Pembalasan Cinta Sari

Pembalasan Cinta Sari
T. T


__ADS_3

Dooorrrrr


Suara tembakan itu membuat Sari dan Arya refleks membalikkan badannya, dan berapa terkejutnya mereka ternyata Doni yang menembakkan pistol itu, dan sialnya tembakan itu tepat mengenai perut bagian kiri Nathali. Seketika itu juga tubuh Nathali tersungkur jatuh ke lantai.


Sari sangat panik dan memegang perut Nathali yang banyak mengeluarkan dari sembari menaikan kepala Nathali ke pahanya. Sementara Arya refleks memasang badan karena Doni kembali mengarahkan pistolnya itu, beruntung pelurunya sudah tidak tersisa sehingga Arya berlari ke arah mengejar Doni yang refleks lari setelah sadar pelurunya habis.


Arya mengejarnya sampai pintu belakang gedung itu karena teringat ada yang lebih penting daripada mengejar Doni.


Dia menelpon ambulans untuk datang ke lokasi dimana mereka berada dan menyuruh anak buahnya mengejar Doni. Beberapa dari anak buahnya yang sudah keluar gedung memang langsung datang begitu mendengar suara tembakan. Lalu ikut mengejar di belakang setelah Sari mengatakan arah Doni kabur.


”Syukurlah, noo-na tidak terluka.”


Nathali bertanya dengan suara terbata bata karena dia menahan rasa sakit, meski nyawanya dalam bahaya namun yang dia khawatirkan justru majikannya itu.


Sari sama sekali tidak bisa mengatakan sepatah katapun selain tangisan, dia sangat takut sesuatu terjadi pada Nathali.


Tidak lama kemudian Arya datang, dia mengatakan bahwa ambulans akan segera datang dan meminta Nathali bertahan sebentar lagi, namun Nathali justru tersenyum.


”No-naa terimakasih sudah mengajarkan saya arti keluarga, saya bersyukur bertemu dengan nona. Saya minta maaf karena sudah membahayakan nyawa anda.”


Nathali diam sejenak karena merasakan sakit yang luar biasa kemudian melanjutkan ucapannya lagi setelah merasa sanggup bicara. Dia benar benar ingin menceritakan sebuah kenangan indah masa kecilnya ditengah tuntutan hidup.


”Sejak kecil saya sudah terjun ke medan perang, meski awalnya saya hanya sekedar budak yang membawa perbekalan mereka namun lambat laun saya ikut terjun ke medan perang. Saya tidak pernah merasa takut mendengar suara tembakan meski nyawa saya bisa melayang kapan saja namun saya merasa biasa saja, mungkin karena saya lebih takut mati kelaparan. Hari hari saya selalu saja penuh darah, saya hidup namun tidak merasa hidup. Meski begitu saya ingin terus hidup entah apa alasannya. Saat usia saya dua belas tahun, saya ikut ke medan perang untuk pertama kalinya sebagai prajurit bayaran. Disaat itu pula pertama kalinya saya membunuh orang lain, sejujurnya sejak pertama kali membunuh hingga sekarang tangan saya selalu gemetaran sampai suatu ketika saya yang berperang di area perbukitan melihat pemandangan laut yang indah dari atas. Disitu tiba tiba saja saya merasa damai, tangan saya pun tidak gemetaran. Itu adalah pemandangan indah satu satunya yang saya lihat di tengah tengah warna merah darah dan bau amis. Saya ingin sekali kembali ketempat seperti itu, hanya saja saya tidak pernah bisa melakukannya.”


Nathali meringis kesakitan ketika banyak bercerita, meski suaranya pelan namun Sari masih mendengarnya dengan jelas.


”Diamlah, jangan banyak bicara.” Jawaban Sari terdengar tidak jelas karena diiringi suara tangis.

__ADS_1


”No-naa, kalau anda tidak keberatan saya ingin beristirahat diatas bukit dengan pemandangan laut.”


”Tentu, kita semua akan pergi berlibur ketempat seperti itu.”


Nathali justru kembali tersenyum getir sembari nafasnya yang mulai terengah engah. Dia merasa waktunya kini telah tiba. Meski dia harus berakhir disini, namun dia tidak menyesal sama sekali. Dia sangat bersyukur karena dia bisa menepati janjinya untuk melindungi Sari dengan nyawanya sendiri.


