
Merasakan sentuhan dingin di bibirnya, Aiza membuka mata. Eh, Akhmar menciumnya? Kok, jadi deg- degan begini?
Sayangnya Akhmar begitu cepat mengakhiri. Ada yang teraniaya di bawah sana akibat tidak tersalurkan.
“Mudah sekali membangunkan mu, istriku!” ucap Akhmar.
Aiza tersenyum kecil. Ia masih sangat mengantuk.
“Mau turun sendiri atau aku gendong?” tanya Akhmar.
“Jangan macam- macam. Ini di rumah. Kamu bisa digundul kalau ketahuan macem- macem.” Aiza bergegas turun dan masuk ke rumah mendahului Akhmar. Ia tidak bertemu sia[a- siapa hingga sampai ke dalam kamar. Syukurlah ia tidak bertemu dengan Ismail. Jika saja ia bertemu ismail, tentu abahnya itu akan banyak tanya. Bisa- bisa ada drama interogasi yang membuat Aiza salah menjawab dan malah rahasia yang baru saja diciptakan tadi akan terbongkar.
Sementara Akhmar melangkah menuju ke dapur untuk mengambil air mineral di kulkas. Ia haus sekali. Dan ia malah melihat pemandangan unik di ruang makan yang ia lintasi. Tampak Ismail duduk sendirian, satu tangan menopang kepalanya sendiri, matanya terpejam, terdengar dengkuran keras dari mulutnya.
Ismail pasti kengantukan gara- gara menunggu kepulangan Akhmar. Sebab dia bertugas untuk mengunci kamar Akhmar setiap malamnya, kalau ia lengah dan duluan tidur, maka ia tidak bisa mengunci kamar Akhmar. Itulah yang dinamakan menganiaya diri sendiri. Akhirnya tidak bisa tidur lelap di kamar, malah jadinya tidur di kursi dengan posisi yang tidak nyaman begitu.
Akhmar melewati Ismail dan menuju ke kulkas.
Kletek.
Sial! Kaleng yang diambil dari kulkas mesin pendingin malah menimbulkan suara. Akibatnya, Ismail terjaga.
“Maling edan!” teriaknya sambil mengangkat kepala tinggi- tinggi. Setengah sadar, ia mengedarkan pandangan. Dan mengucek mata saat melihat Akhmar berdiri di depan kulkas.
__ADS_1
“Jam segini baru pulang?”
“Ya.”
“Istrimu pun belum pulang. Apa kau tau itu?” ucap Ismail dengan setengah menghardik.
Plis, bisakah suara Ismail sedikit lebih bersahabat? Ia seperti sedang berbicara dengan musuh saja. Bawaannya emosi terus. Muka pun kelihatan seram.
“Boleh interupsi sebentar, abah? Itu ilernya melebar kemana- mana!” Akhmar bicara dengan sangat tenang.
Sontak Ismail mengambil tisu dan mengelap sekeliling mulutnya, tingkah itu membuat Akhmar mengulum senyum.
“Aiza tadi udah pulang. Katanya ketemuan sama sahabatnya makanya lambat pulang,” ucap Akhmar sambil meneguk minuman yang baru saja ia ambil.
“Oke, abah yang baik!” Akhmar meletakkan kaleng. Kemudian melenggang meninggalkan ruangan itu dan berjalan menuju ke kamarnya.
“Lain kali jangan pulang lewat dari jam Sembilan malam. Kalau kau melanggarnya, maka kau tidur di luar saja!” Ismail kemudian menutup pintu kamar dan menguncinya dari luar.
Akhmar malah tersenyum hingga barisan giginya yang rapi pun kelihatan. Mertuanya itu tidak tahu kalau ia sudah berhasil menjebol gawang yang sejak dulu dijaga dengan ketat oleh kipper.
***
Aiza membenamkan tubuhnya di bath tub. Ia keramas menggunakan air hangat. Sudah membaca doa untuk mandi wajib. Ia harus membersihkan diri karena tadi di hotel belum sempat melakukannya akibat terburu- buru kayak dikejar setan.
__ADS_1
Senyumnya mengembang mengenang kejadian di hotel, dimana akhmar dengan gagah perkasa melakukan aksinya sebagai lelaki. Pria itu mengagumkan, juga lembut dalam memperlakukan kegiatan di atas ranjang.
Aiza mengambil handuk dan melilitkannya ke tubuh. Handuk lain dia lilitkan ke rambut. Langkahnya gontai keluar dari kamar mandi.
“Hah?” Aiza terkejut melihat sesosok pria yang sudah berdiri di tengah- tengah ruangan. “Akhmar? Kamu kok di sini malam- malam begini? Ini jam berapa?” Aiza berbisik supaya suaranya tidak menimbulkan kegaduhan. Bahaya kalau sampai terdengar keluar. Di saat malam begini, suasana sangat sepi dan suara sekecil apa pun bisa terdengar. Bahkan suara dentang jam pun cukup terdengar keras.
Akhmar diam saja, menatap Aiza dengan intens. Pria itu lalu melangkah maju.
“Hei hei, aku baru saja selesai mandi.” Aiza berjalan mundur.
Akhmar tak peduli. Ia terus maju, membuat Aiza terus bergerak mundur, dan terhenti ketika pinggulnya membentur meja di belakang.
Kedua lengan kokoh Akhmar menapak di sisi kiri dan kanan tubuh Aiza. “Aku suamimu kan?” bisiknya.
“Siapa bilang satpamku?” balas Aiza yang juga berbisik.
Sudut bibir Akhmar tertarik. Ia mengangkat tubuh Aiza dan mendudukkannya ke meja. Mencium cukup lama kening istrinya.
Yang dikecup memejamkan mata, menikmati bertapa dingin bibir yang mendarat di keningnya itu. di posisi ini, Aiza merasa sangat bahagia sekali. Bahkan gelora cinta terasa membara. Ingin sesuatu yang lebih, dan lebih.
Bersambung
( update ini teruntuk NewEby yg udah setia memberi hadiah koin di cerita ini. Terharu. makasiiiih... )
__ADS_1