
Seorang anak laki laki berusia 3 tahun tampak berlari keluar dari kelas, ia memang sudah masuk sekolah PAUD.
”Mami liat atu bica buat pecawat keltas.” ucap anak itu sambil menunjukan pesawat kertas yang ia buat.
”Ya ampun, putra mamah ini pintar sekali. Hebaat.” jawab maminya sambil bertepuk tangan.
Bocah itu tampak bangga dengan pujian yang diberikan maminya.
”Ayo kita pulang, kan hari ini ulang tahun papi. Kita akan beri kejutan buat papi.”
”Iya atu tuta kecutan. Ayo tepac tita puyang.”
”Iya sayang ayo.”
Mereka pulang kerumah dan menghias rumah dengan begitu cantiknya tentunya dibantu oleh para pelayan dan juga pengasuh bocah itu.
”Wah tantik banget ya cus.” ucap bocah itu pada pengasuhnya yang dipanggil suster.
”Iya yah, cantik kaya Steven.” jawab susternya.
”Atu bucan tantik cus, atu campan cepelti papi.” sanggah bocah itu.
”Iya iya tampan, anak siapa dulu dong.” timpal maminya sambil mencium pipi bocah itu.
Setelah semua persiapan selesai tak lama kemudian papinya datang.
”Surprise”
Istri, anak dan semua pelayannya memberikan kejutan setlah ia membuka pintu.
”Selamat ulang tahun papi. Semoga selalu bahagia dan menjadi suami dan ayah yang baik untuk kita ya?” ucap mami sambil mencium pipi suaminya.
”Makasih sayang.” balas papi sambil mencium kening papinya.
”Telamat uyang cayun papi. Ini adiyah uncuk papi, atu buat tendiri loh pi.” ucap bocah itu sambil memberikan pesawat kertas yang tadi ia buat.
”Ya ampun, jagoannya papi hebat banget bisa bikin pesawat. Makasih ya nak.” ucap papinya sambil menggendong putranya.
Pasangan Daniel Prayoga dan Isyana Prayoga memang sangat harmonis, mereka juga mempunyai putra yang bernama Steven Prayoga.
Namun kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama, 2 tahun kemudian Isyana di vonis mengidao kanker otak stadium akhir.
Semenjak itu tak ada senyum bahagia lagi dirumah itu, Steven yang terlalu kecil untuk memahami penyakit serius yang diderita maminya, hanya terus menemani maminya di kamar. Menurutnya jika maminya banyak makan, istirahat dan minum obat pasti maminya sembuh dan bisa bermain lagi dengannya seperti dulu.
Namun hingga berbulan bulan berlalu pun maminya hanya bisa berasa diatas ranjang. Steven sangat kesepian, karena papinya juga sudah tidak pernah lagi datang ke kamar itu.
__ADS_1
”Mami, kapan mami sembuh? Aku janji ga akan nakal lagi. Jadi mami jangan sakit terus ya? maafin Steven.” ucapnya sambil memeluk maminya.
”Anak mami ini pinter kan? Jangan nangis ya? mami mau pergi ke tempat yang jauh dan indah. Jadi anak mami yang pinter ini harus janji jangan sedih ya?” ucap mami sambil terbata bata.
”Aku ikut.”
”Mami harus pergi sendiri dulu ya sayang, nanti mami menunggu kamu dan papi di sana. Jadi anak mami yang pinter ini harus nurut sama papi dan jadi anak yang baik ya? dengan begitu kita bisa bertemu lagi.”
”Kenapa mami pergi sendiri, kenapa gak bisa ngajak aku?” ucap bocah itu.
”Anak mami yang baik, kendaraan yang menuju ke sana cuma ada satu, jadi mami dulu yang kesana ya? kalau anak mami ini jadi anak pinter dan baik nanti akan ada kendaraan yang sama yang akan membawa anak mami ini.”
”Tapi aku ingin ikut mami.”
Bocah itu terus menangis merengek ingin ikut bersama maminya lalu maminya menyuruhnya untuk kembali ke kamarnya.
”Anak mami yang tampan gak boleh nangis dong, sekarang anak mami pergi ke kamar ya? kerjakan PR lalu siap siap tidur, minta tolong cus Heni menemani ya? sekarang pasti cus Heni lagi di dapur. Anak mami ini anak baik dan pinter kan? bisa kan mencari cus Heni?”
Bocah itu hanya mengangguk dan pergi meninggalkan kamar maminya, ia terus berjalan melewati ruangan yang mungkin ada keberadaan cus Heni.
Hampir seluruh ruangan ia telusuri, ia juga bertanya pada pelayan yang lain namun ia tak kunjung menemukan pengasuhnya itu.
Akhirnya ia memutuskan untuk tidur sendiri dan pergi ke kamarnya, ditengah jalan ia mendengar suara jeritan pengasuhnya. Suara itu berasal dari kamar papinya. Dia khawatir pengasuhnya itu sakit juga seperti maminya, maka ia mengintip di balik lubang kunci yang tidak begitu tinggi.
