Pendosa Yang Merindukan Syurga

Pendosa Yang Merindukan Syurga
Perdebatan


__ADS_3

" Selain Koma Angel juga Akan mengalami Hilang Ingatan "


Deg


" Ti...tidak ka...kamu pa.. pasti bercanda putriku..Putri...ku " Isma tidak bisa melanjutkan lagi perkataannya.


Isma menutup mulutnya dengan tangannya dengan air mata yang bercucuran. Isma tidak ingin percaya tapi melihat mata Alzen penuh kejujuran membuat dunianya Runtuh seketika.putri yang dia harapkan, putri yang belum genap 1 bulan satu atap dengannya kini Ia melupakan mereka lagi.


" Dan......" jeda Alzen lagi menatap pasangan paruh baya di depannya dengan pandangan datar tapi percayalah terjadi pergolakan batin di dalam hatinya


" Dan walau dia mengingat kalian kemungkinan besar Lolita akan Trauma jadi untuk menghindari itu aku akan membawanya pergi untuk sementara waktu jika kalian ingin menjenguknya Hubungi Nomor ini " Kata Alzen menyerahkan kartu Namanya lengkap dengan nomor ponselnya.


" Tapi aku minta jangan berikan nomor itu kepada Zein jika itu sampai terjadi kalian tidak akan pernah lagi bisa menemukan Angel Ingat itu " Ucap Alzen memberi peringatan kepada Arka dan Isma lalu beranjak pergi meninggalkan Arka dan Isma yang mematung


" Mas bagaimana hiks hiks Putriku hiks Putri kita mas...." kata Isma dengan Air mata yang tidak berhenti jatuh


" Kita ikuti saja apa kata Anak itu jika di pikir-pikir akan ada kemungkinan memang Ara akan Trauma karna akibat kejadian memalukan itu sedangkan aku sebagai ayah tidak bisa sedikit pun bisa membantu dirinya " Lirih Arka


" Sudah semua akan baik-baik saja " Lanjut Arka merengkuh Tubuh istrinya yang sudah bergetar karna menangis

__ADS_1


" kita masuk ke dalam yah udara malam tidak baik untuk kesehatan " Ucap Arka memapah istrinya masuk ke dalam Rumah sakit kembali


Ceklek


" Bang..."


" Kenapa kau membiarkan dia mendekati Angel ha...." Kata Alzen penuh penekanan menatap tajam Ke arah Zein yang sedang menggenggam tangan Lolita


" Maaf Bang..." Lirih Arnold menundukkan kepala


Alzen hanya Diam dan berjalan mendekati Zein sampai di depan Zein


BRUK


" Menjauh dari Angel ku karna semua ini karna mu. saya sudah memperingati kamu lewat surat yang saya kirim namun kamu hanya diam " Alzen mendorong Zein hingga terjatuh di lantai


" Aku tidak diam. aku mencoba..."


" Nyatanya kau tetap tidak bisa menjaganya sudah beberapa kali aku ingatkan orang itu adalah orang terdekat mu tapi kamu hanya Acuh. Sekarang lihat karna kebodohan mu dan kebodohan kalian semua Angel bisa seperti ini " Kata Alzen dengan menahan emosi

__ADS_1


Andaikan orang yang berada di hadapannya saat ini bukan keturunan Akbar sudah ia pastikan akan membuat orang itu masuk rumah sakit


" Lalu jika kalian tau kenapa malah diam ha....kenapa tidak mencegah itu terjadi " Teriak Devan dengan emosi yang meledak-ledak


" Karna kami ingin memberi kalian kesempatan untuk membuktikan jika kalian bisa menjaga Angel tapi ternyata sangat mengecewakan " Bukan Alzen yang menjawab pertanyaan Devan melainkan Arnold


" Kalian ingin tahu apa yang terjadi bila kami muncul langsung di depannya " Tanya Arnold menatap mereka bertiga yang berdiri mematung


" Kalian pikir Angel masih ada bersama kalian saat itu? Tidak!! kami akan langsung membawanya pergi " lanjut Arnold menatap Sinis ke arah Zein Devan dan Egi


" Bahkan si ulat keket itu beberapa kali berusaha untuk menyakiti Angel tapi selalu kami gagalkan. Begitu yang kamu maksud menjaganya....." Sindir Arnold


Sedangkan Zein Devan dan Egi mereka bertiga tertegun lalu menatap lekat Arnold namun Arnold tidak seperti orang bercanda dan matanya juga memancarkan kejujuran yang berarti apa yang dia katakan itu adalah kebenarannya.


" Sial..... bagaimana bisa aku lengah seperti ini. Sayang maafkan aku " kata Zein dalam hati Merutuki kebodohannya


" Dan kamu......aku tidak akan membiarkan kamu membawa Angel lagi sudah cukup bagi keluarga Brengsek mu itu membuat Angel ku permata ku terlalu tidak ada lain kali atau kedepannya TIDAK AKAN " kata Alzen penuh penekanan menatap tajam ke arah Zein begitu pula Zein yang membalas tatapan tajam Alzen


Deg

__ADS_1


__ADS_2