Pengantin Aljabar

Pengantin Aljabar
Penjelasan Akhmar


__ADS_3

Beberapa detik keduanya kembali diam, tanpa ada pembicaraan.


“Kamu pasti marah banget.  Aku nggak masalah kalau kamu mau menghukumku dengan cara apa pun.  Tapi ijinkan aku bicara!” ucap Akhmar setelah menjeda beberapa menit.  


Aiza masih diam membisu.


“Bukan maksudku menjadi pecundang dengan pergi begitu saja di pesta pernikahan kita.  Tapi aku memiliki Mas Aldan, dia adalah satu- satunya orang yang melindungi aku sejak kecil.  Hanya dia orang yang mengerti aku dari kecil.”  Akhmar kembali menghela napas.  Ia menatap wajah cantik yang menghadap ke arahnya itu.


Keduanya bersitatap dalam diam.

__ADS_1


“Dan saat Mas Aldan merasa bahagia, aku justru mengambil kebahagiaan itu.  Mas Aldan itu mencintai kamu, Za.  Dia sangat menginginkan kamu,” sambung Akhmar.  “Satu- satunya orang yang selama ini mengorbankan segalanya untukku, sekarang bahkan harus mengorbankan perasaannya juga untukku.”


Aiza menunduk, meresapi cerita yang disampaikan oleh Akhmar.


“Aku tahu Mas Aldan menangis.  Dan jujur aja aku nggak tega untuk duduk di kursi yang seharusnya dia duduki.  Oleh sebab itu aku menyingkirkan kursi itu karena aku merasa nggak pantas mendudukinya.  Dan jika aku harus menduduki kursi pelaminan milik Mas Aldan, aku nggak sanggup, Aiza.”  Akhmar kembali meneguk minumannya.  Tenggorokan terasa basah.


“Dengan mengorbankan aku?” lirih Aiza.


“Termasuk dengan mengabaikan perasaanku?”

__ADS_1


“Tentu kamu juga memahami perasaan Mas Aldan.  Aku pun yakin kamu nggak akan tega berbahagia di atas penderitaan Mas Aldan.  Setelah luka yang dialami Mas Aldan, apakah dia juga harus menyaksikan kita duduk bersanding berdua?  Aku hanya ingin menjaga perasaan Mas Aldan.  Sudah cukup banyak luka yang dia alami, jangan ditambah lagi.  Dan kamu?  Aku yakin kamu gadis hebat yang kuat.  Meski sendiri, kamu pasti sanggup menjalaninya.”


Dih… itu memuji atau sedang mengambil hati?


“Sekarang aku nggak tau bagaimana caranya menjalani rumah tangga ini di hadapan Mas Aldan.  Untungnya abah meminta aku supaya menetap di sini beberapa bulan.  Setidaknya aku nggak terlihat berduaan denganmu di hadapan Mas Aldan,” ucap Akhmar.


Aiza tersenyum getir.  “Iya, hati Mas Kamu itu memang perlu dijaga.  Teruslah pikirkan perasaan Mas kamu itu, dia mas- mu.  Aku nggak perlu merasa cemburu dan ingin dijaga seperti kamu menjaga perasaannya, sebab aku bisa menjaga perasananku sendiri.  Aku nggak akan pernah meminta pisah darimu, sebab aku tau itu dibenci oleh Allah.  Asiyah bisa bertahan dengan suaminya yang Firaun, lalu kenapa aku nggak bisa bertahan dengan suami sepertimu?  Kamu bukan Firaun bukan?  Makasih udah memberi banyak pengalaman berharga untukku.  Kamu mengajarkan aku menjadi wanita yang lebih kuat dengan memberiku ujian yang bertubi- tubi.”  Aiza menuruni gazebo.  Ia benar- benar sedang malas bicara.  Kepalanya pusing sekali, ditambah kena hujan, tambah pusing.


Akhmar mengawasi langkah Aiza yang teerlihat lincah.  Namun tangan wanita itu tampak jelas tengah mengusap air mata.

__ADS_1


“Aiza!” panggil Akhmar dengan suara keras.  “Aku sekuat tenaga berusaha untuk bersikap buruk padamu hanya karena ingin membuatmu membenciku, tapi ternyata sampai sekarang kamu masih bertahan.  Aku nggak berhasil membuatmu membenciku, sebaliknya aku pun nggak mungkin bisa membencimu.  Sebenarnya apa yang telah aku lakukan selama ini hanya untuk membuat kamu membenciku, Za.  Supaya kamu meninggalkan aku dan memilih Mas Aldan.  Tapi aku gagal.”  Akhmar melihat Aiza menghentikan langkah meski tidak menoleh.


Bersambung


__ADS_2