Pembalasan Cinta Sari

Pembalasan Cinta Sari
Masalalu 2


__ADS_3

Nathali yang baru saja keluar dari kamar mandi mendengar suara orang mengancam.


Posisi kamar mandi ada di luar rumah tepatnya di halaman belakang. Karena kamar mandi memang terpisah dengan rumah kecil itu.


Dia mengendap endap untuk mengetahui situasi yang sebenarnya, dia mendengar Teguh diancam oleh orang yang entah siapa.


Bagaimana bisa ada musuh yang mengetahui keberadaanku? sekarang aku harus hati hati, prioritas pertamaku adalah keselamatan Teguh.


”Dimana perempuan yang tinggal disini jawab.” bentak pria itu.


”Perempuan mana? saya tidak tahu.” jawab Teguh pura pura polos.


”Sepertinya kamu memang bosan hidup, baiklah aku akan melenyapkanmu.” ancam pria itu.


Nathali diam diam masuk dan muncul dari belakang pria yang menodongkan pistol itu, Dia memukul tengkuk pria itu sehingga pria itu jatuh tersungkur dan pinsan.


”Kau tidak apa apa?” tanya Nathali.


”Kenapa kamu muncul, disini bahaya. Pria ini mencarimu, bagaimana kalau di sekitar sini ada rekan rekannya.” jawab Teguh khawatir.


”Kalau aku pergi, kau pasti sudah mati.”


”Aku punya strategi agar aku tidak mati.”


”Strategi apa?”


”Ii tuuu..” Teguh bingung harus menjawab apa karena sebenarnya dia memang tidak punya strategi apapun.


Nathali membuka topeng pria itu, ternyata pria itu adalah John rekannya juga.


”John?” gumam Nathali.


”Kamu kenal dia?”


”Ya dia rekanku.” jawab Nathali.


Nathali hendak memindahkan John ke sofa namun di halangi oleh Teguh.


”Lepaskan tanganmu dari pria itu.” ucap Teguh.


”Aku mau memindahkannya ke sofa.”


”Biar aku saja.”


”Memangnya kamu bisa?”


”Jangan meremehkanku.”


Teguh dengan mudahnya menggendong John lalu dia membaringkannya di sofa.


”Wah, kau kuat juga.” puji Nathali.


”Tentu saja, aku kan pria sejati.” jawab Teguh dengan bangga.


”Ya ya ya.”


Nathali berjalan keluar rumah kemudian Teguh mengikutinya di belakang.


”Kamu mau kemana?”


”Ke halaman belakang.”


”Mau apa?”

__ADS_1


”Mencari sayuran dan buah yang bisa dimakan. Disini tidak ada apapun selain hutan karena ini ada di pinggir kota.”


”Pantas saja rumahnya kecil.”


”Maka dari itu lebih baik kamu pulang, aku juga tidak lama tinggal disini, ini hanya salah satu tempat persembunyianku.”


”Tidak mau.”


Mereka mengobrol sampai akhirnya sampai di pekarangan yang bisa disebut kebun karena ditanami aturan dengan sangat baik.


”Hey ini kebun siapa? apa tidak apa apa kita mengambil sayuran disini.”


”Tidak masalah karena aku yang menanamnya beberapa bulan lalu. Setiap datang kesini aku selalu menanam sayuran agar saat aku datang semua sudah siap panen.”


”Kau serba bisa ya.”


”Udah jangan banyak omong, bantu aku memanen sayuran ini.”


Mereka memanen sayuran seperti wortel, kol, kentang, bawang dan juga cabe serta beberapa labu.


”Sudah cukup, ini bisa untuk makan malam.” ucap Nathali.


”Sini biar aku yang bawa semua.”


”Kau bawa pulang dulu semuanya, aku mau berburu dulu. Siapa tahu aku dapat seekor burung atau mungkin rusa.” ucap Nathali.


”Aku ikut.”


”Nanti kamu repot karena harus membawa sayuran itu.”


”Pokoknya aku ikut.”


”Yaudahlah terserah kamu saja.”


Kemampuan Nathali memang tidak diragukan lagi, rusa yang sedang berlari dengan cepatnya saja bisa dia lumpuhkan dalam sekali tembak.


”Sini sayurannya, kamu bawa rusa itu.” perintah Nathali.


”Kau kan pria sejati.” sindir Nathali.


”Cih.”


Teguh membawa rusa itu dengan sempoyongan karena rusa itu lumayan berat.


Akhirnya mereka sampai di rumah, kemudian Nathali menyuruh Teguh untuk memotong rusa itu menjadi beberapa bagian agar untuk dijadikan sup dan di panggang. Sedangkan Nathali membersihkan sayuran dan memotong motong agar bisa dibuat sup.


Saat mereka sedang sibuk mempersiapkan makan malam, John terbangun. Dia panik karena pingsan oleh seseorang yang memukul tengkuknya.


Dia mendengar ada suara di dapur, dia mencari pistolnya namun tidak menemukannya akhirnya dia melihat vas yang ada di meja dan membawanya untuk alat perlindungan diri.


