?”
Doni begitu kesalendengar ucapan Nita itu, bagaimana bisa Nita mengatakan hal seperti itu setelah dirinya melakukan apapun untuk Nita?
”Sudahlah jangan dibahas, lebih baik besok malam kau ikut bersamaku. Awasi aku dari jauh.”
Nita mencoba menenangkan Doni yang tampak kesal karena ucapannya yang kelepasan tadi.
Nita naik ke pangkuan Doni dan mengalungkan kedua tangannya di leher Doni yang sedang duduk.
Dia langsung saja mencium bibir Doni dengan lembut, sambil membisikan kalimat yang manis.
”Kita pindah ke ranjang yuk beb.” bisik Nita di telinga Doni.
__ADS_1
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Doni langsung saja mengangkat tubuh Nita dengan kedua tangannya dan membawanya ke ranjang.
...****************...