
" Anak itu bikin jantungan saja " Umi hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengelus dada melihat kelakuan Zein yang berbeda dari biasanya
Renata lalu merapikan tempat tidur Zein setelah selesai Renata lalu beranjak keluar dari kamar Zein.
Beberapa menit kemudian Zein keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk di pinggangnya dan memegang handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya. Zein langsung menuju Walk in close untuk mencari pakaian.
Dengan tergesa-gesa Zein memakai pakaiannya bahkan dasinya pun miring. Setelah selesai Zein langsung berlari keluar dari kamar
Tak
Tak
Tak
" Sayang sarapan dulu " Ucap Renata menghentikan lari Zein
" Umi.. Zein berangkat dulu mau jenguk Ara " pamit Zein mencium kening dan punggung tangan Renata lalu berlari keluar dari mension
" Cih hanya karna pelacur itu Cucuku sampai tidak sarapan " Kata Bryant Sinis
" Jangan menghina orang lain Nyatanya Kakek bahkan lebih bejat dan kotor darinya " Sahut Karina
" Karina kau menyindir kakek ha...."
" Itu memang kenyataannya jika Kakek Lupa bahkan sampai memperkosa wanita lain sampai menghasilkan anak haram. " Kata Karina pedas beranjak pergi meninggalkan sarapannya yang bahkan belum setengah ia habiskan
" Karin sarapan mu bum habis " Kata Renata menghentikan langkah Karina
" Nggak nafsu makan bersama orang yang sok suci " ucap Karina melanjutkan langkahnya
Tak
Bryant meletakkan sendok di atas meja dengan kasar lalu beranjak berdiri meninggalkan meja makan. Melihat itu Samantha hanya diam jika biasanya dia akan mengikuti apa yang di lakukan oleh Bryant tapi kali ini tidak hatinya terlalu sakit bila mengingat Penghianatan yang di sembunyikan suaminya selama puluhan tahun
" Rena ayo duduk kita sarapan jangan pedulikan dia " kata Samantha mengajak menantunya untuk makan.
__ADS_1
Dengan hati yang tidak enak Rena akhirnya duduk lalu memulai sarapan mereka dalam keheningan padahal biasanya meja makan ini akan selalu di hiasi oleh celoteh si bungsu yaitu Karina tapi sekarang semua sudah berubah saat sebuah rahasia itu terbongkar
Sedangkan di tempat Lain Zein dengan kesal menekan klason mobilnya dengan kencang dan berulang kali.
" Sial ada apa sebenarnya kenapa perasaan aku tidak enak seperti ini. kenapa aku merasakan Ara sudah pergi jauh meninggalkan aku dan kenapa Devan bahkan Egi kenapa nomor mereka berdua tidak aktif di waktu genting seperti ini " Gerutu Zein menatap sekelilingnya yang dimana mereka terjebak macet parah.
" Sial sial Sial seharusnya aku bangun lebih cepat jadi tidak akan terjebak macet seperti ini "
" Ara sayang ku harap kau masih disana menunggu ku. kau tidak boleh pergi meninggalkan ku saat kau sudah berhasil memenuhi seluruh rongga hati ku "
Zein hanya bisa berdoa dalam hati semoga tidak terjadi apa-apa kepada wanita yang di cintainya itu
" DEVAN......ayo bangun " Egi yang kesal pun menarik Kaki Devan hingga Devan terjatuh dari tempat tidur
Bruk
Awwwww
" Siapa sih "
" cepat bangun ini sudah pagi. Kamu lupa kita akan menghadapi singa yang akan mengamuk " Kata Egi kepada Devan
" Sana mandi habis itu turun sarapan " kata Egi ketua lalu beranjak keluar meninggalkan Devan yang masih terus mengomel
" Cih dasar sepupu somplak gak ada ahlak bikin kesal saja " Gerutu Devan berdiri lalu masuk ke dalam kamar mandi
Sedangkan di tempat lain. Zein baru saja sampai di rumah sakit setelah berkendara selama 1 jam karna terjebak macet
BRAKK
" Sial perasaan ku semakin tidak enak ada apa ini " Kata Zein berlari masuk di lorong rumah sakit menuju Ruangan Lolita
hah hah hah
Ceklek
__ADS_1
" Sayang.. ."
Kedua mata Zein langsung melotot saat melihat Ranjang yang biasa di pake Lolita kosong
" Sayang..."
" Ara..."
Zein terus memanggil Nama Ara dan mencari ke seluruh ruangan seperti kamar mandi
" Dimana kamu sayang....." Guman Zein menarik kasar rambutnya
" DOKTER......." Teriak Zein menggelegar di seluruh Ruangan sampai ke lorong Rumah sakit
Tak
tak
tak
Ceklek
" Iya tuan ada yang bisa saya bantu " kata Seorang dokter pria terengah-engah karna berlari dari ruangan sebelah ke ruangan ini
Sret
" dimana wanitaku. dimana Wanita yang menempati ruangan ini " tanya Zein menarik kerah jas dan menatap tajam dokter itu
" Ma...maaf tu...tuan no...nona yang mene..mpati kamar ini...su...sudah di ba...bawah pulang " jawab Dokter itu terbata-bata karna takut akan kemarahan Zein
" Pulang... Kapan.....kapan di bawah pulang "
" Tadi malam Tuan "
" apa dia sudah sadar. apa wanita itu sudah sadar "
__ADS_1
" belum tuan. Nona itu masih belum Sadar "
Deg