Pendosa Yang Merindukan Syurga

Pendosa Yang Merindukan Syurga
Hal yang tak terduga


__ADS_3

" Berhenti Meneriaki ku. Ada hal penting yang harus aku tanyakan kepada kekasihmu ini "


" Dan mungkin juga gadis kecilku "


" Kalung mu "


" Ada apa dengan kalungku " sahut Lolita meraba kalung yang terpasang di Lehernya.


" Darimana kau mendapatkannya " tanya Devan dengan Serius.


Mendengar pertanyaan seperti itu Lolita hanya bisa mengernyitkan alis sejujurnya Ia malas membahas masalah ini.


" Darimana aku mendapatkannya itu tidak penting. Jangan menanyakan Sesuatu hal yang dapat membuatku membenci seseorang " Ungkap Lolita beranjak pergi


" Aku hanya ingin tau karna pemilik kalung sangat berarti untukku " Ucap Devan menghentikan langkah kaki Lolita


" Tidak ada orang lain selain aku pemilik kalung ini. Dari kecil kalung ini sudah melekat di leherku " Sahut Lolita


Deg


Jantung Devan berdetak dengan kencang


" Tapi kenapa waktu pertama kali ketemu kalung itu tidak ada "


" Karna aku melepasnya "


" Apa kau tau asal usul kalung itu "


" Tidak. Tapi ibu panti bilang kalung ini ada di leherku dari kecil termasuk saat di temukan di depan gerbang panti asuhan " jelas Lolita suaranya mulai berubah Serak serta tatapan matanya yg tidak seperti biasa.


Deg


" Tatapan itu...penuh kesedihan kekecewaan dan kebencian " Batin Devan dan Zein yang tertegun melihat tatapan mata Lolita


" Dan kau tidak mencari tau " kata Devan dengan Nada tinggi


" Untuk apa. Aku tau mungkin ini peninggalan Orang tua kandung ku " Ucap Lolita menatap Devan


" Kenapa kau tidak mencari mereka " ucap Pelan Devan menatap Lolita dengan semakin Rumit

__ADS_1


" Aku bilang untuk apa. Untuk apa aku mencari mereka yang mungkin hidup bahagia dengan Anak mereka yang lainnya tanpa memikirkan aku yang telah mereka buang. Itu akan membuatku tambah Sakit dan Semakin membuatku membenci mereka. Jika tidak ingin merawat kenapa harus menghadirkan aku, mengapa harus melahirkan ku jika pada akhirnya aku di buang. Aku tidak meminta untuk di Lahirkan ke dunia ini, jikapun aku bisa memilih orang tua Aku juga tidak ingin di Lahirkan Oleh orang yang tidak bisa menjaga sebagian dari dirinya sendiri " ungkap Lolita dengan suara Serak menahan tangis.


" Hidup Tanpa Orang tua itu bagaikan Berlayar Namun buta akan arah. Kau hanya berharap pada angin yang mungkin bisa membawaku pada sebuah Keberuntungan seperti itulah hidup masa masih kecilku, Terombang-ambing Tanpa arah dan tujuan yang jelas. Bullyan Caci maki dan Hinaan tiga hal yang bagaikan Ombak, badai, dan Hujan di tengah Lautan yang luas tanpa ada yang bisa menolong mu, kau hanya bisa bertahan dan bertahan. Kalian hidup Enak lahir dari sendok emas tidak sepertiku yang bahkan harus berjuang dengan keras untuk mendapatkan sepotong Roti " Lanjut Lolita dengan sedih mengingat masa kanak-kanaknya yang cukup tragis.


Deg


Jantung Devan dan Zein bagai di remas dan di tusuk-tusuk Mendengar penuturan Lolita yang cukup menohok hati.


" Sesulit itukah kau hidup " Batin Devan menatap Nanar Lolita


" Kau dan kau, kalian dua orang yang terlahir dari keluarga kaya tidak akan pernah bisa merasakan apa yang aku rasakan ataupun orang yang berkasta rendah seperti kami " ucap Lolita menunjuk Devan dan Zein bergantian


" Baby " panggil Lembut Zein berjalan ke arah Lolita, Namun Lolita mengangkat tangannya tanda berhenti


" Berhenti disitu. Dan hilangkan tatapan kalian seperti itu terhadapku. Karna aku tidak butuh rasa kasihan kalian, Biarlah kisah ku menjadi kisah ku " Kata Lolita lalu membalikkan badannya berjalan keluar dengan Cepat.


Selepas Kepergian Lolita baik Zein maupun Devan hanya terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.