”Nonaaa, tolong berjanji pada saya bahwa anda akan selalu hidup bahagia dan jangan berlarut larut dalam kesedihan.”


Pertanyaan Nathali yang sudah terdengar samar dan kesulitan itu dijawab dengan anggukan kepala oleh Sari. Sari tidak henti hentinya mengeluarkan air matanya.


”Tu- an Arya, tolong lindungi nona.”


Arya menganggukan kepalanya kemudian Nathali tersenyum dan kembali menatap wajah Sari.


”Satu lagi nona, jangan pernah beri tahu kakak anda tentang kematian saya.”


”To- long berjanji- lah no- naa.”


Nathali sudah tampak kehabisan energinya, suaranyapun sudah sangat pelan hingga membuat Sari terpaksa menganggukan kepalanya.


Akhirnya Nathali tersenyum tipis untuk terakhir kalinya setelah melihat Sari menganggukan kepalanya itu.


Hembusan napas terakhir Nathali itu diikuti suara tangis Sari, dia mendekap kepala Sari kedalam pelukannya.


Tidak lama kemudian ambulans dan polisi datang, jenazah Nathali di bawa ke RS untuk autopsi.


Arya memeluk Sari yang nyaris pingsan karena terus menangis. Mereka kemudian mengikuti ambulans menuju RS.

__ADS_1


...----------------...


Arya sudah menyiapkan tempat peristirahatan terakhir untuk mendiang Nathali di bukit dengan pemandangan laut, memang lokasi itu lumayan jauh dari kota namun mereka ingin memberikan tempat peristirahatan yang tenang dan damai seperti keinginan mendiang Nathali.


Pemakaman itu hanya di hadiri oleh Sari, Arya dan para bawahan mendiang Nathali yang masih bekerja untuk Sari, karena memang mendiang yang meminta hal itu.


Sari susah payah menahan air matanya namun ketika seluruh proses pemakaman selesai dan saatnya menabur bunga, air matanya seketika tumpah. Dia tidak sanggup lagi menahan air matanya itu, tentu Arya menepuk pelan pundak Sari agar dia merasa sedikit tenang.


Begitupun dengan anak buah Nathali, mereka semua tidak kuasa menahan air mata mereka. Suasana pemakaman itu sungguh penuh haru.


”Bos, kenapa bos pergi dulu sebelum saya. Padahal saya belum membalas budi pada bos.”


Salah satu anak buah Nathali yang paling dekat diantara yang lainnya terus menangis padahal seumur hidupnya dirinya tidak pernah sekalipun menangis begitupun ketika dirinya kesakitan karena luka tembak maupun ketika dirinya kehilangan keluarganya. Ini adalah kali pertama bagi dirinya menangis, karena dirinya sudah menganggap Nathali seperti dewa. Tidak hanya menyelamatkan nyawanya, namun Nathali juga mengajari dirinya arti kehidupan yang sebenarnya.


Dia sangat ingat apa yang dikatakan Nathali dulu saat dirinya hampir menyerah untuk hidup.


Hiduplah seolah-olah setiap hari adalah hari terakhirmu. Maka kamu akan menghargai setiap waktu yang tersisa dalam hidup.


Semenjak itulah ketika dia merasa ingin menyerah pastilah dia teringat kata kata Nathali itu, dia tidak akan menyia nyiakan hidup yang diberikan oleh Nathali.


”Nat, sekarang beristirahatlah dengan tenang. Tinggalah ditempat yang indah. Aku akan sering mengunjungimu.” Lirihan suara Sari terdengar sembari dirinya memeluk erat nisan Nathali.


”Aku yakin, Nathali pasti berada ditempat yang indah saat ini. Ayo kita pulang, sepertinya sudah mau hujan.” ucap Arya setelah melihat langit yang mulai mendung akibat tertutup awan hitam.


Sari mengangguk lalu mereka semua pun pergi dari pemakaman itu, sepanjang langkah kaki mereka selalu memanjatkan doa untuk Nathali, agar dia bahagia di kehidupan selanjutnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2