Betapa terkejutnya ia melihat cus Heni yang tampak berada diatas papinya yang tidak berpakaian.
”Sayang, makasih ya sudah merawat keluargaku. Tidak hanya merawat putraku dan istriku yang sakit, tapi kamu bahkan bisa merawat dan melakukan tugas yang sekarang tidak bisa dilakukan istriku.” ucap papi kepada cus Heni.
”Gak masalah sayang, aku mencintai keluarga ini jadi aku akan lakukan apapun untuk kebahagiaan keluarga ini.” jawab cus Heni sambil mencium majikannya.
”Kamu memang wanita yang sempurna, setelah istriku meninggal aku akan menjadikanmu istriku dan ibu dari putraku.”
”Makasih sayang.”
Steven yang mendengar pembicaraan mereka di balik pintu langsung marah dan menangis. Ia berlari ke kamar maminya, ia melihat maminya sedang tertidur akhirnya ikut berbaring di samping maminya.
Walau dia belum tahu apa yang dilakukan papi dan pengasuhnya, tapi yang jelas ia tahu adalah papinya sudah mengkhianati maminya.
Semenjak hari itu Steven hanya berada di kamar maminya, bahkan wajahnya berubah menjadi datar dan tidak ada keceriaan lagi di wajahnya.
Tak lama kemudian, maminya meninggal dunia. Bahkan saat maminya meninggal pun Steven tidak mengeluarkan ekspresi apapun.
Sebulan setelah kematian maminya, papinya menikah dengan pengasuhnya itu. Steven tetap sama menjadi bocah tanpa ekspresi.
6 bulan kemudian lahirnya seorang anak laki laki yang diberi nama Leon. Setelah kehadiran Leon, Steven justru malah semakin pendiam.
__ADS_1
”Steven, sekarang kamu udah jadi kakak. Liat ini adik kamu namanya Leon.” ucap cus Heni, ibu tiri Steven.
Steven tidak menjawab apapun dan pergi meninggalkan ruang bersalin.
”Steven, kamu gak boleh gitu ya sama mami kamu. Dia mami kamu dan ini adik kamu.” teriak Papi Daniel.
”Sayang, udah biarin dulu. Dia masih terpukul atas kepergiannya ibunya. Kita ga boleh bentak bentak dia, sabar ya? Aku pasti akan membuat Steven seperti dulu lagi. Dia sudah seperti anakku sendiri, karena aku mengasuhnya sejak bayi.” ucap Heni.
”Makasih ya sayang, kamu gak hanya memberiku kebahagiaan tetapi juga mau merawat putraku.”
Mereka saling berpelukan sambil bermain dengan Leon yang masih bayi.
...----------------...
Steven menginjak usia 16 tahun sedangkan Leon 10 tahun. Leon terus mengikuti Steven kakaknya dan selalu mengajak bicara dan bermain, namun Steven tidak pernah menanggapi.
”Kakak, ayo main denganku.”
”Aku sibuk, kamu pergilah main diluar.” ketus Steven yang sedang belajar di kamarnya.
”Kakak nyebelin, gak pernah mau main sama aku.”
Leon pergi dari kamar Steven, sebenernya Steven tidak membenci adiknya karena bagaimanapun dia tidak bersalah. Tapi setiap melihat Leon, ia jadi teringat perselingkuhan papi dan pengasuhnya itu.
Hingga saat ini Steven masih pendiam dan dingin. Ia tidak peduli dengan sekitar dan tidak pernah menyapa siapapun lagi.
Steven tumbuh dengan pintar, ia bahkan lulus S1 dan menjadi sarjana hukum hanya dalam waktu 4tahun.
Setelah lulus, ia pergi meninggalkan rumah keluarga Prayoga dan mengubah identitasnya menjadi Arya Wijayakusuma.
Semenjak ia meninggalkan rumah, adiknya Leon terus mencari kakaknya namun ia tidak pernah menemukannya.
Sudah 2 tahun semenjak Arya meninggalkan keluarga Prayoga. Dia tidak ingin bertemu papinya lagi dan ia juga tak sudi memakai nama Prayoga, itulah kenapa ia menghilang begitu saja tanpa meninggalkan pesan.
Hingga akhirnya Leon yang sedang membuntuti wanita idamannya malah tidak sengaja melihat kakaknya yang selama ini ia cari.
...-----------------...
Terimakasih sudah membaca sampai bab ini.
Semoga kalian suka.
Karena masih banyak kekurangan, jadi saya mengharapkan kritik dan saran dari kalian.
Saya juga mohon dukungannya dengan memberikan like, coment, dan vote untuk karya saya ya?
__ADS_1
Sekali lagi Terimakasih sudah menjadi penyemangat saya. ❤️❤️
...****************...