
Hari ini Aiza nyaris seperti ratu, tidak diperkenankan ngapa- ngapain oleh abahnya. Bahkan tidak diijinkan mengurus pembangunan pondok pesantren yang sedang dalam proses.
Ismail justru memerintah Akhmar yang menangani pembangunan itu, termasuk melarang Akhmar bekerja di tokonya sendiri.
Akhmar mentaati perintah mertuanya, ia pergi ke lokasi pembangunan pondok pesantren dengan menggunakan mobil yang diantar oleh Roni sesuai kemauannya.
Aiza keluar dari salon naik taksi dan langsung ke rumah makan. Ingin makan nasi padang. Sudah sekian lama lidahnya tidak merasakan masakan padang. Yang menjadi tujuannya sekarang adalah dendeng batakok. Ia menunggu Nayla, sayangnya Nayla tidak bisa datang. Biasalah, sahabatnyanitu disibukkan dengan urusan desain baju. Sambil menunggu makanan disajikan, Aiza berselancar dengan hape.
Di sisi lain, Akhmar menyudahi pekerjaannya di lokasi pembangunan pondok pesantren. Sore itu ia menyetir mobil menuju ke rumah. Satu tangannya menggerakkan setiran, tangan lainnya memegangi kaleng minuman yang sesekali ia teguk.
Sesampainya di rumah, Akhmar langsung masuk. Mendapati Aldan dan Adam yang tengah berbincang serius. Sejurus pandangan Aldan dan Adam langsung tertuju ke arah Akhmar saat melihat pria tampan itu melangkah mendekat.
__ADS_1
Akhmar dapat melihat dengan jelas ekspresi wajah Adam yang marah, juga ekspresi wajah Aldan yang sedih berbaur dengan kecewa.
"Mas Aldan, aku ke sini untuk menjelaskan semuanya!" ucap Akhmar. "Bahwa aku nggak bermaksud merebut Aiza darimu, dia dulu memang dekat denganku, kami sangat dekat sebagai guru dan murid mengaji. Tapi nggak ada sedikit pun niatku untuk mengambil dia darimu, apa lagi dengan cara seburuk itu."
Aldan memalingkan pamdangan, terlihat tidak mempercayai Akhmar.
"Mas Aldan, kejadian kemarin benar- benar di luar kendaliku. Aku nggak sadar kapan seseorang membawaku ke kamar itu dan menidurkanku di sana. Entah ini sebuah skandal, penjebakan, atau hanya kebetulan. Aku yang jelas akan menyelidiki kasus ini lebih lanjut," sambung Akhmar.
Akhmar terpaku mendengar perkataan itu. Di tengah perasaan terluka dan merasa dikhianati, Aldan masih bisa berbesar hati. Aldan sedang kesal dan kecewa pada Akhmar, tapi lihatlah apa yang dia katakan, betapa lapang hatinya.
"Aku nggak butuh kata- kata itu, Mas. Aku butuh kepercayaanmu. Untuk apa Mas ucapkan itu kalau saja Mas sendiri nggak percaya sama aku?" Akhmar ingin meyakinkan, tapi harus dengan cara apa. "Sudahlah, aku nggak akan banyak bicara lagi. Sebab aku tau Mas Aldan nggak akan pernah mempercayaiku hanya dengan sebatas omongan begini."
__ADS_1
"Kalau begitu carilah bukti untuk membuktikan bahwa ucapanmu itu benar!" tegas Adam dengan suara mengguntur. Sorot matanya horor. Tatapan dan nada suara itu sudah lama tidak Akhmar terima setelah kejadian terakhir ia diusir dari rumah, dan sekarang kembali terulang.
Akhmar hanya diam. Menahan sesuatu yang membara di dalam dada. Setiap kali papanya menunjukkan kemarahan, entah kenapa Akhmar merasa sangat murka. Namun ia berusaha untuk tetap diam tanpa membalas ucapan papanya, sebab jika ia bicara, maka yang keluar hanyalah kata- kata yang akan menyakitkan. Lebih baik diam. Akhmar sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi lebih baik, tidak seharusnya ia kembali memperlihatkan sikap buruk.
"Sudah! Pergilah!" Aldan memberi isyarat dengan anggukan kepala, tak ingin terjadi keributan lagi.
Inilah yang membuat Akhmar selalu merasa dipeluk oleh kakaknya.
Bersambung
Klik like dulu ya
__ADS_1