Pengantin Aljabar

Pengantin Aljabar
Saran Umi


__ADS_3

“Jadi benar, umi minta cucu?” tanya Akhmar asal ceplos, membuat Aiza menoleh ke arah Akhmar dan memberi kode supaya Akhmar tidak asal jeplak dengan kedipan mata.


“Kalau soal cucu, umi nggak banyak nuntut.  Umi serahkan pada Allah kapan Dia akan memberi.  Tapi ini perkaranya adalah mengenai hak kalian yang seharusnya.  Jadi begini saja, mumpung abah kalian sedang sibuk ketemu sama kyai dari Jombang, mendingan kalian pergi ke vila, hotel atau apa saja untuk bersama- sama.  Toh, kana bah juga nggak akan tau kalian berduaan,” ucap Qanita.


“Umi, kenapa disuruh begitu sih?”  Muka Aiza memerah malu.


“Kalian sudah berstatus suami istri.  Sudah paham mengenai ini.  bahwa laki- laki pasti membutuhkan haknya untuk kepuasan batin.  Jangan sampai terjadi hal yang tidak- tidak akibat keinginan batinnya tidak terpenuhi.  Ini buruk,” ucap Qanita.


“Nggak usah keluar, Umi.  Di rumah saja kan juga bisa,” celetuk Akhmar dengan santainya.  Lagi- lagi pria itu bicara serileks itu, tanpa beban.


Plak!  


Tangan mungil Aiza menepuk lengan Akhmar.  Nyablak mulu dari tadi.


“Kok dipukul?” tanya Akhmar.


“Mendingan nggak usah ngomong deh.” Aiza manyun.


Akhmar kemudian berpikir.  Mungkin benar apa kata Qanita, bahwa ia harus mencari tempat di luar untuk bisa melakukan kegiatan paling enak itu.  Tidak ada yang tahu kapan Ismail datang.  Bila tiba- tiba Ismail datang disaat sedang nanggung, itu akan lebih berbahaya.  Ah, kenapa nggak kepikiran ke situ?  


“Ya sudah, lebih baik kalian cari waktu untuk bisa berdua.  Pergilah!” ucap Qanita memberi ide.

__ADS_1


Senengnya punya mertua pengertian begini. Dia memberi jalan keluar untuk bisa eya eya. 


"Cepat pergilah, sebelum abah kalian pulang!" Qanita menyuruh dengan terburu- buru. Tak ingin pasangan itu kehilangan kesempatan. 


"Makasih, umi. Umi tenang aja, aku pasti jagain Aiza. Doain cepet jadi ya, Umi." Akhmar mengulum senyum.


Qanita pun tersenyum.


Segera Akhmar menyetir mobil keluar rumah. Dan saat mobilnya melaju dua ratus meter meninggalkan rumah, tampak mobil Ismail masuk ke halaman rumah.


"Itu mobil abah baru aja masuk!" Aiza menoleh ke arah mobil yang baru saja masuk area rumah dari arah berlawanan.


"Kalau pun tau, abah kan juga nggak tau kalau sekarang ini ada aku di dalam mobilmu."


"Trus, kalau abah nelepon dan nanyain kamu ada dimana, maka kamu akan jawab apa?" tanya Akhmar.


"Jawab aja ke salon."


"Inilah maksud abah ngelarang kamu mengurus pekerjaan apa pun, supaya kamu menetap di rumah dan posisimu terpantau oleh abah. Setiap kali bepergian, kamu mesti laporan sama abah." Akhmar geleng- geleng kepala.


Oh... Aiza baru tahu itu. Ternyata Akhmar cermat juga membaca situasi. Aiza mengira kalau ia sedang dimanja dan diperlakukan seperti ratu semenjak menikah dengan dilarang melakukan pekerjaan apa saja, eh ternyata ada maksud lain dibalik sikap abahnya itu, yang kemungkinan tebakan Akhmar adalah benar.

__ADS_1


"Trus, ini beneran kamu mau cari waktu buat kita berduaan? Bukannya itu udah kita lakukan secara sembunyi- sembunyi sama seperti keinginan umi sekarang ini? Dan setidaknya umi nggak perlu merasa seperti dirong- rong dosa begini, soalnya keinginan umi itu udah kita lakukan, kenapa kita nggak tolak aja kemauan umi tadi y?" ucap Aiza.


"Jadi maunya kamu bagaimana?"


"Pulang aja yuk."


"Trus kamu akan bilang ke umi kalau sebenernya kita udah melakukan itu, begitu? Memangnya gimana cara kamu menyampaikan itu ke umi?"


Iya juga ya? Aiza pasti nggak punya kosa kata untuk menyampaikan hal itu. Kan malu mengakuinya. 


"Lagi pula, eya eya itu kan kebutuhan biologis, sama seperti makan. Yang dilakukan secara rutin. Eya eya juga gitu, nggak cukup hanya dilakukan sekali. Ini lagi butuh soalnya." Akhmar terkekeh.


"Hmm... Ini namanya nyati kesempatan."


"Mumpung dikasih kesempatan, kenapa enggak?"


Aiza hanya mengulum senyum.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2