Dia mendekati dapur dengan mengendap endap kemudian mengangkat vas tinggi tinggi untuk menyergap seseorang yang ada di dapur, saat hendak menyerang ternyata yang dia lihat adalah Nathali. Sontak dia menjatuhkan vas itu kemudian berjalan ke arah Nathali sambil memutar mutar tubuh Nathali.


”Nathali, kamu gapapa?”


”Gapapa, udah lepas.” omel Nathali.


”Syukurlah, tadi aku menemukan pria di dalam rumahmu. Apa pria itu sudah kau habisi.”


”Dia tamu ku bukan musuh.”


”Sejak kapan kamu menerima tamu.”


”Sudahlah, kau ke belakang sana bantuin tamu ku yang sedang memotong daging rusa.”

__ADS_1


”Aku malas, aku mau membantumu disini saja.”


”Cepat sana, atau kau mau ku pukul lagi sampai pingsan?” ancam Nathali sambil memelototinya.


”Jadi kau yang memukulku? tega sekali.”


”Aku mana tahu kalau itu kau, sudahlah sana bantu potong dagingnya.”


John berjalan ke halaman belakang dan mendekati Teguh.


”Hei, sini biar aku aja.” ucap John.


”Nih.” Teguh memberikan pisaunya kemudian dia berdiri dengan membawa beberapa daging yang sudah di potong kecil.


”Hey mau kemana kamu.”


”Membersihkan daging ini.” jawab Teguh kemudian masuk ke dalam rumah.


”Sial, kenapa jadi aku yang mengerjakan ini semua.” gerutu John.


Teguh mencuci daging yang sudah di potong itu di wastafel dapur, sehingga dia berada berdua dengan Nathali yang sedang memasak sup.


”Ini daging untuk sup nya, ada yang bisa aku bantu lagi?” ucap Teguh sambil memberikan daging yang telah dicuci bersih.


”Kau bantu John saja.”


”Katanya dia mau kerjakan sendiri, makanya aku diusir kesini.” jawab Teguh berbohong, sebenarnya dia memang ingin berduaan dengan Nathali.


”Dasar anak itu. Yaudh kamu potongan bawang merah ini ya, lalu kamu goreng dan tiriskan. Apa kamu bisa?”


”Gampang itu mah.”


Nathali telah selesai mempersiapkan semua bahan dan mulai memasak sedangkan Teguh masih sibuk memotong bawang merah.


Akhirnya sup yang dibuat Nathali selesai, nasi pun sudah matang sejak tadi. Sedangkan Teguh masih sibuk memotong bawang merah karena daritadi bawang yang dia goreng selalu gosong. John telah menyelesaikan pekerjaannya dan memilih menunggu masakan siap.


”Sudahlah kita makan ini saja tidak usah ditaburi bawang goreng. Bawa nasinya ke meja makan, John juga sudah menunggu di meja makan.” perintah Nathali.


Nathali membawa sup sedangkan Teguh membawa nasinya, mereka bertiga akhirnya makan bersama.


Setelah selesai makan, John memili untuk mandi sedangkan Nathali membersihkan peralatan makan dibantu oleh Teguh.


”Nat, kamu ikut aku saja ke Indonesia yuk. Keluargaku akan membiayai kebutuhanmu lalu setelah cukup umur kamu bisa bekerja di perusahaan keluargaku. Disana aman.” ucap Teguh.


”Aku tidak bisa.”


”Kenapa tidak bisa? disini sangat berbahaya, kamu harus hidup penuh waspada karena musuh bisa tiba tiba menyerang.”


”Tapi aku tidak bisa.”


”Ayolah Nat, apa kamu tidak mempercayaiku?”


Nathali bukannya tidak mempercayai Teguh hanya saja dia terikat kontrak seumur hidup sehingga dia tidak bisa keluar dari pekerjaan ini.


Dia malas menjelaskan panjang lebar, sehingga dia menyuruh Teguh untuk kembali ke tempat tinggalnya dan jangan mencarinya lagi.


Teguh begitu kecewa atas sikap Nathali, kenapa dia tidak mau hidup tenang dan memilih hidup seperti itu? dia bahkan tidak menjelaskan apapun dan mengirim Teguh pergi dengan diantar oleh John.


Nathali sama sekali tidak perduli tentang ke khawatiran Teguh. Bahkan saat mengusir Teguh pun dia sama sekali tidak gentar dan dengan tega mengatakan hal hal menyakitkan.


”Kau akan diantar John pulang hari ini juga, jangan pernah mengingat bahwa kita pernah bertemu, kalau aku tahu kamu begitu menyusahkan lebih baik aku tidak menolongmu. Aku menyesal.”


Kata itulah yang terakhir kali diucapkan Nathali, walau sebenarnya Nathali juga tidak ingin mengatakan itu, namun dia sendiri tidak punya pilihan lain karena dia tidak ingin Teguh terseret dalam masalahnya yang berbahaya. Lagipula dia baru mengenal Teguh jadi dia yakin mereka akan saling melupakan kebersamaan mereka yang singkat itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2