" Apa sebenarnya maksudmu Van...." Tanya Zein dengan Dingin


" Aa...aku....aa..aku "


" Kau membuatnya sakit kau tau itu. Aku berusaha membuatnya selalu tersenyum tapi kau malah membuatnya Menangis....."


Bugh


Karna Emosi Zein sampai memberi Bogem mentah kepada Devan.


" Terus aku harus apa haaaa..... Aku juga merindukannya hiks " jawab Devan dengan Frustasi


" Apa maksudmu " tanya Zein serius menatap Devan yang sedang menangis


" Aku juga merindukannya Ze. Aku rindu dia hiks. Gadis kecil yang selalu ku ajak bermain sewaktu kecil hiks, gadis kecil yang selalu ku hiks rindukan tangisannya, gadis kecil yang selalu menempel padaku. Aku merindukan semua itu Ze hiks " ungkap Devan di iringi dengan Isak tangis


" Apa maksudmu Sialan...kau mau merebutnya dariku Haa... " Zein semakin Emosi mendengar pernyataan Devan. Jangan sampai mereka sepasang kekasih waktu cilik pikir Zein Cemburu


" Tapi dia juga milikku Ze " Sahut Devan


Bugh

__ADS_1


" Sialan. Rupanya kau ingin merebutnya dariku. Itu tidak akan pernah terjadi Bung tidak akan pernah "


Sekali lagi Zein memukul Devan. Ia sudah emosi di tambah lagi Cemburu makin Mengamuk Sih Singa liar


Bugh


Kali ini Devan tidak tinggal diam. Ia juga membalas pukulan Zein


" Sebelum kau nikahi dia Maka dia masih milikku Sialan " kata Devan


" Apa sebenarnya Mau mu Haa.. Bukannya kau tidak menyukainya bahkan kau terkesan Cuek sama dia tapi kenapa kau bilang dia milikmu Haa.." Ujar Zein dengan Nada tinggi


" Itu karna aku tidak tau jika dia adalah Princess kecilku " jawab Devan Santai


" Apa-apaan panggilan itu. " Ledek Zein walau dalam hati Cemburunya sudah berkobar-kobar


" Kenapa Dia memang princess ku. Princess dari seorang DEVANDO ALEXANDER "


" Berhenti memanggilnya seperti itu. Dia adalah milikku bukan milikmu atau princess mu ingat itu " Ucap Zein menekankan kepada Devan bahwa Lolita adalah Wanitanya, miliknya


" Tidak. Dia juga milikku karna..."


" Tidak akan " Kata Zein beranjak mendekat ke arah Devan


" Kenapa tidak. Dia itu adikku Ze..."


" APA...." Teriak Zein menatap Devan meminta jawaban kembali


" Yah dia adikku, Princess ku, Gadis kecilku yang pemberani " ungkap Devan dengan bahagia tapi matanya menunjukan kebahagiaan dan kesedihan


" Kau tahu aku selalu mencarinya tanpa henti bahkan ketika orang tuaku berhenti dan putus asa aku terus berusaha mencarinya. Aku bahagia karna sekarang ia sudah ku temui dan tumbuh menjadi wanita cantik " Ungkap Devan


" Kenapa kau tidak bilang padanya " ucap Zein


" Aku takut, Aku takut di benci Olehnya. Aku bahagia sekaligus Sedih, Andaikan aku cepat menemukan dia mungkin masa lalunya tidak akan seperti ini, dia tidak perlu bersusah paya mencari makan sepotong Roti seperti perkataannya tadi, Apalagi... apalagi ia harus terjun di dunia Malam itu " Suara Devan rasanya tercekat di tenggorokan


" Harusnya dia hidup bahagia, harusnya hidup Kanak-kanak-nya Ia habiskan untuk bermain bukan untuk mencari makan. Bagaimana jika diam membenci kami, Bagaimana jika ia membenciku karna mengira kami membuangnya. Aku harus bagaimana Ze, ingin sekali aku memeluknya dan mengatakan dengan bangga aku kakaknya tapi... Seluruh keberanian ku Hilang saat mendengar penderitaan yang dia lalui Bagaimana aku bisa mengembalikan masa kanak-kanaknya yang penuh penderitaan menjadi penuh warna. " Curhat Devan. Ia mencurahkan semua isi hatinya kepada sahabatnya.


" Katakan saja. Aku yakin Dia akan dapat memahami semuanya. Lolita hanya butuh Waktu untuk menenangkan hati dan pikirannya. Setelah tenang kau katakanlah Bukankah kau merindukan Dia apalagi Orang tuamu pasti sangat merindukan Dia juga" kata Zein bijak

__ADS_1


" Yah kamu benar. Aku harus mengatakannya percaya atau tidak itu terserah Loli " jawab Devan dengan mantap.


__ADS_2