
Tidak ada yang tahu bahwa ketika Aiza masuk ke kamar mandi, dua orang pria menggotong tubuh Akhmar memasuki kamar tamu sesuai yang diperintahkan oleh Meta. Satu- satunya tujuan Meta memberikan obat tidur pada jus yang diminum Akhmar adalah supaya Akhmar ketiduran dan Aisha tidak bisa duduk berduaan dengan Akhmar. Siapa yang sangka jika kejadiannya malah seperti ini?
Bahkan saking ngantuk berat, Aiza sampai tidak menyadari bahwa sudah ada Akhmar yang duluan terbaring di kasur itu. Pandangan Aiza tidak fokus ke arah kasur ketika keluar dari kamar mandi. Matanya yang berat dan dalam keadaan setengah terpejam itu tertuju ke lantai sepanjang berjalan menuju kasur, lalu langsung ambruk begitu saja di kasur. Inilah yang menyebabkan kesalahpahaman terjadi.
“Trus trus? Aldan gimana?” tanya Nayla kepo abis.
“Termasuk Aldan juga menyaksikan semua itu. jadilah semua orang beranggapan bahwa gue dan Akhmar melakukan hal- hal yang hina.” Aiza malas sekali menceritakan itu.
“Selamat! Akhirnya lo nikah juga sama pujaan hati lo itu!” Nayla kembali emmeluk Aiza dengan girang.
“Uhuk uhuk! Nay, lepasin! Bisa mati gue. Lo meluk apa niat bunuh gue sih? Ini leher masih dipake.”
“Sory sory…” Nayla melepas pelukan. “Kelewat seneng, jadinya gini. Eh, tapi kalau Akhmar jadi duda, paling enggak gue siap ngegantiin elo.”
__ADS_1
“Parah lo!” Aiza menoyong kepala Nayla dan disambut dengan tawa nyengir oleh sahabatnya itu.
“Inilah saatnya gue merasakan dua rasa yang berbanding terbalik secara bersamaan. Iya, gue ngerasa bahagia dan bersedih di saat yang bersamaan. Gue bahagia bisa nikah sama Akhmar, tapi pernikahan ini terjadi di atas prasangka buruk semua orang, juga ada hati lain yang tersakiti atas pernikahan ini, gimana gue bisa seneng?” Aiza menopang dagunya sendiri.
“Sabar ya, Za. Ujian emang berat. Tapi lo yang dipilih menjalani ini semua, berarti lo adalah manusia pilihan.” Nayla mengelus lengan Aiza dan merangkulnya. Ia melirik kepada kelopak bunga yang bertaburan di atas kasur. “Eh, ngomong- ngomong, kelopak bunganya kok nggak berserakan ya? bukannya lo dan Akhmar udah melewati malam pertama?”
Aiza kembali membelalak. “Ya ampun Nayla, dari tadi pikiran lo tuh serem banget ya? Ngeres mulu.”
“Gue nggak sembarangan ngomong. Kalian udah titu titu kan? Tuh buktinya ada noda merah di alas kasur!” Nayla menunjuk noda merah pada bagian kasur yang tidak tertutup kelopak bunga.
Nayla menepuk jidat. Kirain.
***
__ADS_1
“Jadi… Sekarang mau bagaimana? Mau dibawa kemana rumah tanggamu itu?” tanya Ismail yang duduk menghadap bungsunya.
Malam itu Aiza dan kedua orang tuanya sedang berkumpul di ruang tamu. Mereka seperti sekelompok karyawan yang sedang mengadakan rapat.
Ini adalah hari pertama Aiza menyandang status istri Akhmar Adhyasta setelah kemarin dilangsungkan pernikahan. Rumah sudah rapi, sampah sudah diangkut. Semuanya kembali normal.
“Akhmar sampai sekarang pun nggak muncul. Kemana dia? Laki- laki nggak bertanggung jawab!” seru Ismail.
“Apa abah udah hubungi papa Adam? Mungkin papa Adam tahu dimana keberadaan Akhmar,” ucap Aiza yang tidak mau menyalahkan Akhmar meski hati kecilnya sangat ingin marah atas sikap suaminya itu. Pergi tanpa pamit.
“Adam sudah menelepon abah dan meminta maaf atas kejadian ini. Adam juga tidak tahu Akhmar ada di mana,” celetuk Ismail dengan wajah memerah padam.
Aiza kesal, namun dalam hati terus beristighfar, berusaha menenangkan hati. Ia terus saja memutar- mutar sendok yang baru saja dia ambil dari tempatnya. Inilah cara Aiza menenangkan diri. Istighfar sambil muter- muterin sendok. Terbukti hatinya lega setiap kali menatap sendok di tangannya itu berputar sempurna.
__ADS_1
Bersambung