
Zein Di ikuti Devan dan Egi segara keluar dari mension Orang tua. Mereka mulai mencari dari beberapa Rumah sakit besar namun hasilnya nihil membuat Zein Frustasi mencari keberadaan Ara.
Gari terus berlalu Tidak di sangka kepergian Lolita sudah 1 Minggu berlalu sedangkan keadaan Zein bisa di bilang Ia begitu terpuruk karna kehilangan Lolita di hidupnya
" Sayang...." Renata yang kasian melihat keadaan putranya berjalan mendekati Zein yang sedang melamun di dekat jendela kamarnya
" Zein sampai kapan kamu akan seperti ini terus kamu harus bangkit sayang. Umi yakin Lolita pergi karna bukan Keinginannya kamu tau kan terakhir kamu bertemu dengannya dia sedang koma Nak. Umi yakin siapapun orang yang membawa Lolita pergi dia pasti punya tujuan yang baik bukan memisahkan kalian. kamu harus bangkit jika kamu memang mencintai dia bangkit dan buktikan kamu mampu untuk menunggunya " Kata Renata memberi semangat kepada Zein
" Kalau kamu seperti ini terus jatuh sakit apa menurutmu Lolita akan kembali? Tidak Nak dia tidak akan kembali. jadi ayo bangkit dan tunggu dia kembali Umi yakin kamu mampu menjaga hati untuknya " Lanjut Umi Renata
mendengar perkataan Uminya Zein mendongak dan melihat Renata dengan pandangan Sendu
" Bersabarlah akan ada waktunya kebahagiaan itu datang menjemput mu " Kata Renata memeluk Zein
Zein hanya diam menerima pelukan hangat Renata dalam diam dia menghirup aroma Uminya yang membuat dia tenang sama seperti bersama Lolita
" Zein akan bangkit Mi Zein akan buktikan jika cinta Zein tulus dan tidak main-main " Kata Zein penuh tekad dan Ambisi
Mendengar itu Renata Tersenyum. akhirnya putranya kembali seperti semula pikir Renata
__ADS_1
Zein segera melepaskan pelukannya dari Renata lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri yang entah sudah berapa hari ini ia tidak mandi
Beberapa menit kemudian Zein keluar dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk di pinggangnya lalu masuk ke walk in Close untuk mencari dan memakai pakaian miliknya.
Tak
tak
tak
Bunyi sepatu Zein menuruni tangga satu persatu menuju meja makan
" Kamu ingin ke kantor " Tanya Rayeen basa basi kepada Zein
" yah " jawab Zein Acuh mulai memakan makanan yang di ambilkan oleh Uminya. namun hanya 5 sendok lalu meletakkan Sendok di atas meja lalu beranjak berdiri
" Aku sudah selesai Umi. Zein berangkat dulu " Pamit Zein
" Assalamualaikum "
__ADS_1
" Walai'kum salam "
" Cih Cucuku sudah seperti budak wanita itu " Kata Bryant dengan sinis
" Berhentilah mengganggu kebahagiaan Putraku ku Ayah. ayah lupa kesalahan apa yang Ayah perbuat di masa lalu bahkan sangat memuakkan " Balas Rayeen menatap tajam ke Ayahnya.
Mendengar itu Bryant langsung terdiam. Ia tidak bisa membalas apa yang di Katakan Rayeen apalagi sekarang hubungannya dengan Samantha istrinya saat ini begitu hambar tidak seperti sebelumnya.
" Mas sudah. ayo lanjutkan makannya " Renata melerai perdebatan antara Ayah dan Anak itu.
" Ingin sekali aku memaki kakek yang telah membuat Umi dan Kak Zein menjadi seperti ini. semua ini berawal dari kakek " Batin Karina meremas sendok dengan keras
" Sayang ayo makan habiskan makananmu " Tegur Rena melihat Karina yang hanya diam menatap tajam Kakeknya
" Iya Mi ini juga mau makan " jawab Karina
Walau sekarang ia tahu Umi RENATA bukan Umi kandungnya Namun tidak ada yang berubah dari mereka berdua. baik Renata atau Karina saling menerima dengan ikhlas membuat Karina sangat bersyukur bisa memanggil wanita sehebat Renata sebagai Uminya.
Setelah beberapa menit kemudian mereka semua selesai sarapan langsung beranjak pergi
__ADS_1
" Pah aku ingin membicarakan sesuatu yang penting "