
“Haduuuh… Gue beneran kacau ini sekarang! Sumpah, gue patah semangat ;langsung ini. Ya udahlah, kalian pergi sana! Gue mau nangis!” Atep mengibaskan jarinya di hadapan matanya yang berkaca- kaca, memerah hendak menangis. Ia menghadap ke mobil, tepat membelakangi Aiza dan Akhmar.
Dih… patah hati begitu amat. Akhmar ingin tertawa namun ditahan. Tak tega juga melihat temannya merana.
“Lo nggak percaya kalau Aiza ini istri gue kan? Dan gue nggak mau lo terus- terusan tenggelam ke dalam harapan palsu. Makanya gue kasih tau ini ke lo supaya lo segera move on.” Akhmar menepuk pundak Atep. “Lo tadi sempet nge- chat Aiza, kan?”
“Nge- chat apaan? Gue nggak ada nge- chat apa pun ke Aiza.”
“Barusan. Gue tau itu lo. Lo bilang kalau lo sayang sama dia. Itulah sebabnya gue jelasin semua ini biar clear. Lo nggak mau kan larut ke dalam perasaan ini?” jelas Akhmar.
“Tunggu Akhmar, gue nggak pernah nge- chat Aiza hari ini.”
Akhmar mengernyit. Tak percaya dengan ucapan Atep, Akhmar menelepon nomer yang mengirimi Aiza pesan. Sayangnya nomer itu tidak aktif.
“Serius? Lo nggak ada kirim chat ke Aiza tadi pakai nomer baru?” tanya Akhmar penuh selidik.
“Enggak. Gue Cuma punya satu- satunya nomer dan nggak pernah ganti- ganti.”
__ADS_1
“Gue lihat lo tadi ada di hotel, makanya gue yakin lo lah pelakunya. Sebab nomer itu juga bilang kalau dia ngeliat Aiza ada di tempat yang sama.”
“Ooh… Gue tadi ke hotel buat nemuin rekan kerja. Lo nggak percaya sama gue?” tanya Atep.
“Bukannya nggak percaya, tapi gue Cuma nggak mau lo salah paham dengan semua ini sehingga lo jatuh terlalu dalam,” jawab Akhmar.
“Tapi seenggaknya lo nggak nuduh gue pelakunya. Beneran bukan gue orangnya. Ini artinya ada orang lain lagi yang ngincar Aiza.”
Akhmar menghela napas. Punya istri cantik memang bikin jantungan. Ditaksir banyak orang. dilirik banyak pria sat dibawa keluar. Hadeeeh…
Akhmar bertanya- tanya dalam hati. Bingung.
“Oke, gue percaya sama lo. Yang penting masalah ini sekarang udah jelas. Dan gue nggak mau ada kesalahpahaman lagi. sampaikan juga ini ke temen- temen yang lain supaya mereka nggak salah paham lagi,” ucap Akhmar!
Atep mengangguk. “Sory, gue sempet nggak percaya kalau lo udah nikah sama Aiza.” Ia menepuk lengan Akhmar, kini tampak lebih berlapang dada.
“Nah, gitu, dong! Jangan melempem, cowokkok cengeng Cuma gegara cinta. Nggak lucu. Hidung lo bisa kembang kempis kalau nangis.”
__ADS_1
Atep terkekeh pelan. “Ah, neggaklah, gue nggak nangis. Cuma baper aja. Bawaannya jadi pengen nyekik orang. ha haaa…”
Aiza ikut tertawa melihat persahabatan Akhmar dan Atep yang terlihat sangat kental. Berbeda jauh dengan interaksi yang terjalin saat beberapa tahun silam, mereka cenderung tampak lebih arogan, emosian, dan bersikap tak sopan.
“Maaf, aku udah bikin kamu jadi salah paham!” ucap Aiza lembut.
“No problem. Semuanya fine. Aku hanya butuh waktu untuk bisa move on dan melupakan ini.” Atep kembali mengibaskan jemarinya di depan mata yang lagi- lagi terlihat berkaca- kaca. “Ah, udahlah, kamu nggak usah ngomong sama aku. bawaannya jadi mau meloncat ini air di mata. Nggak sedeplah kalo gue mewek.” Atep menatap Akhmar lalu berkata, “Lo bawa Aiza pergi gih. Dia bini lo, jangan dipamerin di depan gue. Nggak kuat gue.”
Akhmar tersenyum simpul. “Ya udah, gue pergi”
Segera Akhmar dan Aiza memasuki mobil dan meninggalkan rumah Atep.
Sekarang yang menjadi pertanyaan Akhmar, siapa orang yang mengirimi chat kepada Aiza?
“Akhmar, ini ada chat lagi dari orang yang tadi! Nomer yang sama!” Aiza membelalak membaca chat yang baru saja masuk.
Bersambung
__ADS_1